Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Posts Tagged ‘Iron Man

Semua Pahlawan Super Memiliki Sisi Lunak

leave a comment »

Sebuah review Captain America: Civil War. Mengandung spoiler. Teruskan membaca dan ingat Anda telah diperingatkan.

Biasanya hal paling penting yang harus dimiiki seorang pahlawan super adalah jubah, kedok, keahlian bela diri memadai, serta – tentu saja – kekuatan super. Tetapi, semua pahlawan super juga biasanya memiliki kelemahan, seperti misalnya Superman terhadap batu hijau kryptonite.

Di dalam bentang jagat raya sinematik Marvel (MCU), tidak dikenal secara khusus kelemahan seperti itu. Tokoh pahlawan MCU selayaknya manusia biasa yang memiliki ambisi dan keinginan. Terkadang mereka pun berbeda pendapat, seperti yang tersaji pada logi terbaru Captain America: Civil War.

The Avengers terbelah. Di awal film diceritakan upaya para pahlawan super mencegah kejahatan malah berujung malapetaka yang memakan korban jiwa. PBB tak tinggal diam. Apalagi The Avengers dianggap ikut bertanggung jawab atas tragedi serupa di New York dan Washington DC. Dua kejadian itu diceritakan dalam The Avengers serta Captain America: The Winter Soldier.

Anggota PBB yang berjumlah 117 negara mendesak agar The Avengers menyetujui Perjanjian Sokovia. Isinya, harus dibentuk semacam Dewan Pengawas supaya The Avengers tidak bertindak sekehendak hati. Steve Rogers dan Tony Stark berbeda sikap. Sisa kawanan The Avengers – minus Hulk dan Thor – pun terpaksa memihak salah satu kubu.

565528cf83e51

Jika Anda pahlawan super, Anda harus memilih salah satu kubu.

Perbedaan sikap ini yang menjadi inti cerita Civil War. Film diramaikan dengan beberapa karakter yang sudah diperkenalkan MCU di sejumlah rantai film sebelumnya, seperti Vision, Wanda Maximoff, atau Ant-Man. Tambah ramai lagi dengan kemunculan karakter baru seperti Spider-Man (secara mengejutkan muncul dalam trailer terbaru film bulan lalu) dan Black Panther (alias Tony Stark-nya Wakanda, sebuah negara kerajaan di benua Afrika).

Selain mengangkat perbedaan dua protagonisnya, film juga mengetengahkan sisi lunak masing-masing karakter. Keduanya belum dapat melupakan masa lalu. Rogers dihantui oleh kehilangan James “Bucky” Barnes, sahabat yang menjadi penjahat super karena dicuci otak oleh Hydra. Sementara, Stark masih menderita trauma usai wafatnya kedua orangtuanya dalam sebuah “kecelakaan” mobil menuju bandara. Dua sisi halus ini pada akhirnya menjadi simpul penting dalam mencapai klimaks film.

Sebuah film pahlawan super tidak lengkap tanpa kehadiran penjahat super. Di Civil War, muncul Helmut Zemo yang diperankan oleh Daniel Bruhl (sekadar pengingat, Bruhl bermain total sebagai Niki Lauda dalam Rush). Hanya sedikit latar belakang yang dibagikan tentang Zemo, tapi yang jelas ada perbedaan penting dengan versi komik.

Kita akan dibiarkan menduga motif Zemo dalam melakukan kejahatannya. Petunjuk diberikan di tengah jalannya film, “Menyaksikan kejatuhan sebuah kejayaan”. Hadiahnya, penonton disuguhkan sebuah twist masif di bagian klimaks film.

56cb702b7cf7f

Ketika Steve dan Tony tak sepaham…

Oke, kita memasuki bagian di mana hendaknya saya memasang besar-besar tulisan PERINGATAN: WASPADA SPOILER. Tapi, saya tidak mau melakukannya. Ini kan sebuah review. Pembaca mestinya sudah sadar risiko ini sedari awal. Lagipula saya kan tidak telak-telak membeberkan isi detail cerita film.

Reaksi pertama yang saya dapatkan usai menonton adalah, “Setidaknya Zack Snyder (dan DC) punya nyali yang lebih besar dalam membunuh karakter pahlawan super top mereka di layar lebar”. Superman tewas, baik di film maupun di dalam komik. Tidak demikian halnya di sini.

Bukan hendak membandingkan dua jagat besar perkomikan dan sinematik dunia ini. Tetapi, pada umumnya, film-film MCU adalah crowd pleaser. Memuaskan penonton. MCU dijamin tidak akan memberikan penonton plot cerita yang berlapis-lapis. Mereka selalu setia dengan premis “Kebaikan akan menang melawan kejahatan” dengan suguhan warna-warni efek spesial CGI yang menawan.

Sebagai bonus, MCU selalu memberikan penonton end credit scenes. Awalnya hanya satu. Lama-kelamaan hal ini menjadi rahasia umum, MCU pun memberikan dua. Memuaskan penonton, bukan?

Pada umumnya, film-film MCU adalah crowd pleaser.

Kemudian, Civil War tidak memberikan saya jawaban yang memuaskan. Seharusnya Captain America dan Iron Man tidak perlu letih bertengkar, kenapa mereka tidak mengutus Vision untuk memprogram ulang Bucky sang Winter Soldier? Barangkali, jika sampai demikian, Civil War akan berubah menjadi film sci-fi macam Transcendence atau Source Code (atau malah jangan-jangan Eternal Sunshine Of The Spotless Mind?).

Saya juga tidak memiliki ekspektasi berlebih bahwa seharusnya Civil War mengeksplorasi kemungkinan itu. Ekspektasi saya sebatas menyelesaikan mata rantai MCU sejak Iron Man diluncurkan delapan tahun silam. Jujur, komitmen ini melelahkan. (Meski sekali waktu ekspektasi ini disegarkan berkat kemunculan Guardians Of The Galaxy)

Saya hanya membayangkan, bagaimana jika MCU merelakan salah satu karakternya dimatikan di akhir Civil War? Toh pada akhirnya Bucky memilih untuk dibekukan kembali di salah satu end credit scene. Di tingkatan yang lebih tinggi, bagaimana jika salah satu di antara Captain America atau Iron Man yang dimatikan? Toh Rogers tewas di versi komiknya.

Tapi, tidak ada “bagaimana jika” dalam MCU. Satu-satunya “bagaimana jika” barangkali adalah “Bagaimana jika penonton tidak puas dengan pilihan semacam itu?” Toh Agen Coulson yang meregang nyawa di The Avengers dihidupkan kembali di serial teve Agents of S.H.I.E.L.D.

Pada akhirnya kita mendapati sisi lunak MCU, yaitu selalu ingin memuaskan penonton. Betapa beruntungnya kita.