Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Archive for the ‘mengalami’ Category

Chiang Mai, Desember 2012

with 3 comments

Selamat datang di Chiang Mai!

Selamat datang di Chiang Mai!

Kamu sudah membagi sebagian hatimu begitu mendarat di bandara internasional Chiang Mai. Langitnya yang biru bersih memukai perhatianmu begitu lama. Sambil menunggu-nunggu taksi yang akan membawa ke penginapan, kamu sibuk mencari sudut terbaik untuk melukisnya dengan cahaya. Dalam sekejap, aku tahu kamu tidak mau hanya sebentar singgah di kota ini.

Chiang Mai sangat bertolak belakang dengan Bangkok yang baru saja 90 menit yang lalu kita tinggalkan. Suasana Bangkok yang hiruk pikuk dengan bangunan-bangunan tinggi menjulang ditambah jembatan layang lintasan keretanya langsung berganti dengan bentangan datar Chiang Mai yang tenang. Sejauh kita memandang, tidak tampak bangunan tinggi yang membatasi pesona langit sorenya yang cerah. Tidak ada ketergesa-gesaan khas kota besar seperti Bangkok meski orang-orang Chiang Mai menyembunyikan keramahan mereka dengan raut wajah yang datar.

Kamu tidak mau beranjak meninggalkan senja itu. Mungkin kamu ingin selamanya tinggal di senja cerah di Chiang Mai itu. Sebagai bentuk komprominya, kamu memindahkannya ke dalam ponsel yang selalu kamu bawa ke mana-mana.

Wat Chedi Luang, landmark utama Chiang Mai saat sunset

Wat Chedi Luang, landmark utama Chiang Mai saat sunset

Sama seperti senja yang spektakuler di Wat Chedi Luang. Setelah berlelah-lelah mengelilingi kota, siraman matahari senja yang membuat candi utama Chiang Mai itu bersinar keemasan. Kita berada di waktu yang tepat dan tempat yang luar biasa. Tidak seperti atraksi wisata lain, Wat Chedi Luang terasa lengang. Tidak banyak turis yang mengunjunginya sore itu sehingga atmosfir Chiang Mai yang tenang kian menyihir.

Night Bazaar 1

Keramaian baru terasa ketika malam menjelang. Kita memilih bersantap di kawasan pasar malam Anusarn. Sekali lagi, suasananya membuatmu betah berlama-lama di sini. Banyak pilihan santapan malam. Mulai dari seafood, Timur Tengah, hingga western. Kamu memilih sebuah restoran masakan khas Thailand yang juga menjual seafood segar. Tidak butuh kocek tebal untuk menikmatinya semua. Dengan suasana yang tenang, makan malam sederhana ini sangat membekas bagi para pengunjung. Bukan hanya turis.

Night Bazaar 2

Pasar malam ini pun tidak memisahkan diri dari kehidupan sehari-hari. Di sebuah pojokan ada pertandingan sepak takraw di lapangan terbuka yang disaksikan banyak orang. Kamu tahu aku tidak pernah menyaksikan langsung pertandingan sepak takraw? Di sini, orang-orang menikmatinya sama seperti masyarakat Indonesia menonton serunya pertandingan bulu tangkis.

Night Bazaar 3

Tentu tidak lengkap berkunjung ke sini tanpa melihat pernak-pernik barang yang dijual para pedagang. Mulai dari kerajinan tangan, keramik, hingga pakaian bisa ditemukan di sini. Jangan tanya soal makanan karena seperti yang sudah aku bilang tadi, banyak pilihan makanan di tempat ini yang murah meriah. Para pedagang menggelar dagangan di pinggir-pinggir jalan selain di kios-kios yang sudah disediakan. Semua tertata dengan rapi dan tidak ada pedagang yang terlihat memaksa pengunjung untuk membeli dagangannya. Bahkan kamu melanggar “pantangan” untuk tidak berbelanja dengan menyisihkan sebagian uang saku untuk membeli beberapa barang yang dijadikan oleh-oleh. Tentu saja, ada beberapa barang lagi untuk dipakai sendiri. Mungkin benar seperti yang mereka bilang, ada semacam perasaan membebaskan ketika kita berbelanja.

Night Bazaar 4

Pasar malam ini ramai hingga tengah malam, tapi tidak hiruk pikuk. Sama seperti suasana kota Chiang Mai saat siang hari. Meski cuma tinggal di kawasan kota lama yang dibatasi empat parit berbentuk persegi panjang, kita puas menyusuri jalanan kota. Butik-butik atau galeri seni kecil bersandingan dengan warung makan dan biro-biro wisata yang menawarkan aneka macam tur di antara jalan Ratchdamnoen dan Moon Muang. Keluyuran di sepanjang jalan itu menjadi syarat utama ketika mengunjungi Chiang Mai.

Night Bazaar 5

Apalagi ketika di sebuah sudut jalan tersempil toko buku bekas dua lantai dengan koleksi ratusan, bahkan ribuan, judul berbahasa Inggris. Kamu sedikit protes karena aku tenggelam dalam duniaku. Tapi  terkadang kita membutuhkan waktu sebentar untuk asyik dalam dunia kita sendiri-sendiri, bukan?

Kamu menikmati semua perjalanan ini. Mulai dari rasa kekaguman atas kualitas buah dan sayur mayur Thailand yang selalu segar, hingga percakapan-percakapan ringan yang mengisi waktu kita bersama. Meski Chiang Mai merupakan kota yang dikelilingi pegunungan, tapi dengan sedemikian rupa mereka bisa menyediakan ikan-ikan laut segar sebagai santapan. Untuk peminum minuman beralkohol, Thailand memang salah satu “surga” dengan harga bir yang terkenal murah. Bahkan di Chiang Mai harga segelas cocktail rata-rata senilai 150 baht atau kira-kira Rp50 ribu saja.

Night Bazaar 6

Dan mereka membiarkan tembok kota lama seperti Gerbang Ta Phae tetap berdiri di tempatnya hingga saat ini. Sejarah adalah bagian dari kehidupan masa kini yang tidak perlu disembunyikan. Mereka dengan bangga pula merayakan hari ulang tahun Raja Bhumibol Adulyadej pada 5 Desember dengan penuh suka cita. Sebuah panggung secara khusus digelar di lapangan di depan Museum Kota dan Monumen Tiga Raja dengan sajian acara kesenian tradisional hingga simfoni. Galeri kecil untuk merayakan hari jadi Sang Raja mereka gelar secara terbuka menampilkan foto-fotonya dan tidak ketinggalan ornamen-ornamen berbentuk gajah, hewan kebanggaan negeri ini.

Gerbang Ta Phae di sebuah sudut kota lama

Gerbang Ta Phae di sebuah sudut kota lama

Kamu ingin tetap tinggal di Chiang Mai. Kalau saja liburan bisa berlangsung selamanya, Chiang Mai akan menjadi salah satu pilihan favoritmu. Tapi, mungkin saja. Mungkin saja suatu saat kita kembali lagi ke sana menyapa langit biru bersihnya…

*sebagian foto hasil bidikan www.noninadia.com

Written by hawe11

Desember 18, 2012 at 2:49 pm

Ditulis dalam mengalami

Tagged with , , ,