Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Archive for the ‘cerita’ Category

Si Kedondong Raksasa, Bejana Pelebur Dari Chao Phraya

leave a comment »

Sudah tengah malam di Bangkok. Memandangi jalan tol Chaloem Maha Nakhon dari balik jendela apartemen yang saya tempati seperti memanjakan kegemaran yang sukar hilang. Berdiam di balik jendela sambil mengamati obyek-obyek yang bergerak merupakan kegiatan observasi yang mengasyikkan. Kita tidak perlu terlibat dalam sebuah gerak maju (atau mundur, tergantung dari sudut pandang relativitas mana kamu melihatnya), tidak harus merasa memiliki kedekatan personal dengan obyek observasi, tetapi meng-“ada” tanpa harus menandakan diri “ada”. Ya, sekilas seperti bermain Tuhan…

Seminggu saya di sini bertemu semua orang dari segala bangsa. Saya mengunjungi Wat Pho dan Wat Arun tiga hari lalu dan mendapati dua kuil utama ibukota Thailand itu dipenuhi bahasa dari berbagai penjuru dunia. Saya bilang ke teman saya yang berasal dari Vietnam, “Kira-kira berapa banyak bahasa yang ada di kompleks bangunan ini?” Barangkali sepuluh. Kami mencoba menghitungnya: Rusia, Prancis, Spanyol, Jerman, Belanda, Inggris, Jepang, Cina, Korea, India, belum lagi bahasa tuan rumah serta bahasa ibu kami berdua, Vietnam dan Indonesia.

Dengan segala geliatnya, kota ini sungguh menakjubkan. Bangkok mempertemukan siapapun dari manapun. Dia tidak peduli siapa kamu: para pencari jati diri yang bertanya-tanya tentang makna keberadaan diri di alam raya dan menemukan jawabannya di kuil-kuil Buddha atau di jalanan Khao San yang padat; para pencari barang-barang bermerek atau aspal, penyerbu butik-butik mewah atau murah meriah; penggemar gastronomi yang terkaget-kaget menikmati ramuan bumbu ala Thai yang berani dan seperti tak pernah terpikirkan sebelumnya; hingga para pekerja termasuk saya yang datang ke kota ini untuk meliput sebuah turnamen sepakbola kawasan.

Bangkok menjadi sebuah bejana pelebur bagi siapa saja. Dia nyaris tidak punya prasangka. Para wanita modis yang gemar memakai rok mini, karyawan yang menggunakan kemeja polkadot lengan panjang, para biarawan dengan pakaian oranye yang sederhana, lady boy, “farang”, sampai orang-orang Asia non-Thailand yang kerap diajak berbahasa lokal dan akhirnya terjebak saling memakai bahasa “broken English” atau bahasa tarzan sekalian bila perlu.

Kalau boleh saya berpesan dalam tulisan ini, sekali dalam seumur hidup coba beranikanlah diri terjun masuk ke dalam bejana pelebur ini. Tenggelamkan diri dalam ketersesatan atau kebingungan atau keterasingan. Si Kedondong Raksasa, sebagaimana asal muasal nama kota ini, akan selalu memesona.

 

Written by hawe11

November 29, 2012 at 12:27 am

Ditulis dalam cerita

Tagged with , ,