Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Rush, Permusuhan Yang Bersahabat

leave a comment »

Sehabis menonton Rush, yang tersisa hanya rasa heran kenapa rivalitas sengit Niki Lauda dan James Hunt di balapan Formula 1 musim 1976 baru ada yang tertarik mengangkatnya sekarang atau hampir 40 tahun berselang.

Sepanjang rentang masa tersebut, Grand Prix F1 telah mengalami banyak perubahan. Teknologi kian maju, tentu saja, dan keselamatan pebalap kian diutamakan. Berbeda dengan era Lauda-Hunt ketika statistik menunjukkan hampir setiap musim dua pebalap kehilangan nyawanya. Di luar faktor keselamatan pebalap, dunia olahraga di masa lalu terasa begitu menggelora. Sebut saya konservatif. Tapi bukankah dengan tingkat campur tangan teknologi yang minimal olahraga justru terasa begitu manusiawi. Persaingan sangat kentara. Informasi publik masih dikuasai media massa seperti televisi, radio, dan cetak. Tidak ada Twitter, tidak ada YouTube. Pentas olahraga di masa lalu berkembang sedemikian rupa di dalam “theater of mind” setiap penggemar.

Begitu pula dengan persaingan Lauda dan Hunt pada suatu ketika di tahun 1976. Saya bukan penggemar F1 dan saya tidak pernah mengetahui (apalagi menyaksikan) persaingan sengit keduanya. Namun, dengan apik nuansa rivalitas itu digambarkan dengan begitu hangat di dalam film Rush. Niki Lauda diperankan dengan cemerlang oleh aktor Jerman, Daniel Bruhl, dan James Hunt dimainkan oleh Chris Hemsworth. Film digarap oleh Ron Howard yang gemar membesut kisah nyata ke layar lebar, antara lain seperti A Beautiful Mind dan Frost/Nixon.

Lauda adalah pebalap Austria yang jenius, perfeksionis, dan banyak yang menganggapnya arogan. Hunt lebih relaks, hidup untuk hari ini, dan playboy. Keduanya mewakili kutub karakter olahragawan top yang senantiasa bersaing satu sama lain dengan karakter yang bertolak belakang. Lauda menikah dan hidup teratur. Usai balapan, dia langsung pulang dengan istrinya Marlene ke rumah mereka atau tempat penginapan. Sementara, pernikahan Hunt dengan model Suzy Smart berantakan. Dia bukan pria yang bisa berkomitmen dengan perempuan. Usai balapan, Hunt pergi berkencan dengan teman-teman perempuannya dan berpesta pora. Tapi, beri mereka sebuah kendaraan dan keduanya adalah salah satu di antara pebalap terhebat sepanjang masa.

F1 musim 1976 merupakan puncak persaingan mereka. Lauda memulai karier di F1 dengan membeli tempat di sebuah tim yang nyaris bangkrut, tapi dengan cepat menyita perhatian sehingga Ferrari menariknya. Berbeda dengan Hunt yang harus berjuang dengan tim papan bawah tanpa sponsor Hesketh di awal kariernya. Ketika Hesketh tutup buku, Hunt digambarkan harus memohon-mohon sampai detik terakhir kepada McLaren agar menerimanya bergabung. Di musim itu, Lauda memimpin balapan hampir sepanjang tahun sampai akhirnya mengalami kecelakaan fatal yang nyaris merenggut nyawanya. Keadaan itu dimanfaatkan Hunt untuk mendekati perolehan poin Lauda. Secara menakjubkan Lauda kembali ikut balapan sebulan setelah kecelakaan guna mempertahankan gelar juara dunia miliknya. Balapan terakhir musim itu, GP Jepang, tak pelak menjadi sorotan dunia karena juara dunia ditentukan di sana.

Selalu ada unsur dramatisasi dalam film sehingga tingkat keakuratan cerita tentu saja tidak seperti kenyataan yang sebenarnya. Penggila F1 sejati barangkali bisa memberikan analisis yang cermat tentang rivalitas Lauda-Hunt, tetapi Rush menjadi film yang dapat diterima oleh khalayak umum. Ron Howard seakan sudah memperoleh bahan cerita yang mudah diolah: rivalitas dua atlet top ditambah cepatnya mobil balap F1 sama dengan “adrenaline rush”. Rush pun sangat maskulin. Kekuatan ambisi dua tokoh utamanya sangat kentara di sini sehingga praktis dua tokoh perempuannya, Marlene Lauda (Alexandra Maria Lara) dan Suzy Smart (Olivia Wilde), praktis hanya menjadi penonton arena belaka.

Akting Daniel Bruhl sangat cemerlang. Jika saya menjadi jurinya, saya tanpa ragu menjagokan Bruhl sebagai nominator Oscar. Dia berhasil menggambarkan karakter Lauda yang menjadi pusat perhatian film ini. Rush memang meminggirkan karakter James Hunt sehingga akting Chris Hemwsorth seperti tidak berkembang dari sekadar seorang pegila pesta. Skenario film utamanya dikembangkan dari biografi dan juga wawancara dengan Lauda. Seperti yang dikatakan Lauda saat Rush diluncurkan, dia sangat menyesal Hunt tidak sempat menyaksikan film ini karena sudah tutup usia 20 tahun lalu. Penonton pun demikian sama meruginya. Jika tidak, barangkali Rush kian lengkap dengan hadirnya dua sudut pandang dan karakter yang digali sama kuat.

Kemudian, bagaimana akhir kisah rivalitas dua atlet hebat itu? Adegan penutup Rush memungkasnya dengan apik. Rivalitas yang berkembang di antara Niki Lauda dan James Hunt rupanya telah menumbuhkan sikap respek. Lauda justru terpacu untuk tidak menyerah menghadapi maut akibat melihat Hunt memenangi balapan demi balapan sehingga mengancam gelarnya. Sementara, bagi Hunt persaingan dengan Lauda tak ubahnya ajang pembuktian diri. Dia dapat mewujudkan impiannya memenangi gelar juara dunia hanya dengan mengalahkan Lauda. Rivalitas keduanya justru membuat keduanya ada.

And, that, my friends, is gravity.

Simpulan: Salah satu film yang wajib tonton tahun ini. Membuat bukan penggemar menjadi tertarik dengan nuansa kompetisi Formula 1 serta membuka-buka halaman sejarah Niki Lauda dan James Hunt. Mendahului atau meyambungnya dengan menyaksikan dokumenter tentang Ayrton Senna, Senna, sangat disarankan. Keduanya mewakili semangat yang identik.

Rating: 4/5

Iklan

Written by hawe11

Oktober 11, 2013 pada 1:02 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: