Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Gravity: Kaya Visual, Hampa Makna

leave a comment »

Izinkan saya berterus terang di awal tulisan, film sejenis Gravity bukan tipe kegemaran saya. Saya sudah mencoba tetap memberi kesempatan untuk menyukai Gravity, tanpa ekspektasi apa pun (termasuk mendengar kicauan puja-puji atau kritik terhadap film garapan Alfonso Cuaron ini), tetapi tetap gagal masuk hitungan film yang saya sukai. Maafkan saja.

Tentu, visualisasi Gravity mencengangkan. Kredit khusus satu bintang wajib disematkan di resensi mana pun tentang film ini karena upayanya menjelajahi ruang angkasa. Lokasi setting yang sebenarnya bukan pilihan baru di industri film Hollywood, tapi relatif jarang dijamah. Film dengan lokasi setting ruang angkasa mana yang paling berkesan bagi Anda? Star Wars, Star Trek, 2001: A Space Odyssey, atau Armageddon? Dijamin Gravity memperoleh tempat tersendiri karena dia berupaya menjadi semacam Finding Nemo untuk genre animasi. Bukankah sejak Finding Nemo muncul, film-film animasi lain pun berlomba-lomba menampilkan lokasi setting lautan dengan memamerkan kecanggihan teknologi masing-masing?

Kemudian sampailah kita ke pembahasan isi film. Sesungguhnya film ini semata-mata bercerita tentang kisah penyintasan seorang astronot dari kecelakaan luar angkasa yang menewaskan seluruh rekan-rekan awak sepesawatnya. Ini bukan spoiler. Seperti juga saya, Anda tentu sudah mengetahui informasi umum kalau film ini miskin casting. Film sepenuhnya mengikuti karakter Ryan Stone, yang diperankan Sandra Bullock, ke mana pun dia pergi dengan ruang yang terbatas. Ini salah satu tipe film yang tidak saya sukai karena seolah-olah kita terperangkap di ruang sempit dan cerita terus menerus berkutat di pemandangan yang sama terus menerus. Atas dasar itulah saya tidak terlalu menyukai film yang melulu berlokasi di sebuah kapal selam, elevator, atau boks telepon umum, misalnya.

Menyusul reaksi berantai dari ledakan satelit Rusia, Ryan Stone kehilangan komunikasi dengan Pengendali Misi di Houston serta komandan Matt Kowalski (George Clooney) dan rekan-rekan satu misi. Sebelumnya, ledakan itu menyebabkan pesawat misi yang mereka tumpangi hancur. Sendirian di ruang angkasa yang hampa dia berjuang kembali ke Bumi dengan menjangkau pesawat penyelamatan di stasiun luar angkasa terdekat.

Film ini miskin metafora. Alur cerita sempat mengaitkan dengan tragedi yang pernah dialami Ryan serta pergulatan mengatasinya, tetapi itu tidak mendapat porsi utama. Akibat casting yang terbatas, Clooney hanya muncul di sepertiga awal film, karakter yang dimainkan Bullock praktis harus bertarung dengan dirinya sendiri guna merebut simpati penonton. Sayangnya, buat saya, akting Bullock terlampau berlebihan. Mungkin hanya saya karena rupanya banyak yang langsung menjagokan Bullock untuk memperoleh nominasi Oscar keduanya lewat karakter dalam film ini.

Jika ingin menyebutkan kekurangan lain dalam Gravity, tentu saya harus menyinggung aspek teknis dari film ini. Banyak media membahas tentang tingkat keakuratan Gravity dan banyak pula yang memaparkan kekurangannya. Paling sederhana, misalnya, adalah pakaian astronot tidak lah seringan seperti yang digambarkan dalam film. Seorang astronot juga tidak mengenakan pakaian dalam setelah melepas baju luar angkasanya seperti yang ditunjukkan karakter Bullock.

Tapi saya tidak mau membahasnya terlalu dalam. Sudah banyak komentar ahli tentang hal itu. Lebih baik bagian ini saya gunakan untuk menyinggung kekuatan utama Gravity, yaitu visualisasinya yang tiada cela. Teknik long shot Cuaron sangat sepadan dengan pilihan lokasi setting. Hasilnya, ruang angkasa digambarkan sangat tak terbatas. Visualisasi Bumi, matahari terbit, dan sudut pandang cahaya menuai pujian karena dinilai sangat menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Adegan ketika pecahan ledakan (debris) meluluhlantakkan satelit Soyuz adalah puncak orgasme Gravity. Atau mungkin barangkali dapat disebut pencapaian tertinggi Cuaron sebagai sutradara hingga saat ini. Sebuah masterpiece?

Gravity tidak memancing rasa penasaran saya untuk mengetahui lebih dalam tentang dunia antariksa. Perasaan kesepian behasil menjadi kesan yang paling mencekam dalam film ini, bukan upaya Ryan Stone menyelamatkan diri. Ada satu adegan yang berpeluang menyeret pembahasan Gravity ke aspek yang lebih filosofis, yaitu ketika Ryan “dikunjungi” Kowalski di kabin pesawat penyelamatnya, tapi memang film tidak ditujukan ke arah itu.

Dan, ada kehampaan yang saya rasakan begitu Gravity berakhir. Persis seperti yang dijanjikan di narasi awal film.

Simpulan: Nikmati visualisasinya dan sisakan perdebatan aspek teknis hingga selesai menonton film.

Rating: 3/5 (2 poin rating khusus untuk visualisasinya)

Iklan

Written by hawe11

Oktober 10, 2013 pada 3:01 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: