Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Air Mata Bounpaseuth Niphavong

with one comment

Bounpaseuth Niphavong. Matanya tak keruan berlinang-linang setelah untuk kali keempat gawangnya dijebol untuk kali keempat oleh pemain Indonesia. Badannya terasa lemas dan tak berdaya. Dia pun merebahkan punggungnya sambil menahan isak tangis yang bergumpal-gumpal di dalam dada.

Laos sedang berada di Jakarta untuk mengikuti kualifikasi Piala Asia U-19. Laga pertama mereka berhadapan dengan tim tuan rumah yang dua pekan sebelumnya berhasil menjuarai Piala AFF. Kemenangan yang disambut gegap gempita oleh para pecinta sepakbola sambil menyejajarkan sukses itu dengan keberhasilan tim senior mereka merampas kejayaan terakhir di pentas sepakbola regional 22 tahun silam, yaitu medali emas SEA Games.

Usia Niphavong masih remaja. Saya yakin seperti halnya rekan-rekannya dari Indonesia, Korea Selatan, dan Filipina yang berada satu grup kualifikasi dengan Laos, Niphavong mencintai sepakbola. Kegemarannya bermain sepakbola rupanya serius. Saya tidak memperoleh data klub apa yang dibela Niphavong, tapi namanya tercatat sebagai salah satu anggota kontingen Laos yang tampil di putaran final Piala Asia U-16 di Iran tahun lalu. Di sana, Laos sukses mendulang satu kemenangan atas Yaman.

Niphavong sama sekali tidak memperoleh kesempatan bermain sama sekali di turnamen itu. Kesempatan akhirnya datang kala dirinya naik kelas membela tim U-19 di ajang kualifikasi Piala Asia. Niphavong sudah tampil mati-matian membela gawangnya dengan gagah berani, sayang Indonesia lebih unggul kualitas.

Di awal babak pertama, gawangnya sudah jebol lewat gol sundulan Muchlis Hadi Ning. Niphavong kemudian berjibaku mematahkan peluang demi peluang tuan rumah sehingga tetap hanya satu gol yang bersarang hingga jeda tiba. Di babak kedua, tantangan Laos kian berat. Serangan balik cepat Indonesia pada menit ke-51 berakhir dengan gol kedua Muchlis Hadi Ning di gawangnya. Tiga menit kemudian, rekan setim Niphavong yang sangat diandalkan, Phithack Kongmathilath menerima kartu kuning kedua karena menginjak pemain Indonesia.

Serangan Indonesia kian menjadi-jadi, tapi Niphavong terus berjibaku mencegah timnya kebobolan lebih banyak lagi. Seakan tak mau malu dengan penampilan gigih Niphavong, para pemain Laos jatuh bangun menghadang pemain lawan. Permainan keras tak terhindarkan dan kelelahan mendera. Berulang kali pemain Laos terkapar sehingga harus memperoleh perawatan tim medis. Tak terkecuali Niphavong. Setidaknya dua tiga kali dia meminta bantuan tim medis saat berjibaku menyelamatkan gawangnya. Namun, bencana tak terhindarkan. Menit 80, Laos bermain dengan sembilan pemain setelah Kali Sihalath menyusul Phithack ke kamar ganti lebih cepat akibat kartu kuning kedua yang diterimanya. Bendungan Niphavong tak lagi kuasa menahan gempuran Indonesia.

Paulo Sitanggang menciptakan gol ketiga Indonesia di menit 84 dan air mata Niphavong pun pecah. Belum lagi air matanya kering, kapten Evan Dimas memungkas kemenangan Indonesia menjadi 4-0, empat menit berselang. Sia-sia sudah perlawanan Niphavong dan rekan-rekan setimnya selama 90 menit…

Tak sepenuhnya sia-sia, Niphavong. Tolok ukur pertandingan di kelompok usia dini bukan lah semata-mata hasil akhir. Akan banyak pelatih di negara maju yang memacu semangatmu dengan mengatakan, “Nikmati saja permainan!” Kemampuan serta keahlian bermain sepakbola tak semata-mata terhenti di usiamu saat ini. Pengalaman bermain adalah segalanya.

Jadi, jika engkau pulang ke negaramu nanti, bermain lah sesering mungkin. Jangan berhenti! Meski mungkin kamu tahu kalau kurang dari 50 persen pemain usia dini yang terus berkembang meretas jalan menjadi pemain andalan di skuat senior. Tapi itu bukan hal yang perlu kamu pikirkan sekarang. Jika tim pemenang selalu mengatakan tidak berpuas diri dengan kemenangan yang baru saja mereka raih, tim pecundang pun berhak mengatakan yang sama. Hadapi lah pertandingan satu per satu. Korea Selatan menunggu dan kemudian Filipina. Tampil lah sebaik mungkin!

Kita semua pernah berada di posisi seperti Bounpaseuth Niphavong. Menangis dan kegagalan itu bukan lah sesuatu yang janggal. Lebih penting lagi bagaimana sesudahnya dapat menghimpun kekuatan untuk bangkit meningkatkan kemampuan diri. Karena hidup terus berputar, suatu saat kelak mungkin kita akan berjumpa lagi dengan Bounpaseuth Niphavong yang beranjak lebih baik.

Iklan

Written by hawe11

Oktober 10, 2013 pada 12:56 am

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Nyooh..
    puk-puk dek Niphavong
    chicken pong, mau dek?

    nadia

    Oktober 10, 2013 at 9:43 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: