Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Roberto Mancini Menggantung Leher Sendiri

with one comment

Mancini, hilang jabatan di City

Mancini, hilang jabatan di City

Sebenarnya apa yang ingin disampaikan Johnny Cash dalam “I Hung My Head”? Semacam pergulatan melawan absurditas? Secara tidak sengaja, dan ajaibnya, lagu ini pas saat mengiringi saya membaca kisah yang melatarbelakangi pemecatan Roberto Mancini sebagai manajer Manchester City.

Di suatu pagi yang senggang, demikian dalam “I Hung My Head”, seorang pria dengan iseng menenteng senapan milik abangnya dan pergi ke sebuah padang. Seorang penunggang kuda yang kebetulan melintas menjadi bidikannya. Tokoh utama dalam lagu itu kemudian melarikan diri karena telah melakukan pembunuhan, tetapi ditangkap sheriff dalam pelariannya. Dan di tiang gantungannya, pria itu menyanyikan eleginya yang ganjil.

Senin pagi (13/5) kemarin, Mancini keluar dari hotel di London tempat City menginap usai dikalahkan Wigan Athletic di final Piala FA. Kehadirannya sudah ditunggu puluhan media karena kabar pemecatannya sudah santer beredar. Tidak sampai 24 jam berikutnya, rumor menjadi kenyataan. Secara resmi Mancini dicopot sebagai manajer tim. Berita-berita pascapemecatan Mancini segera membombardir melalui media massa. Salah satunya adalah keretakan hubungan Mancini dengan pengurus, staf kepelatihan, dan pemain yang menjadi pemicu keputusan pemecatan.

Dilansir Daily Mail, kepercayaan tim terhadap Mancini luntur ketika sang bos secara terbuka mengkritik penampilan Joe Hart usai dikalahkan Real Madrid 3-2 di Liga Champions, September lalu. Padahal, Hart merupakan pemain yang populer di ruang ganti. Konflik personal dengan Carlos Tevez musim lalu dan ditambah perkelahian dengan Mario Balotelli (sebelum pindah ke AC Milan) menjadikan Mancini kian tak diterima. Anda juga belum lupa cercaan terbuka Mancini terhadap Samir Nasri, bukan?

Di kalangan pengurus dan staf kepelatihan, Mancini juga bukan figur yang pandai berdiplomasi. Dia menolak menjabat tangan dokter Phil Batty karena tak puas dengan penanganan medis tim yang dianggap terlalu konvensional. Tiga dokter dan seorang fisioterapis bergantian didatangkan, tapi Mancini tak pernah puas. Bahkan tidak jarang pemain City yang cedera justru dikirim ke Italia guna menemui Sergio Vigano, kawan lama Mancini yang juga seorang fisioterapis.

Brian Marwood juga bukan seorang teman. Mancini melabrak pria yang kini menjabat sebagai direktur pengelola akademi itu karena dianggap gagal mendatangkan sasaran transfer awal musim ini. Javi Martinez dan Robin van Persie yang diidamkan malah memilih klub lain (dan menjadi juara di klub-klub pilihan mereka) sehingga Mancini meradang di depan media massa.

Praktis cuma presiden Khaldoon Al-Mubarak yang menjadi sekutu bagi Mancini. Wajar saja karena Khaldoon yang mendatangkan Mancini ke Eastlands sejak Abu Dhabi United Group mengakuisisi City, 2008 lalu. Ketika Mark Hughes gagal menjawab tantangan setahun berselang, Mancini merupakan pilihan utama City dan sukses memberikan satu trofi Piala FA dan Liga Primer Inggris.

Ironisnya, tidak ada yang bisa menduga masa depan. Tepat setahun setelah hari kemenangan City merebut gelar juara liga, Mancini kehilangan jabatan. Adegan serupa terulang lagi Selasa pagi ketika Mancini, dengan gaya ikatan syalnya yang terkenal itu, ditunggu puluhan media massa di luar hotel. Belum ada yang tahu tujuan Mancini dengan kompensasi lebih dari 7 juta pound yang dikantunginya. Sejumlah klub Italia plus AS Monaco kabarnya telah bersiap menunggunya di meja perundingan. Bersama Mancini, sejumlah staf pelatih berbondong-bondong pula meninggalkan klub, antara lain seperti David Platt dan Attilio Lombardo.

Kepergiannya mungkin diratapi fans, tapi dirayakan internal klub. CEO Ferran Soriano dan direktur sepakbola Txiki Begiristain telah melancarkan pendekatan kepada pelatih Malaga, Manuel Pellegrini. Sejumlah media bahkan mulai berlomba-lomba membuat tulisan tentang aspek-aspek yang perlu dibenahi Pellegrini ketika bergabung kelak.

Pemain juga tak ambil pusing. Saat kasak-kusuk pemecatan beredar, seorang pemain yang tak disebutkan namanya mengirim pesan kepada Daily Mail, “Apakah sudah saatnya kami menaruh sampanye di dalam es?”. Seakan-akan mereka hendak menyambut sebuah pesta.

Pemecatan Mancini seperti sebuah episode absurd yang biasa kita dengar dari sebuah klub kaya yang tak pernah puas memburu gelar dan menumpuk pemain mahal, tapi Anda tentu tak boleh mengabaikan empat hal jika menjadi manajer sebuah klub ambisius: memenangi kamar ganti, memenangi meja direksi, memenangi hati fans, serta puncaknya merebut trofi juara.

Dalam upaya menjalankan kredo tersebut, Mancini telah menggantung lehernya sendiri.

*tulisan terbit untuk GOAL.com Indonesia, Rabu, 15 Mei 2013

 

Iklan

Written by hawe11

Mei 15, 2013 pada 1:57 pm

Ditulis dalam opini

Tagged with , ,

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Reblogged this on suhaylanyacavalera.

    suhaylanyacavalera

    Mei 29, 2013 at 12:22 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: