Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Menumpang Valkyrie Menuju Wembley

leave a comment »

Akhir sebuah siklus?

Awal sebuah siklus baru?

Liga Champions adalah penyelamat selera saya menyaksikan pertandingan sepakbola di televisi. Tidak cuma musim ini, tetapi juga sebelum-sebelumnya. Kompetisi antarklub Eropa paling bergengsi ini saya anggap sudah menjadi semacam etalase yang paling tepat dalam memantau perkembangan mutakhir sebuah klub.

Termasuk ketika menyaksikan pertandingan leg pertama semi-final beberapa hari lalu. Selasa malam, saya menyaksikan bagaimana Bayern Munich dapat menumbangkan Barcelona dengan skor telak, 4-0. Mungkin banyak yang berharap dan memprediksi kemenangan Bayern, tetapi tidak dengan skor sebesar itu!

Di Allianz Arena, Bayern mengombinasikan segala cara yang sudah dilakukan berbagai tim dalam meredam permainan Barcelona. Cegat dari tengah, andalkan serangan sayap, tujukan umpan silang ke tiang jauh atau sudut mati pemain belakangnya, dan gunakan striker dengan keunggulan fisik.

Malangnya, Barcelona seperti membantu kekalahannya sendiri dengan memaksakan Lionel Messi tampil. Bintang Argentina itu sebenarnya mengalami cedera paha sejak melawan Paris Saint-Germain di babak perempat-final, tetapi kehadirannya dibutuhkan guna menginspirasi tim. Tampil sebagai pengganti selama 30 menit pada pertandingan leg kedua melawan PSG mungkin cukup, tapi hanya di babak pertama terlihat Messi kepayahan mengikuti ritme permainan. Messi menjadi alien dalam pengertian yang sebenarnya dalam pertandingan ini.

Pelatih Tito Vilanova juga berdiam diri ketika timnya kebobolan gol kedua, kemudian ketiga, dan terakhir keempat. Pergantian pertama baru dilakukan ketika segalanya sudah terlambat, yaitu memasuki menit 80! Gilanya, Messi tetap dipertahankan di atas lapangan meski cuma sesekali memperoleh bola dan hampir tidak pernah muncul di kotak penalti Bayern. Messi-dependencia sudah tidak bisa dibohongi lagi.

Kalau saya menjadi Joachim Low, senyum saya kian mengembang sehari setelah kemenangan Bayern. Kali ini saya menonton pertandingan yang dipentaskan di Signal Iduna Park dengan ekspektasi tidak berlebihan. Biasa saja. Termasuk ketika Robert Lewandowski mengembalikan keunggulan Borussia Dortmund usai Cristiano Ronaldo menyamakan kedudukan untuk Real Madrid di akhir babak pertama.

Jujur, saya sudah meremehkan kemampuan Dortmund saat jeda pertandingan. Unggul cepat lewat gol Lewandowski sebelum sepuluh menit pertandingan berjalan, gawang Roman Weidenfeller dibobol Si Pesolek akibat kesalahan fatal yang dilakukan Mats Hummels. Apakah Dortmund memiliki kekuatan mental untuk pertandingan sebesar ini?

Rupanya Jurgen Klopp tidak banyak cakap. Resepnya sederhana: bermain, bermain, dan bermain. Dortmund tidak mengendurkan tempo sama sekali sejak babak kedua dimulai. Malapetaka bagi Madrid yang kerap keteteran jika diajak berdansa dengan ritme cepat. Dortmund menjelma bak Barcelona meski tidak memiliki pemain sekaliber Xavi, Iniesta, dan Messi.

Madrid tidak diberi kesempatan bernafas dan Lewandowski melesakkan empat gol sekaligus malam itu. Low, Hans Joachim Watzke, Uli Hoeness, Franz Beckenbauer, dan juga barangkali Kanselir Angela Merkel serta seluruh masyarakat Jerman tersenyum bahagia. Kemenangan Dortmund 4-1 atas Madrid meneguhkan dominasi Bundesliga atas La Liga. Jerman 8, Spanyol 1.

Media internasional beramai-ramai membahas dua pertandingan dengan hasil mengejutkan itu. Paling memikat perhatian saya adalah judul utama yang dipasang Marca: “Fin De Ciclo”. Akhir siklus. Judul ini terbit usai kekalahan telak Barcelona di Allianz Arena, tapi mewakili seluruh hasil leg pertama semi-final Liga Champions musim ini.

Siklus kejayaan Barcelona dengan permainan tiki-taka dan juga persaingannya dengan sang seteru abadi, Madrid, mendekati akhir. Alih-alih mengharapkan El Clasico, seperti halnya musim lalu, kini para penggemar sepakbola dunia menantikan hadirnya all-German final di Wembley, 25 Mei mendatang.

Pada saat inilah saya ingin Anda turut mendengarkan karya besar komposer kelahiran Munich, Richard Wagner, yang kerap disinggung dalam berbagai referensi budaya kontemporer. Simak karyanya melalui video YouTube yang saya kaitkan di sini. (Link video juga saya sertakan di akhir tulisan)

Dalam mitologi Nordik, “Valkyrie” adalah dewi-dewi yang memilih pejuang mana yang gugur di medan peperangan dan yang hidup. Mereka juga bertugas mengantarkan jiwa para pejuang itu dengan menumpang kereta kuda yang melintasi langit menuju Valhalla.

Sekarang terserah pada sudut pandang Anda. Buat saya, Bayern dan Dortmund adalah para pahlawan terpilih. Jika kelak para Valkyrie datang, Bayern dan Dortmund akan turut bersama mereka. Mungkin menuju Valhalla, tetapi yang pasti lebih dahulu melewati medan perang bernama Wembley.

Dengan demikian, tidak ada lagi kemegahan yang lebih tepat selain ode “Ride of the Valkyries” karya komposer besar Wagner untuk mengiringi langkah para pemain Bayern dan Dortmund saat memasuki lapangan Wembley yang keramat.

Iklan

Written by hawe11

April 27, 2013 pada 2:42 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: