Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Belanda 3-0 Estonia: Membaik Di Babak Kedua

leave a comment »

Rafael van der Vaart

Tampil sebagai pemain pengganti, Rafael van der Vaart membuka kemenangan Belanda atas Estonia.

Prapertandingan

Tonny Vilhena memperoleh panggilan pertama ke skuat timnas senior Belanda setelah serangkaian penampilan impresif bersama Feyenoord Rotterdam di Eredivisie. Sebenarnya Jean-Paul Boetius juga masuk daftar skuat bayangan, tetapi Louis van Gaal memilih mengedepankan Vilhena. Di lini depan, cedera Klaas-Jan Huntelaar membuka jalan bagi Siem de Jong. Jeremain Lens juga kembali mendapat kepercayaan meski sempat berulah dengan mengonfrontasi Joris Mathijsen di De Kuip saat PSV bertandang ke Feyenoord. Wesley Sneijder, Rafael van der Vaart, dan Maarten Stekelenburg kembali dipanggil Van Gaal.

Susunan pemain:

Belanda Kenneth Vermeer; Daryl Janmaat, Daley Blind, Bruno Martins Indi, Stefan de Vrij; Jonathan de Guzman / Jordy Clasie (86′), Kevin Strootman, Wesley Sneijder / Rafael van der Vaart (36′); Robin van Persie, Arjen Robben, Jeremain Lens / Ruben Schaken (74′).

Estonia Sergei Pareiko; Enar Jaager, Taijo Teniste, Ragnar Klavan, Igor Morozov; Martin Vunk, Konstantin Vassiljev, Sander Puri, Dmitri Kruglov / Tarmo Kink (62′); Andres Oper / Sergei Zenjov (46′); Henrik Ojamaa / Joel Lindpere (77′).

Pertandingan

Babak pertama: Sepuluh menit pertama kita seperti mengingat lagi julukan masyhur yang pernah disematkan ke timnas Belanda, “clockwork orange”. Bola mengalir dari kaki para pemain dengan mulus antarlini, antarsisi lapangan, dengan ritme menyerupai orkestra simfoni musik-musik klasik. Namun, orkestra itu rupanya membuai. Pemain-pemain Belanda kesulitan mendobrak masuk kotak penalti Estonia. Pergerakan Van Persie selalu bergantian diawasi Klavan maupun Morozov. Robben dan Lens bergerak dibantu Sneijder dan Janmaat, tapi para pemain Estonia tetap tampil disiplin. Benar adanya perkataan Van Gaal kalau Estonia tampil rapi dalam bertahan dan menerapkan sistem dua kolom yang diisi masing-masing empat pemain. Masalah sepertinya kian besar ketika Sneijder tidak bisa melanjutkan pertandingan karena mengalami cedera paha. Posisinya digantikan Van der Vaart. Hingga babak pertama berakhir, Belanda tak jua menemukan cara mencari celah di pertahanan lawan.

Babak kedua: Zenjov dimasukkan pelatih Tarmo Ruutli menggantikan Oper di awal babak kedua. Taktik pergantian ofensif ini rupanya mengindikasikan rencana Estonia untuk lebih banyak menguasai bola. Sayangnya, baru dua menit berjalan, Teniste teledor menjaga sektornya sehingga memberikan ruang yang cukup untuk Janmaat mengolah bola. Sedikit kontrol, Janmaat menyodorkan bola ke dalam kotak penalti. Van der Vaart tak menyia-nyiakannya dengan menceploskan bola ke tiang dekat Pareiko. Runtuh sudah pertahanan Estonia. Di babak kedua ini tidak ada lagi orkestra serupa babak pertama, tetapi dominasi tetap dikuasai tuan rumah. Alur serangan lebih banyak bergerak dari sektor kanan yang ditempati Janmaat. Berkali-kali tanpa ragu bek kanan Feyenoord ini membantu serangan. Ketika kehilangan bola, Janmaat menjadi sosok yang sulit dilewati pemain sayap lawan. Van Persie menggandakan keunggulan Belanda pada menit ke-72 setelah memanfaatkan umpan silang Janmaat. Demikian pasti Janmaat menjadi pemain terbaik pertandingan ini. Namun, catatan penting bagi Belanda adalah bagaimana cara De Vrij dan Martins Indi mengukur kedalaman lini belakang. Keduanya kerap lalai mengawasi celah kosong dan terbukti Estonia memperoleh kesempatan mencetak gol balasan. Melalui operan vertikal, Martin Vunk lolos sendirian berhadapan satu lawan satu dengan Vermeer. Beruntung eksekusinya gagal. Menit 84, pemain pengganti Schaken melesakkan gol pamungkas berkat kombinasi permainan menarik yang berujung umpan silang Van Persie.

Pascapertandingan

Lini belakang secara mengejutkan menyita perhatian pada pertandingan ini. Kuartet bek bermain nyaris tanpa kesalahan, tenang bak pemain berpengalaman, serta beberapa kali membantu penyerangan melalui dua sektor sayap. Catatan khusus juga boleh ditujukan pada penampilan Vermeer. Kiper Ajax Amsterdam ini enggan berlama-lama menguasai bola (bandingkan dengan Tim Krul yang kerap penuh perhitungan). Bahkan bola lawan yang sedang menuju luar lapangan pun dikejar Vermeer dan diaktifkan lagi dengan mengopernya ke rekan terdekat. Jelas sudah, gaya permainan seperti ini pas untuk filosofi yang diusung Van Gaal dalam tim. Setelah lima kemenangan dalam lima pertandingan, Belanda tetap mesti berkembang dan memperbaiki agresivitas di sentral pertahanan lawan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: