Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Belgia 4-2 Belanda: Malapetaka Lima Menit Dries Mertens

leave a comment »

Ketika si mungil Dries Mertens merusak harapan debut Louis van Gaal.

Prapertandingan

Pertemuan Belanda menghadapi tuan rumah Belgia merupakan Derby Tanah Rendah yang ke-125 bagi kedua tim. Kali ini kedua tim sama-sama ditangani pelatih baru, yaitu Louis van Gaal, untuk kali kedua berkiprah menukangi Oranje, dan Marc Wilmots yang baru saja ditugasi permanen meracik bintang-bintang muda Rode Duivels. Sehari sebelum pertandingan, Van Gaal sudah mengumumkan para pemain yang akan diturunkan — dan ditepati saat bertanding — yakni antara lain memilih Klaas-Jan Huntelaar daripada Robin van Persie, serta memberi kesempatan tampil pada sederetan pemain muda yang diabaikan Bert van Marwijk. Rafael van der Vaart akan menjalani caps ke-100, Wesley Sneijder tampil sebagai kapten, dan Luciano Narsingh untuk kali pertama menjadi pemain inti.

Susunan pemain

Belgia: Thibault Courtois; Jan Vertonghen, Guillaume Gillet, Daniel van Buyten / Toby Alderweireld (46′), Thomas Vermaelen; Steven Defour, Axel Witsel, Eden Hazard / Moussa Dembele (58′), Kevin Mirallas / Kevin de Bruyne (56′); Nacer Chadli / Dries Mertens (67′), Christian Benteke / Romelu Lukaku (63′).

Belanda: Maarten Stekelenburg; Joris Mathijsen / Nick Viergever (46′), Johnny Heitinga / Stefan de Vrij (46′), Ricardo van Rhijn, Jetro Willems / Bruno Martins Indi (46′); Nigel de Jong, Rafael van der Vaart / Adam Maher (46′), Wesley Sneijder; Luciano Narsingh / Jeremain Lens (68′), Arjen Robben, Klaas-Jan Huntelaar.

Pertandingan

Babak pertama: Seperti yang disebutkan di judul, pertandingan ini ditentukan lima menit kecermelangan Dries Mertens. Di awal pertandingan, Belanda kesulitan membagi bola dan beberapa kali melepas penguasaan bola begitu saja. Kesalahan mencolok terlihat pada penampilan Joris Mathijsen, sedangkan Sneijder juga awalnya terlihat grogi dalam menghadapi tekanan pemain Belgia. Tampil lebih cepat dan dinamis, Belgia mencuri gol pada menit ke-20 setelah akselarasi Kevin Mirallas di sayap kiri diakhiri dengan umpan menyilang kepada Christian Benteke. Striker Racing Genk 21 tahun ini dengan tenang mengecoh Mathijsen dan Maarten Stekelenburg untuk menceploskan gol pertamanya untuk Belgia. Setelahnya, ganti Belanda menguasai pertandingan. Kepercayaan diri Oranje muncul ketika Ricardo van Rhijn berkombinasi dengan Narsingh untuk melepaskan tembakan yang ditepis Thibaut Courtois ke luar lapangan. Huntelaar? Ada dua peluang yang diperoleh, tapi mentah di tangan Courtois.

Gol pertama Belgia, gol pertama Christian Benteke.

Babak kedua: Selama 15 menit pertama, Belanda masih tampil percaya diri dan memeragakan kombinasi permainan yang rapi. Padahal empat pemain muda disisipkan Van Gaal ke dalam tim usai jeda. Nick Viergever, Stefan de Vrij, Bruno Martins Indi, dan Adam Maher memulai debut mereka dalam pertandingan ini. Penampilan bagus ditunjukkan Martins Indi yang lebih tenang, mampu terlibat dalam permainan tim, dan pengambilan posisi yang baik. Dua gol secara beruntun berhasil dilesakkan Belanda berkat akselarasi Robben. Gol balasan tercipta pada menit ke-53 setelah Robben merangsek sayap kiri dan memberikan umpan datar yang diselesaikan secara sempurna oleh Narsingh di depan gawang Courtois. Semenit kemudian, Robben terlepas dari jebakan off-side dan dengan kondisi tiga lawan satu bola diberikan kepada Huntelaar yang dengan mudah menceploskannya ke dalam gawang kosong. Ini gol Huntelaar ke-32 untuk Belanda, berselisih delapan dari rekor Patrick Kluivert.

Setelah menit 60, Belanda rupanya merasa permainan sudah selesai dan lupa bermain sepakbola. Wilmots memaksa agresivitas dengan memasukkan amunisi ofensif dari bangku cadangan, mulai dari Kevin de Bruyne, Moussa Dembele, Romelu Lukaku, dan senjata pamungkasnya, Mertens. Pemain mungil PSV Eindhoven ini menginspirasi titik balik Belgia dengan menyamakan kedudukan pada menit ke-75 setelah menyerobot bola dari penguasaan Nigel de Jong yang lengah. Dua dan lima menit setelahnya, Mertens memberikan assist atas terciptanya gol-gol Lukaku dan Jan Vertonghen. Skor 4-2 bertahan hingga pertandingan selesai. Kekalahan ini merupakan kekalahan beruntun keempat yang diderita Belanda, menyamai rekor buruk mereka pada 1954.

Pascapertandingan

Plus: Van Persie bilang sebelum pertandingan ini, “Bagaimana cara mengembalikan kepercayaan diri tim? Dengan menang.” Sayangnya, itu gagal terwujud. Sekarang, lupakan dulu hasil, karena setidaknya visi kepelatihan Van Gaal tampak pada 20 menit terakhir babak pertama dan 15 menit awal babak kedua melalui penguasaan bola, permainan menekan, dan permutasi. Sisi positif lain adalah munculnya banyak pemain muda dalam tim. Martins Indi serta kombinasi duet Viergever dan De Vrij tampak menjanjikan.

Formasi 4-3-3 juga tanpa kesulitan berarti diterapkan Belanda. Van Gaal seperti mewarisi piranti komputer canggih yang gagal berfungsi di tangan Van Marwijk dan pada pertandingan ini mencoba mempreteli serta memasang fitur-fitur yang dirasa perlu dengan format yang berbeda. Robben dikembalikan sebagai sayap kiri sehingga meminimalisir sikap makan sendiri yang dikeluhkan banyak penggemar dan rekan sendiri di Euro 2012 lalu. Sementara, De Jong benar-benar difungsikan sebagai gelandang bertahan yang tidak hanya sekadar menjadi “tukang jagal” seperti di formasi Van Marwijk terdahulu. Namun, satu kesalahan yang dibuat pemain Manchester City ini menimbulkan andai-andai: kalau saja Kevin Strootman dimainkan, bisa jadi formasi ini kian sempurna.

Peran baru, tapi Nigel de Jong tetap saja belum cukup baik.

Minus: Jelas, sekarang kita harus bicara soal hasil. Tidak bisa dihindari. Sektor pertahanan masih menjadi titik lemah Belanda. Pemain muda tampil mengesankan, tapi mereka butuh figur senior yang membimbing. Ketika Maarten Stekelenburg berulang kali mematahkan peluang penyerang Belgia, kuartet bek muda seperti mulai melepas tanggung jawab masing-masing. Terbukti Stekelenburg tidak bisa sendirian menyelamatkan Belanda. Apakah itu tugas Mathijsen? Kalau dilihat, pertandingan ini bukan penampilan terbaiknya. [Catatan: di babak kedua kuartet bek yang diturunkan Van Gaal memiliki rata-rata usia 21 tahun!].

Bagaimanapun kekalahan bukan sesuatu yang diharapkan terjadi di awal kiprah Van Gaal karena pelatih kawakan ini bertugas mengembalikan kepercayaan diri tim dan publik. Jika Piala Dunia 2014 dimainkan besok atau bulan depan, jelas tim ini tidak kompetitif. Untuk sukses di babak kualifikasi, Van Gaal harus pandai membagi antara visi dan pragmatismenya. Pemain muda dan filosofi penting, tetapi juga harus menghasilkan. Rasanya kualifikasi nanti akan jadi perjalanan berliku bagi Van Gaal dan Belanda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: