Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Hidup Indah Seorang Pianis Jenius

with 4 comments

La dolce vita. Siapa yang tidak iri dengan hidup leyeh-leyeh ala Italia? Makan enak, wanita cantik, mengobrol santai sambil minum-minum kopi, dan ditengahi siesta. Hidup boleh sulit di luar sana, jadi tidak perlu menambah sulit dengan membicarakannya. Nikmati saja.

La Dolce Vita. Frase serupa digunakan Federico Fellini untuk film yang dibesutnya pada 1960 silam. Kurang lebih, pesan dalam film sama seperti semangat yang sudah saya sebut sebelumnya. Nikmati hidup, sekeras apapun tantangannya. Prinsip hidup ini mempengaruhi sebagian, kalau tidak seluruh, sinema Italia, seperti karya Giuseppe Tornatore, The Legend of 1900.

Film keluaran 1998 ini bernuansa melankolik dengan metafora nilai-nilai kehidupan. Tim Roth memerankan seorang pianis berbakat yang tumbuh di sebuah kapal transatlantik di awal abad 20. Ketika masih bayi, si pianis ditelantarkan begitu saja di atas kapal The Virginia yang menyeberangkan para perantau Eropa ke tanah baru bernama Amerika. Seorang awak kapal membesarkannya dan memberi nama panggilan unik, “1900”.

1900 rupanya seorang Mozart. Dia langsung menyatu begitu saja saat bertemu dengan piano. Profesi pianis untuk band pengiring di dalam kapal pun dijalaninya. Hidup 1900 kemudian dihabiskan bersama The Virginia yang ulang alik Eropa dan Amerika bertahun-tahun tanpa pernah sekalipun menginjakkan kaki di atas daratan.

Pernah sekali waktu rekannya, seorang peniup trompet, menegur untuk melihat dunia luar, melihat daratan. Bertemu seorang gadis, menikah, memiliki anak. Namun, 1900 terlanjur mencintai kehidupan yang dijalaninya di atas lautan. “Aku tidak takut kepada gedung-gedung atau jalanan yang kulihat, aku justru takut apa yang tak kulihat,” tangkisnya.

Tidak semua orang suka dengan sajian sentimentil. Mungkin alasan itu terlalu sulit diterima akal. Sepertinya 1900 terlalu betah tinggal di dalam kotaknya di zona nyaman. Tapi, penonton akan merasakan posisi si peniup terompet yang mencoba membujuknya turun ke daratan ketika The Virginia sudah tinggal jadi rongsokan dan akan diledakkan ke dasar laut. Apa yang bisa Anda goyahkan dari seseorang yang memang seluruh hidupnya dihabiskan di satu-satunya tempat yang dia kenal. Posisi siapa yang berada “di dalam kotak” atau “di luar” pun menjadi relatif.

Giuseppe Tornatore menggandeng komponis Ennio Morricone dalam musikalitas The Legend of 1900. Kebolehan Morricone dalam menggubah skor musik nyaris menjadikan film ini murni film musikal. Apalagi, Tornatore dengan sukses mampu mengawinkan scene yang menunjukkan kemampuan improvisasi 1900 yang luar biasa dengan musik yang menyentuh. Film ini takkan berhasil tanpa kemampuan musikalitas yang luar biasa pula.

Dengan demikian, ketika merasa jengah dengan sentuhan melankolis yang ditawarkan, iringan musik akan menyelamatkan film ini. Duel 1900 dengan seorang musisi yang mengklaim dirinya penemu jazz menjadi salah satu scene yang sangat diingat dari karya Tornatore ini.

Rating: 3,5/5

Iklan

Written by hawe11

April 9, 2012 pada 4:56 pm

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Gosh thank you for the article, i should see this movie then…!

    rieska

    April 14, 2012 at 1:16 pm

  2. mas aq mau beli dvdnya yg original ada gak buat kado ultah suami aq, dia suka banget sama film ini. bisa tolong bantu

    clara

    Juli 11, 2012 at 6:02 pm

    • halo Clara. kebetulan saya beli dvd-nya di Bangkok. di Jakarta memang kayaknya gak ada yang jual. sudah coba Amazon? harusnya ada ya..

      hawe11

      Juli 11, 2012 at 10:52 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: