Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Kamboja, Sepotong Kenangan Yang Enggan Diabaikan Sejarah (Bagian 2 – Habis)

with one comment

Berbeda dengan kebanyakan tujuan melancong, pengunjung tidak dapat bersenang-senang saat mengunjungi kedua lokasi itu. Ladang Pembantaian dan Tuol Sleng adalah warisan kekejaman Khmer Merah. Syahdan, pada 17 April 1975 Pol Pot bersama Khmer Merah menguasai Kamboja. Kedatangan gerilyawan Khmer Merah disambut gembira masyarakat Phnom Penh di jalan-jalan karena menyangka rezim pemerintahan baru akan membawa stabilitas negeri yang koyak-moyak akibat sengkarut perebutan kekuasaan. Dari tempat pengasingannya, Pangeran Norodom Sihanouk awalnya mendukung pendudukan tersebut. Namun, hanya dalam tiga hari harapan itu berubah drastis menjadi awal dari sejarah mengerikan.

Menandai dimulainya Tahun Nol, Khmer Merah memerintahkan masyarakat mengosongkan Phnom Penh dalam waktu tiga hari sehingga menciptakan gelombang migrasi besar-besaran keluar kota. Mereka juga menangkapi lawan-lawan politik serta kaum terpelajar. Tujuannya, menciptakan masyarakat berkelas tunggal, yaitu kaum petani yang mampu mencukupi kebutuhan diri sendiri. Hak individu dihapuskan dan semua menjadi milik negara. Setiap warga harus memakai pakaian serba hitam dilengkapi syal tradisional Khmer, Kroma, dan semua harus bekerja di ladang-ladang untuk bertani.

Pol Pot menangkapi para politisi, guru, profesor, hingga penyanyi terkenal untuk kemudian dibantai di ladang pembantaian di wilayah Choeung Ek, yang terletak 17 kilometer selatan Phnom Penh. Penangkapan serta pembantaian berlangsung di setiap pelosok negeri selama hampir empat tahun pemerintahan Khmer Merah dan menelan korban hingga 200 ribu jiwa. Setelah ditangkap, tahanan diinterogasi di Tuol Sleng, gedung sekolah yang dialihfungsikan sebagai pusat internir kelompok kontrarevolusioner. Di tempat yang diberi nama Penjara S-21 itu, tahanan disiksa untuk mengaku sebagai kelompok yang menentang Khmer Merah dan dipaksa untuk menyebutkan anggota komplotannya — meski mereka tidak bersalah sama sekali.

Kini, peninggalan mengerikan itu tersimpan di Tuol Sleng. Semua bangunan tidak diubah, termasuk sel-sel kecil seukuran tubuh manusia yang hanya dipisahkan oleh tembok batu bata seadanya. Rantai-rantai dan ranjang penyiksaan masih dibiarkan apa adanya memberikan nuansa yang menyesakkan dada pengunjung. Di bangunan lain, foto-foto tahanan dipamerkan. Ribuan tahanan didaftarkan sesuai nomor-nomor yang tergantung di dada masing-masing. Semua menatap nanar tanpa harapan. Tatapan mereka membuat naluri kemanusiaan Anda menjerit, adakah manusia yang tega melakukan kebiadaban terhadap sesamanya? Orang-orang tua, anak-anak, ibu dengan bayinya… semua menatap dan meminta agar tidak dilupakan oleh sejarah.

Hanya tujuh tahanan Tuol Sleng yang diketahui selamat setelah Phnom Penh dibebaskan tentara Vietnam Selatan, 7 Januari 1979. Selebihnya, dibunuh secara sistematis. Jika tidak meregang nyawa saat interogasi, Choeung Ek menjadi tempat memilukan yang mengakhiri hidup mereka. Semula Choeung Ek merupakan kuburan Cina masyarakat sekitar, siapa sangka kemudian menjadi kuburan massal rakyat Kamboja yang tidak bersalah? Ladang pembantaian ini mulai terungkap sejak 1980. Di 86 tempat perkuburan massal ditemukan hampir 9000 sisa-sisa keganasan korban Khmer Merah termasuk bayi dan anak-anak. Tulang belulang para korban kini disimpan pada sebuah bangunan stupa bertingkat sepuluh setinggi 62 meter yang mulai dibangun sejak 1988. Di setiap tingkat, sisa-sisa kekejaman Khmer Merah disimpan berdasarkan usia dan jenis kelamin. Tidak semua tulang belulang tersimpan di dalam stupa karena hingga sekarang pun jika hujan besar datang, serpihan tulang atau gigi masih bermunculan dari dalam tanah.

Untuk membekap telinga penduduk sekitar, tentara menggantungkan speaker di sebuah pohon besar serta memutar keras-keras lagu revolusi. Itu dimaksudkan untuk menyembunyikan rintihan korban saat dieksekusi. Peluru barang mahal. Para korban dieksekusi dengan dihujamkan sebilah besi atau linggis, atau popor senjata yang memukul pelipis mereka, atau ditikam pelepah kelapa sawit yang diruncingkan. Anak-anak dihempaskan ke sebuah pohon hingga tewas.

Total korban kekejaman Khmer Merah, termasuk eksekusi, penyiksaan, kelaparan, dan kerja paksa, diperkirakan sebanyak kira-kira 1,5 juta jiwa atau seperlima populasi Kamboja saat itu. Semua menjadi bayaran dari sebuah gagasan…

Choeung Ek terletak di kawasan persawahan serta pemukiman penduduk. Di luar pagar, terletak sawah serta sungai kecil tempat masyarakat sekitar menghidupi diri. Ketika saya datang, angin semilir menghempas-hempas pepohonan sekitar. Dingin makin mencekam ditambah dengan nuansa lirih kepedihan para korban.

Hembusan angin akhir tahun juga singgah di pinggir Sisovath Boulevard. Melepaskan diri dari Tuol Sleng dan Choeung Ek yang mencekam, kita bisa menghabiskan senja berjalan-jalan di jalur pejalan atau sekadar duduk-duduk di restoran yang bertebaran di sepanjang jalan. Di hadapan kita, Sungai Mekong membentang luas. Di blok lain dari Sisovath, modernisasi menyentuh wajah Phnom Penh berupa bangunan hotel sekaligus kasino Naga World. Penduduk sekitar menghabiskan waktu luang mereka dengan bercengkerama di lapangan depan kompleks megah itu.

Kamboja, negara yang tidak ingin dilupakan dengan segala memorinya. Warisan kemegahan Angkor Wat berpesan supaya tidak melupakan keluhuran peradaban, sementara Choeung Ek dan Tuol Sleng memohon agar kita tidak melupakan nilai-nilai kemanusiaan dalam peradaban.

Iklan

Written by hawe11

Januari 4, 2012 pada 12:34 pm

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Mari kita Mengheningkan cipta??berharap tuhan menyempurnakan arwah arwah yang belum sempurna untuk saudara kita…
    Terimakasih untuk penulis

    Amy alkautsar

    Juni 1, 2014 at 9:06 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: