Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Keseimbangan Dalam Kehidupan

leave a comment »

Tree of Life, pencarian makna kehidupan

Tree of Life, pencarian makna kehidupan

Tidak mudah memahami Tree of Life selagi menyaksikannya. Terlalu sulit mengikuti narasi Terrence Malick yang bergerak leluasa mengaburkan batas waktu dan ruang. Cerita film berpusat pada kehidupan keluarga O’Brien dengan ayah (Brad Pitt) yang penuh disiplin serta ibu (Jessica Chastain) dengan watak yang bertolak belakang, penuh kebijakan spiritual. Anak pertama mereka Jack (Hunter McCracken), yang dididik dengan keras tetapi berjiwa pemberontak karena terbebani keinginan-keinginan sang ayah. Film ini kemudian bergulir berkat kenangan Jack dewasa (Sean Penn) kepada almarhum adiknya yang meninggal dunia saat masih berusia 19 tahun.

“Why we are here?” Film dibuka narasi sang ibu dengan sebuah pertanyaan besar. Kenapa kita hadir di dunia? Kenapa kita hidup? Pertanyaan-pertanyaan yang sangat personal. Tree of Life memang terasa seperti pesan pribadi Terrence Malick tentang apa yang terjadi dalam kehidupan. Sutradara yang baru membuat enam film dalam 40 tahun karier itu pernah pula kehilangan seorang adik yang tutup usia saat berusia 19 tahun. Ditambah dengan voice over puitis yang bertebaran sepanjang narasi, film ini membuat penonton terhenyak dan merenungkan makna hidup.

Selain menggambarkan kehidupan dari sudut pandang sebuah keluarga dengan tiga orang anak laki-laki, Malick juga menggunakan kehidupan yang terjadi dalam skala yang lebih besar dan kecil. Terbentuknya planet; terciptanya kehidupan organisme seperti ikan purba, ganggang, amuba, hingga dinosaurus; tentang laut yang terus bergelora; awan-awan yang bergerak; dan gunung berapi yang meletup-letup. Kehidupan, jelas Malick, berdenyut dalam dirinya masing-masing.

Upaya menyandingkan dua sisi yang berbeda, makrokosmos dan mikrokosmos, merupakan salah satu bagian dari sekian banyak jukstaposisi yang dilakukan Malick sepanjang film. Seperti pula halnya dengan karakter Tuan dan Nyonya O’Brien yang bertolak belakang 180 derajat. Perbedaan cara pandang itu dituangkan dalam narasinya, “the way of nature” dan “the way of grace”. Jika sang ayah menganggap kehidupan bisa ditundukkan melalui kedisiplinan dan kerja keras, sang ibu menganggap kehidupan semestinya dipahami dengan bahasa-bahasa spiritual.

Jukstaposisi itu pula yang bertebaran ketika Jack dewasa mengenang masa kecilnya. Malick memvisualisasikan kenangan melalui kilasan-kilasan adegan singkat seperti ingin menggambarkan bagaimana ingatan kita bekerja. Tentang orang-orang cacat, anjing kampung, bercengkerama dengan teman-teman, kupu-kupu, atau dongeng sebelum tidur.

Tree of Life juga melontarkan pertanyaan tentang Tuhan. Secara khusus, adegan yang mengaitkan film dengan pertanyaan ini diberikan kepada karakter Sean dewasa. Diceritakan Sean masuk ke dalam pintu menuju sebuah pantai yang dipenuhi banyak orang, termasuk keluarganya. Semua berjalan dan kemudian berdiri menghadap laut dengan cakrawala yang terbentang luas seperti ingin mencari jawaban tentang makna hidup yang sudah dijalani.

Malick tidak berupaya memberikan jawaban tersebut kepada penonton. Terserah kepada kita untuk memaknai Tree of Life, termasuk guratan-guratan di kening untuk mencoba memahami maksud film atau sekadar mempertahankan diri di tengah lambatnya alur film. Meski tidak memiliki jawaban pasti, jukstaposisi yang ditawarkan Malick menguatkan kesan kehidupan berjalan berdasarkan sebuah prinsip keseimbangan. Mungkin itulah jawaban paling dekat yang bisa dicari memaknai Tree of Life.

Tidak begitu menyenangkan untuk ditonton, tetapi kedalaman makna dan keindahan visualisasi Tree of Life mencengkeram otak belakang kita selepas menyaksikannya.

 

Rating: 5/5

*Review film Tree of Life (Terrence Malick, 2011)

Iklan

Written by hawe11

September 15, 2011 pada 4:22 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: