Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Katsudon yang Tak Perlu Banyak Bumbu

leave a comment »

Tidak perlu bersolek untuk dapat dilirik sebagai film dengan kualitas tersendiri.

Takeshi Kitano tidak banyak bereksperimen, barangkali malah terlalu konservatif ketika membesut Outrage, film yang mengisahkan tentang seluk beluk dunia yakuza.

Mungkin sosok Kitano lebih banyak diingat sebagai Zatoichi, karakter pendekar tuna netra berpedang samurai. Dalam Zatoichi, Kitano menampilkan raut muka yang nyaris tanpa ekspresi dan tanpa kompromi — no-nonsense attitude. Sikap seperti ini pula yang dengan jelas terlihat sejak menit permulaan Outrage hingga adegan penutup.

Outrage tidak bertele-tele. Kisahnya sederhana, tentang siklus hidup kelompok yakuza Sannokai yang dipimpin Sekiuchi. Bak seorang godfather, Sekiuchi mengendalikan “kerukunan” kelompok-kelompok yang bernaung di bawahnya sehingga satu sama lain tidak saling memakan nafkah masing-masing. Berbagai karakter dimunculkan untuk menambah bobot cerita, tetapi simpul inti film adalah karakter Otomo, dimainkan sendiri oleh Kitano, pemimpin kelompok dua tingkat di bawah Sekiuchi.

Mirip seperti Godfather, gejolak dalam kelompok Sannokai muncul ketika ada kelompok anggota yang berupaya mencari lebih banyak pemasukan dengan menjalankan bisnis sampingan, seperti hiburan malam, perdagangan narkoba, hingga kasino ilegal. Dalam Outrage, konflik pertama muncul ketika anggota kelompok Otomo berselisih dengan kelompok Murase karena masalah tagihan di kelab malam. Untuk menyelesaikannya, Otomo dan Murase mencari petunjuk Ikemoto, penghubung mereka ke Sekiuchi. Tentu saja Ikemoto baru bisa mendamaikan setelah mendapat petunjuk dari sang bos besar.

Begitu alur film mengalir, konflik tersebut membesar dan akhirnya melibatkan pimpinan kelompok masing-masing.

Kitano mencoba mengatakan ada hukum sebab-akibat yang tidak tertulis di dalam kelompok yakuza seperti Sannokai. Perdamaian akan terganggu ketika muncul sedikit saja keserakahan. Parahnya, selayaknya seorang Machiavellian, konflik tersebut justru dipelihara Sekiuchi untuk menjaga agar ladangnya tetap hijau sekaligus memperoleh kepatuhan para bawahan.

Semua konflik tersebut merupakan sebab, dan sebagai akibat, semua yang terlibat mendapat konsekuensi masing-masing. Kematian menjadi risiko terburuk disertai dengan jatuhnya kelompok yang sudah mereka besarkan.

Outrage mulai ditayangkan Mei tahun lalu bertepatan dengan Festival Cannes dan dirilis di Jepang sebulan kemudian. Kitano tidak berupaya memberi arti atau pesan tersembunyi apapun dalam film ini, kecuali hiburan belaka.

“Tadinya saya ingin membuat film yang lebih dari sekadar menghibur, tetapi saya langsung sadar, setelah dua film saya terdahulu [Glory to the Filmmaker! dan Achilles and the Tortoise], saya seperti terjangkit penyakit seniman. Saya ingin membuat film yang menyenangkan audiens, untuk menunjukkan kalau seorang koki tua masih bisa menjual katsudon [makanan khas Jepang],” ujarnya dalam Asahi Shimbun.

Untuk film yang tidak menjual efek spesial dan teknik editing kecepatan tinggi, Kitano sudah berhasil melakukannya. Apalagi, film ini tidak banyak diimbuhi musik latar sehingga justru menambah kekhidmatan dalam setiap adegan kekerasannya. Karakterisasi dan kelindan jalan cerita menjadi senjata andalan film ini.

Saat dirilis di Jepang, Outrage menjadi film keempat terlaris dan hingga awal Juli 2010 sudah mencatat pemasukan lebih dari US$7 juta dolar. Kesuksesan “katsudon” bikinan Kitano rupanya membuat ketagihan dan dalam waktu dekat segera dirilis logi kedua Outrage. Belum jelas keterkaitan plot ceritanya dengan logi pertama serta karakter dalam film, tetapi yang pasti hidangan “katsudon si koki tua” kembali layak dinanti.

*Resensi film Outrage (Takeshi Kitano, 2010). 

Iklan

Written by hawe11

Mei 23, 2011 pada 10:08 pm

Ditulis dalam resensi

Tagged with , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: