Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

A Prophet: Kisah Epik Penemuan Jati Diri

with one comment

A Prophet, paduan Scarface dan Godfather versi modern

Penjara, demikian Michel Foucault, adalah institusi sosial yang mengontrol pembangkangan dengan mengawasi setiap gerak-gerik para pembangkang. Penjara, bagi kelompok penguasa, adalah alat kendali sosial. Tapi benarkah penjara dapat mengawasi semua penyimpangan?

A Prophet (2009) memang tidak dijadikan sutradara Jacques Audiard sebagai kritik atau cermin sosial tentang keberadaan penjara dalam peradaban manusia modern. Dalam A Prophet, institusi tersebut dijadikan media bagi tokoh utamanya menemukan jati diri.

“Nous voulions fabriquer des héros à partir de figures que l’on ne connaît pas, qui n’ont pas de représentation iconique au cinéma, comme les Arabes par exemple,” cetus Audiard.

Film ini bertujuan menciptakan ikon atau pencitraan masyarakat yang jarang diangkat perfilman, jelas sang sutradara, seperti masyarakat keturunan Arab di Prancis. Lebih lanjut, Audiard sebenarnya ingin menghindari filmnya dijadikan alat mengamati fenomena sosial kiwari. Bagi penonton umum, seperti kita di Indonesia, inti cerita film memerlukan keterkaitan dengan fenomena sosial yang terjadi.

Masyarakat Arab di Prancis adalah kaum minoritas. Sebagian besar dari mereka adalah kaum imigran dari wilayah eks koloni Prancis di Afrika Utara. Keberadaan kaum imigran Muslim ini berkembang pesat sehingga dalam satu dasawarsa terakhir pemerintah sekuler Prancis memberikan tempat tersendiri dengan pembentukan sebuah dewan khusus. Kebijakan tersebut ditentang keras kelompok sayap kanan Prancis. Mereka menganggap kelompok Arab adalah sampah masyarakat Prancis. Secara sosial budaya, masyarakat Arab memang menjadi kelompok kelas kedua yang tinggal di pinggiran kota serta lekat dengan citra kekerasan dan kriminalitas.

Sekarang kita bahas sekelumit isi perut A Prophet. Tokoh utama film adalah Malik El Djebena (Tahar Rahim). Masuk penjara Brecourt saat berusia 19 tahun dengan vonis enam tahun di dalam bui seperti pindah dari satu kegamangan ke kegamangan yang lain. Malik adalah produk dari generasi kedua kaum imigran Arab-Prancis. Lahir di dan lancar berbahasa Prancis, tapi memilik garis keturunan Arab, Malik tidak memiliki keeratan budaya secara khusus. Audiard memperkenalkan kegamangan tersebut persis saat Malik masuk penjara sehingga tak perlu basa-basi prolog yang bertele-tele.

Tidak memiliki sosok yang dijadikan panutan di luar penjara, Malik yang yatim piatu “diadopsi” kelompok Corsica di dalam penjara. Niat baik tersebut tentu atas dasar imbalan tertentu — atau dari sudut pandang Malik, lebih merupakan sebuah keterpaksaan. Pimpinan geng, Cesar Luciani (Niels Arestrup), ingin menyingkirkan seorang tahanan berdarah Arab, Reyeb, yang hendak bersaksi memberatkan kelompoknya di pengadilan. Mungkin tidak perlu lagi dijelaskan, namun seperti diceritakan banyak film lain tentang penjara, narapidana berkelompok berdasarkan kesamaan tertentu — ras atau suku bangsa. Tak perlu pula dijelaskan, Corsica adalah salah satu pulau yang masuk wilayah pemerintahan Prancis tapi memiliki keeratan budaya dengan Italia.

Sambil disertai ancaman, Luciani menugaskan Malik membunuh Reyeb karena mereka sama-sama tinggal di blok narapidana Arab. Meski sempat mengalami konflik batin, Malik berhasil menjalankan “tugas” tersebut untuk kemudian resmi “dilindungi” kelompok Luciani.

Inisiasi tersebut menjadi pintu perkenalan Malik menuju dunia yang sama sekali baru. Seiring waktu, Malik berkawan dengan Ryad, narapidana Arab lain, dan seorang junkies bernama Jordi. Dari semua relasi tersebut, Malik dengan tekun membangun jati dirinya. Hanya, Malik sulit diterima di kelompok Arab karena citranya kadung lekat sebagai “pesuruh” geng Corsica. Sepanjang film, akting Tahar Rahim dan Niels Arestrup berhasil menghidupkan hubungan antara Malik, yang menjadi anak didik, dan sang mentor, Luciani.

Saya sudah memperingatkan di awal tulisan. A Prophet tidak berupaya dijadikan sebagai jawaban atas berbagai masalah sosial, secara khusus persoalan masyarakat Arab di Prancis. Film ini murni menjadi sebuah kisah yang dibesut dengan kekuatan cerita dan akting Tahar Rahim sebagai pemain utamanya.

Untuk membantu Malik menemukan jati dirinya, Audiard menggunakan figur Reyeb, yang dijadikan media menyuarakan konflik batin si tokoh utama. Setelah dimatikan, Audiard memunculkan “hantu” Reyeb dalam beberapa adegan sebagai lawan bicara Malik. Dalam sebuah adegan, Reyeb menyerukan lima ayat pertama surat Al-Alaq kepada Malik. Penggunaan ayat tersebut mungkin dapat dikatakan lancang oleh sebagian umat Muslim karena seolah-olah dijadikan pembenaran tindakan kriminal. Tapi, jika dilihat dari sisi personal, wahyu pertama Tuhan kepada Nabi Muhammad itu menggambarkan perjuangan Malik mencapai tujuan hidupnya, yaitu dengan “membaca”.

Justru di dalam penjara lah Malik menemukan motivasi memperbaiki taraf hidup. Berbekal keinginan kuat dan ketekunan, Malik yang buta huruf belajar membaca. Ketekunan pula yang membimbing Malik mengenali lingkungannya dan berjuang mengatasi segala kesulitan.

Lambat laun, Malik akhirnya memiliki kendali atas hidupnya sendiri. Berawal dari program pembebasan bersyarat selama 12 jam sehari, tentu dengan imbalan tertentu kepada kelompok Corsica yang melindunginya, Malik berhasil meraih simpati dari kelompok Arab.

Pada saat yang sama, ketika Malik dapat menentukan arah hidupnya sendiri, mendadak Reyeb yang sudah menjadi sosok malaikat pendamping menghilang. Pintu hidup sudah terbuka bagi Malik. Ketika dia menyelesaikan hukuman penjara, pintu yang lain pun terbuka untuknya: sebuah kerajaan hasil kerja keras selama menjalani hukuman.

Jangan bayangkan A Prophet seperti The Shawshank Redemption atau The Green Mile yang mampu memberikan jawaban moral atas eksistensi institusi bernama penjara tadi. A Prophet adalah sebuah epik tentang dunia kriminal; tentang kekerasan; tentang bagaimana seseorang berupaya menumbuhkan hidupnya di atas kriminalitas dan kekerasan tersebut. A Prophet adalah kisah Scarface modern dengan tokoh utama yang cergas. Jika Tony Montana menemui tragedi di akhir Scarface, Malik El Djebena bak seorang Michael Corleone yang berhasil menemukan dunia barunya.

Di beberapa ajang film internasional, A Prophet mengundang pujian. Film ini memenangi Grand Prize di Cannes Film Festival dan menjadi film asing terbaik di BAFTA Film Award.  Di dalam negeri, A Prophet merajai Cesar Awards dengan menggondol sembilan penghargaan. A Prophet juga menjadi yang terbaik di European Film Awards dan Golden Globe. Sayangnya, A Prophet tidak berhasil meraih penghargaan film asing terbaik di ajang Oscar.

Semua penghargaan tersebut terasa pantas karena akan sulit melupakan A Prophet dalam satu dasawarsa ke depan.

*Review film A Prophet (Jacques Audiard, 2009).

**Gambar diambil dari http://www.flixster.com

Iklan

Written by hawe11

Agustus 26, 2010 pada 11:11 pm

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. wah, boleh nih… langsung ambil lagi deh 🙂 tarik mang

    Sky

    Agustus 31, 2010 at 12:52 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: