Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Investasi Trabucco

with 2 comments

Dalam sepakbola, pemain muda adalah salah satu produk investasi. Hasil tidak akan terlihat dalam jangka waktu dekat, tapi baru akan terasa manfaatnya di masa depan.

Itulah kenapa Ajax Amsterdam menamakan akademi pembinaan pemain mudanya dengan sebutan “De Toekomst” — masa depan. Jarang sekali pemain sepakbola remaja yang langsung mentas di sepakbola internasional. Pele juara dunia saat berusia 17 tahun, tapi itu ketika sepakbola baru berkembang dan Piala Dunia masih diikuti 16 tim. Kini, ada 32 tim yang bertarung di Piala Dunia. Begitu bergengsinya turnamen itu sehingga tim-tim mengirimkan para pemain terbaiknya. Kesempatan bagi pemain muda kian kecil. Tim dengan usia rata-rata termuda di Piala Dunia 2010 adalah Ghana — 24 tahun lebih sedikit. Angka tersebut tak jauh dari usia emas pesepakbola yang berkisar antara 23-28 tahun.

Di Indonesia, kasusnya berbeda. Ketimbang mencari — apalagi membibitnya — pemain muda, tim-tim Indonesia lebih senang memaksimalkan kuota pemain asing yang ada. Tiga plus dua: tiga pemain asing, dari Amerika Selatan atau Eropa atau Afrika, ditambah dua pemain asal Asia. Bertaburan lah pemain-pemain asing yang mengisi posisi sentral tim-tim kuat Indonesia. Alberto Goncalves, Cristian Gonzales, Aldo Baretto, Zah Rahan, Herman Abanda, Pierre Njanka…, Luciano Leandro, Carlos de Melo, Osvaldo Moreno, Emmanuel Maboang Kessack, Daryl Sinnerine… dan lain-lain. [Bahkan kisah sukses Persib Bandung menjuarai Liga Indonesia pertama dengan materi seratus persen pemain lokal sudah mulai berbalut debu sejarah.]

Belakangan, ramai dibicarakan kebijakan naturalisasi pemain. Kebijakan yang dimaksud adalah “memulangkan” para pemain berdarah Indonesia yang berkompetisi di daratan Eropa untuk berseragam tim nasional. Pernyataan Sergio van Dijk dua tahun lalu memantik sentimen ini. Pemain blasteran Belanda-Maluku ini mengungkapkan keinginan membela Indonesia di pentas internasional kepada media Australia. Sontak saja, sejak saat itu nama Van Dijk selalu dibahas penggemar sepakbola nasional.

Kalangan penggemar kian percaya pada sebuah mitos: datangnya seorang pemain yang akan mengangkat persepakbolaan Indonesia ke puncak kejayaan. Prestasi terakhir Indonesia adalah medali emas SEA Games 1991. Pasti banyak fans muda sepakbola yang tak pernah merasakan nikmatnya merayakan kemenangan timnas. Pantas saja kalau mereka memilih jalur eskapis, membela tim kuat Eropa yang bisa disaksikan melalui televisi. [Lagipula, sepakbola mereka memang lebih baik bukan?]

Akhir Juli, datang lah tiga pemain keturunan untuk membuktikan mitos ini. Irfan Bachdim, yang pernah dites Persib dan Persija Jakarta; Kim Jeffrey Kurniawan, cucu legenda sepakbola Indonesia, Tan Liong Houw; dan Alessandro Trabucco, remaja akil balig berayah Italia dan beribu Bali. Di kalangan akar rumput penggemar, tiga nama itu sebagian kecil dari pemain-pemain berdarah Indonesia lain yang tersebar di Eropa. Kebanyakan bermain di Belanda. Masih ada yang menyebut-nyebut nama Radja Nainggolan, meski sang pemain sudah cenderung membela Belgia — negara asal ibunya. Ada pula Donovan Partosoebroto, Raphael Supusepa, Jeffrey Leiwakabessy, Michael Timisela, Ignacio Tuhuteru, Marciano Kastoredjo, Yoram Pesulima, Marvin Wagimin, dan lain-lain.

Masyarakat sepakbola Indonesia sedang dirasuki globalisasi. Pengurus PSSI pun dikabarkan berburu pemain keturunan ke Eropa untuk dibujuk mengenakan seragam Garuda di pentas internasional. Opini publik pun terbelah dua. Satu mendukung ide naturalisasi pemain-pemain keturunan, satu lagi mengrkritik pendekatan yang dianggap instan dan mengabaikan pembinaan produk-produk asli lokal.

Saya tetap bilang, ide naturalisasi sepantasnya didukung mengingat faktor kemanusiaan. Jika ada pemain seperti Van Dijk yang ingin membela negara leluhurnya, kenapa Indonesia tidak mau membuka pintu? Persoalan memang tidak sesederhana itu karena ada beberapa persyaratan yang ditetapkan hukum negara ini sebelum melakukan naturalisasi. Pastinya, Indonesia tidak mengenal prinsip dua kewarganegaraan, sehingga pemain seperti Van Dijk harus memilih paspor. Jika memilih Indonesia, serta merta hilang pula hak-hak sosial politik Van Dijk sebagai warga Belanda.

PSSI juga sebaiknya bersikap adil dengan membantu proses naturalisasi beberapa pemain asing dan mantan pemain asing yang sudah mencintai Indonesia selayaknya bumiputera lainnya. Seorang mantan pemain yang sudah berkecimpung sejak Liga Indonesia edisi awal pernah mengatakan kepada saya, sulit sekali mengurus naturalisasi kewarganegaraan di kantor yang berwenang di Indonesia. Dia bahkan dimintai uang Rp1 milyar untuk mengurus segala sesuatunya. Tak punya uang yang diminta, sang mantan pemain memilih ulang-alik mengurus kartu izin tinggal sementara saban tenggatnya mulai habis.

Padahal, pemain-pemain seperti Cristian Gonzales, Claudio Lazuardi, atau Antonio Claudio, sudah “setengah” warga Indonesia. Bahasa Indonesia mereka lancar dan mereka memperistri orang Indonesia. Apa lagi yang kurang? Masalah mereka tidak mendapat tempat di timnas, itu masalah lain. Pilihan untuk memeluk kewarganegaraan Indonesia adalah hak asasi mereka. Kenapa tidak dibantu?

Buka kembali buku sejarah. Pelatih masyhur Tony Pogacnik begitu mencintai Indonesia, sehingga pria berkebangsaan Yugoslavia itu meminta dikebumikan di Indonesia jika tutup usia. Sekarang, ada yang tahu letak pusara Pogacnik? Tidak tahu. Ada pula Jairo Matos, pemain asal Brasil yang pernah memmperkuat Pardetetex dan PSMS Medan. Jatuh cinta pada Indonesia, Jairo Matos beralih menjadi warga negara Indonesia dan menetap di Medan. Apa kabar bapak Jairo sekarang?

Proyek naturalisasi memang tidak seharusnya menjadi obat instan untuk mendatangkan prestasi bagi timnas. Baru saja Ken Bates mengecam sikap sebagian pemilik asing klub-klub Inggris yang lebih tertarik “membeli” kesuksesan ketimbang benar-benar menjalankan bisnis klub sepakbola. Sepakbola memiliki semacam tanggung jawab sosial kepada penggemar, meski kesuksesan dipandang perlu. Sepakbola adalah suatu proses. Tim harus dibangun dengan komposisi memadai mulai dari kekuatan tim secara teknik hingga prasarana tim, macam stadion, fasilitas latihan, penunjang, serta akademi pemain muda.

Apakah prinsip tersebut dapat berjalan di Indonesia? Anda bayangkan saja kalau misalnya Alessandro Trabucco diminati sebuah klub asal Indonesia. Pemain blasteran Italia ini baru saja berulang tahun yang ke-16, 25 Juli lalu. Di Indonesia, usia itu merupakan usia rata-rata kelas 2 SMU. Jika hijrah ke Indonesia, bagaimana klub barunya menjamin pendidikan bagi Ale? Kedua, bagaimana dengan tahun berikutnya? Klub Indonesia terkenal sebagai entitas yang memiliki siklus tiap satu tahun saja karena sebagian besar anggaran klub ditalangi APBD. Kalau manajemen klub tersebut berganti, bagaimana dengan nasib Trabucco? Haruskah pindah klub pula? Kembali harus diingat, Trabucco baru berusia 16 tahun dan butuh banyak waktu untuk mengembangkan kemampuan. Trabucco harus memilih klub yang memiliki visi jauh ke depan sebagai tempatnya menekuni sepakbola di Indonesia. Sayangnya, adakah klub dengan visi seperti itu?

Mengurusi sepakbola adalah memelihara investasi. Tekun, cermat, bernas, visioner, serta sabar menunggu buah manisnya. Sayangnya, Indonesia sudah gelap mata mencari cara memetik buah prestasi meski tak pernah memupuk pohonnya. Mungkin kita terlalu lama terpaku di depan televisi memuja sepakbola Eropa.

Iklan

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Tulisan yang menarik. Ulasan yang ciamik. Sayang, pengurus sepakbola negerinya sulit dikritik.

    Guladig 9

    Agustus 12, 2010 at 10:58 am

  2. artikel yg mengagumkan.

    sayangnya,

    Lembaga sepakbola di Indonesia yg masih Goblok,
    & hanya memikirkan jabatannya sendiri.

    gak mau memikirkan masa depan sepakbola negeri ini.

    PSSI dimana ?

    Januari 1, 2011 at 11:07 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: