Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Tangan-Tangan yang Menentukan

with one comment

Sejarah ditulis oleh dan untuk pemenang.

Hampir satu bulan berlalu dan ada kekecewaan yang ingin saya hindarkan setiap kali mengingat Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Harus diakui, saya merindu suasana turnamen. Memang tidak secara langsung hadir di Afrika Selatan, tapi saban sore saya kehilangan detik-detik penantian pertandingan. Saya merindukan build-up match yang menegangkan itu. Sigh.

Saya juga belum bisa melupakan kekecewaan atas kalahnya Belanda di final. Bukan karena kalah. Tapi karena tak adanya fair chance ketika bertanding gara-gara kepemimpinan wasit Howard Webb yang entah terpengaruh sentimen apa. Jelas sekali si botak Webb sudah berniat memberikan para pemain Belanda dengan kartu kuning, kemungkinan besar karena media keburu melabeli Belanda sebagai tim terkotor dalam turnamen. Tak bisa dipungkiri, statistik pun membuktikan begitu. Tapi bukankah itu menunjukkan ketangguhan fisik — yang disuguhkan duet Mark van Bommel dan Nigel de Jong — tak ada duanya sepanjang turnamen.

Tak ada konsistensi kepemimpinan dari si botak Webb. Satu momen, dia membiarkan pelanggaran Carles Puyol terhadap Arjen Robben. Satu momen yang lain, pelanggaran identik dilakukan John Heitinga kepada Andres Iniesta. Puyol lolos dari sanksi, Heitinga menerima kartu kuning kedua. Terima kasih, Webb.

[Omong-omong soal Iniesta, dengar-dengar kabar bakal dibikinkan film untuk sang pahlawan-apalah-itu. Well, pembuat filmnya mesti butuh kamera underwater yang mumpuni…]

Okelah, cukup di sini saja keluhannya karena saya tak mau terdengar sentimentil.

Kepemimpinan Webb merupakan puncak dari sebuah kekacauan sepakbola modern. Makin gencar FIFA menginovasi sepakbola, makin runyam masalah yang ditimbulkannya. Makin dalam tangan-tangan pengatur sepakbola mencampuri urusan dalam lapangan, makin gencar kontroversinya.

Enam bulan sebelum turnamen digelar, Thierry Henry menggunakan tangan untuk menahan umpan rekannya sebelum memberikan bola kepada William Gallas. Upaya tersebut berbuah gol vital yang meloloskan Prancis dari hadangan Irlandia dan bergabung sebagai salah satu tim peserta Piala Dunia. Ulah yang dikecam dan seolah mendapat pembalasan setimpal ketika Prancis melempem di Afrika Selatan.

Pada babak penyisihan grup, dua pemain Serbia melakukan handball dua kali beruntun. Zdravko Kuzmanovic “memberikan” kemenangan kepada Ghana pada pertandingan perdana. Kebodohan serupa diulangi Nemanja Vidic saat melawan Jerman — bedanya, kali ini Lukas Podolski gagal memanfaatkan hadiah penalti. Ajaibnya, masih grup yang sama, Ghana berhasil menyamakan kedudukan melalui penalti karena tangan pemain Australia Harry Kewell menahan laju bola. Aksi yang lebih berbau ketidaksengajaan itu diganjar wasit dengan sebuah kartu merah.

Kisah tangan-tangan yang menentukan di Afrika Selatan belum selesai. Tangan Luis Fabiano dua kali melakukan sentuhan dengan bola sebelum mencetak gol “indah” ke gawang Pantai Gading. Wasit Stephane Fannoy sudah mencermati ulah striker Brasil tersebut dan sempat menghampiri Fabiano usai mencetak gol. Bahasa tubuh Fannoy mengatakan, “Kau menyentuh bola dengan tangan?” Tentu saja Fabiano membantah. Heran, Fannoy cuma membalasnya dengan cengiran. Usai pertandingan, Fabiano mengklaim gol “indah” tersebut layak disebut-sebut sebagai “gol tangan Tuhan yang sebenarnya”. Karuan saja si pemilik asli gol tangan Tuhan, Diego Maradona, menolak mentah-mentah disamakan.

Klaim serupa juga dilansir Luis Suarez usai “membantu” Uruguay lolos ke semi-final dengan menamatkan perjuangan Ghana melalui adu penalti. Pada menit terakhir babak perpanjangan waktu, Suarez menghalau sepakan pemain lawan dengan tangan. Insiden jelas tertangkap wasit dan tanpa ampun Suarez dikartumerah. Ironisnya, Asamoah Gyan gagal mengeksekusi penalti. Di babak adu penalti, Ghana kehilangan momentum dan menyerah kalah. Suarez, si “pebola voli” atau “kiper terbaik Piala Dunia”, disanjung sebagai salah satu pahlawan kemenangan Uruguay meski luas diakui tindakannya tidak terpuji.

Sepakbola modern sudah gila.

Pasca-Piala Dunia, wacana mengarah kepada perbaikan sistem perwasitan karena insiden kontroversial pada pertandingan Jerman melawan Inggris. Wasit Jorge Larrionda dari Uruguay tak melihat bola sepakan Frank Lampard sudah melalui garis gawang lebih dari satu meter. Bodohnya, asisten wasit Mauricio Espinosa tak bisa membantu sang pemimpin pertandingan karena pandangannya terhalang. Inggris kalah telak 4-1 dan insiden tersebut terus dibicarakan dalam buku sejarah sepakbola.

Saya lihat kemajuan teknologi tak berpihak kepada wasit. Selain harus mengawasi laju pertandingan, terkadang kualitas kepemimpinan wasit juga dinilai dari puluhan kamera yang merekam setiap laku gerak pertandingan dari pinggir lapangan. Semuanya atas nama kepuasan pemirsa televisi. Setiap kejadian kini sudah bisa dinikmati melalui tayangan replay, tapi seperti pedang bermata dua. Gol-gol dan momen-momen menentukan bisa dinikamti pemirsa televisi, sama halnya setiap kejadian menghebohkan macam handball, penalti, off-side, gol siluman Lampard, aksi-aksi diving Iniesta yang mengagumkan, dan lain-lain.

Teknologi video mungkin diperlukan, tapi biarkanlah sepakbola menjadi sepakbola apa adanya di atas lapangan ketika sebelas pemain berupaya mengalahkan sebelas pemain lainnya dengan kemampuan sebaik mungkin. Lain dari mereka, ambil posisi duduk nyaman saja menyaksikan pertandingan.

Iklan

Written by hawe11

Agustus 2, 2010 pada 12:18 am

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. artikel yang sangat menarik….

    tampilkan artikel agar profitable di http://www.imcrew.com/?r=359671

    Hanisya Collections

    Agustus 2, 2010 at 12:27 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: