Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Bayern Boleh Juga

with 4 comments

Meski bukan olahraga terukur seperti atletik atau balapan, hitungan waktu sangat berpengaruh dalam sepakbola.

Martin Demichelis mungkin sekarang sedang merenungi nasihat dari pelatih Louis van Gaal. Tak kurang dari presiden kehormatan Bayern Muenchen Franz Beckenbauer juga pernah menasihatinya. Sebagai seorang pemain belakang, kesalahan sekecil apapun fatal akibatnya.

Hanya dalam 90 detik pertama pertandingan pertama perempat-final Liga Champions, Bayern sudah tertinggal 1-0 dari Manchester United di kandang sendiri.

Pasalnya, bek Argentina itu menerjang kaki Luis Nani sebelum setengah menit pertandingan berjalan di pinggir lapangan. Itu kesalahan pertama. Dari tendangan bebas yang diambil Nani sendiri, Demichelis lengah menjaga Wayne Rooney dan terciptalah gol ke dalam gawang Bayern.

Demichelis hanya selamat dari kambing hitam kekalahan berkat gol-gol Franck Ribery dan Ivica Olic pada seperempat jam terakhir pertandingan. Tendangan bebas Ribery berbelok karena menghantam kaki Ribery, sedangkan Olic menjadi pahlawan kemenangan berkat golnya saat tambahan waktu.

Bayern menang 2-1 dan boleh berangkat ke Old Trafford dengan penuh optimisme.

Di Allianz Arena, Bayern menguasai pertandingan. Tapi, 90 detik pertama itu mengubah segalanya. Kalau saja tidak kebobolan gol cepat Rooney, mungkin saja Bayern menang lebih meyakinkan.

Bukannya meremehkan kekuatan United, tapi Bayern unggul segalanya di atas lapangan. Hanya, Bayern seperti kekurangan pengalaman berlaga di babak sepenting ini. Tuan rumah tidak mampu memanfaatkan keunggulan fisik dan taktik mereka saat bertanding.

Tidak ada peluang yang dapat mereka hasilkan dari permainan umpan-umpan silang, dari bola hidup maupun bola mati. Padahal, mereka punya dua bek raksasa, Demichelis dan Daniel van Buyten. Ujung tombak yang dipasang, Olic, juga bertipe penyerang petarung bukan penyelesai sejati.

Praktis, Bayern mengandalkan kreativitas Ribery semata. Pemain Prancis ini paling berbahaya sepanjang pertandingan dan boleh dinobatkan sebagai pemain terbaik. Hamit Altintop baru mulai dapat mengimbanginya pada babak kedua, sedangkan Thomas Mueller lebih sibuk menopang kerja Olic di lini depan.

Saya berandai-andai, jika Bayern memiliki striker bertipe oportunistis, boleh jadi pertandingan sudah diwarnai hujan gol. Bayern butuh seorang penyelesai yang pandai membaca peluang. Ketika para gelandang melepas umpan atau tendangan, Olic nyaris selalu tertinggal langkah untuk menyambar atau mencocor bola muntah.

Jika saya jadi Louis van Gaal, saya akan memasang Miroslav Klose sejak awal.

Tentu Van Gaal punya pertimbangan sendiri memasang Olic. Buktinya, kerja keras Olic membuahkan gol kemenangan Bayern. Ajaib, karena justru pada saat itulah Olic bersikap oportunistis.

Taktik United yang menyandarkan serangan pada pergerakan Rooney dapat diantisipasi Bayern dengan menerapkan penjagaan berlapis. Pertahanan Bayern jadi tidak tampak senaif bek-bek AC Milan pada babak 16 besar. [Ingat betapa bek-bek Milan membiarkan Rooney mencetak empat gol melalui sundulan kepala dengan skenario yang persis sama?]

Bayern harus menjaga ritme pertandingan pada laga kedua di Old Trafford pekan depan. Mungkin tugas mereka akan lebih ringan karena Rooney tampak mengalami cedera kaki. Mudah-mudahan tak serius seperti kelihatannya, karena sebagai penonton netral, tentu bakal lebih asyik menyaksikan kedua tim berlaga dengan para pemain terbaiknya.

Terakhir, buat Ribery, tunda dulu niat Anda meninggalkan Bayern. Kalau melakukan transfer dengan tepat musim panas mendatang dan mempertahankan skema Van Gaal seperti saat ini, Bayern akan jauh lebih baik musim depan.

Iklan

Written by hawe11

Maret 31, 2010 pada 4:51 am

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Saya BARCEER Contra MU dan INTER MILAN….

    JADI KEMENANG BAYERM SAYA CUKUP SENANG…

    SALAM KENAL KK…
    http://firtstest.wordpress.com/

    men999

    Maret 31, 2010 at 5:01 am

  2. Mantab bro..!!!

    dhuryodana

    Maret 31, 2010 at 5:13 am

  3. Bayern sebenarnya hanya bermain biasa-biasa saja, hanya pemain-pemain MU memang tampil di bawah form. Itu diperparah oleh strategi keliru yang diterapkan Sir Alex Ferguson. Menempatkan Fletcher, Carrick, dan Scholes secara bersamaan adalah kemubaziran. Maksudnya memang untuk menahan gaya posession ball yang menjadi trade mark Bayern di bawah Louis van Gaal. Namun, itu berarti mengebiri agresivitas The Red Devils sendiri. Lalu, memasukkan satu striker tambahan dalam posisi unggul 1-0 juga mendatangkan pertanyaan tersendiri. Di tengah suplai bola yang tak terlalu melimpah dari lini tengah, kehadiran Berbatov tak berarti apa-apa.

    Soal gol cepat Rooney akibat kesalahan Demichelis, itu sesuai perkiraan. Musim ini, Demi jauh menurun. Dia tak sesolid dua musim lalu. Ditambah kondisi fisik yg tak begitu fit, jadilah dia titik lemah permainan Bayern.

    Olic? Sudah sepantasnya dia menjawab kepercayaan Louis van Gaal dengan gol krusialnya itu. Sabtu lalu, dia marah karena digantikan saat jeda pertandingan. Kesempatan bermain penuh pada laga versus MU pastinya adalah hasil lobi kepada sang pelatih.

    Gian

    Maret 31, 2010 at 9:17 am

    • ulasan yang mantap dari bung Gian. ada link menuju blog saudara? 😉

      hawe11

      April 1, 2010 at 12:41 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: