Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Festival Rock yang Melankolik

leave a comment »

Taking Woodstock, penuh dramatisasi Ang Lee

Taking Woodstock, penuh dramatisasi Ang Lee

Ang Lee tak pernah mengunjungi Woodstock. Event musik (dan perdamaian) selama tiga hari di kawasan pinggiran negara bagian New York itu dikenalnya melalui pemberitaan media di negaranya, Taiwan. Kala itu, berusia 14 tahun, Lee menganggap Woodstock tak lebih sekadar perayaan kaum hippie — para pemuda berambut gondrong yang hidup semaunya.

Nyaris empat dasawarsa berlalu, Lee bertemu dengan Elliot Tiber dalam sebuah kesempatan. Bukan sembarang pria. Elliot adalah sosok yang membawa Woodstock ke perkebunan milik Max Yasgur di kota kecil White Lake sekaligus menyelamatkan nyawa event. Elliot mencoba menawarkan buku karyanya untuk difilmkan Lee. Kesempatan itu tak disia-siakan Lee.

Musim semi 1969. Elliot (di film diperankan stand-up commedian muda Demetri Martin), disainer muda yang bercita-cita tinggi, terjebak di El Monaco Motel. Bisnis penginapan yang dijalankan kedua orangtuanya itu terjebak pailit dan terdesak utang bank. Elliot berhasil membujuk bank agar mengundurkan tenggat pembayaran hingga musim liburan selesai.

Pada saat yang sama, perang Vietnam berkecamuk menandai perseteruan dua ideologi terbesar dunia saat itu: Barat melawan Komunis. Ekspedisi ambisius Apollo berhasil mengantarkan Neil Amstrong sebagai manusia pertama yang menjejak Bulan.

Di dapur rumahnya, Elliot membaca penolakan Wallkill untuk menyelenggarakan Woodstock Music & Art Fair. Padahal, Woodstock bukan acara sembarangan. Pengelola yang terdiri dari beberapa anak muda itu (Michael Lang, John Roberts, Joel Rosenman, dan Artie Kornfeld) meniatkan Woodstock sebagai gerakan sosial yang menyerukan perdamaian. Beberapa artis ternama mengonfirmasi kehadiran mereka, antara lain seperti Joan Baez, Grateful Dead, Ravi Shankar, Janis Joplin, dan Jimi Hendrix.

Tanpa pikir panjang, Elliot menghubungi Lang untuk menawarkan White Lake sebagai tuan rumah penyelenggaraan. Izin penyelenggaraan? Aman di tangan karena Elliot menjadi semacam ketua kamar dagang setempat.

Singkat cerita, Elliot membawa Lang dan kawan-kawan ke perkebunan milik Max Yasgur. Festival tiga hari, yang kemudian molor sehari, digelar di halaman kota berpenduduk mayoritas Yahudi itu.

“Sebuah generasi lahir di halaman belakangnya,” seru tagline film.

Jika Taking Woodstock ditawarkan kepada Cameron Crowe, boleh saja penonton berharap film akan dibawa ke belakang panggung. Mungkin dilengkapi dengan penampilan sekilas para pengisi acara dan limpahan footage festival.

Di tangan Lee, sebagaimana pendekatannya terhadap sosok garang Incredible Hulk, Woodstock bersifat lebih personal dan humanis. Lee mencoba setia kepada buku berjudul sama karya Elliot tersebut. Pada banyak sisi, Taking Woodstock menceritakan hubungan antara Elliot dengan kedua orangtuanya yang konservatif.

Imelda Staunton tampil mengesankan sebagai ibunda Elliot yang galak dan jarang tersenyum, tapi senang uang. Sang ayah, diperankan Henry Goodman, tak banyak omong dan cenderung menyimpan perasaan untuk dirinya sendiri. Woodstock kemudian tak hanya berhasil sebagai sebuah gerakan sosial generasi muda, tapi juga berhasil mengubah hubungan keluarga Yahudi tersebut.

Tapi, fokus Lee kepada dramatisasi film membuat pesan Woodstock sebagai gerakan perubahan terpinggirkan.

Lee mengerahkan banyak figuran serta kendaraan untuk menyajikan kondisi festival yang sebenarnya. Teknik split-screen juga digunakan dalam beberapa adegan.

Film yang baik dalam menceritakan kisah di balik layar Woodstock, tapi bukan film yang tepat untuk mengenang seperti apa Woodstock yang sesungguhnya.

Rating: 2,5/5

*Review Taking Woodstock (Ang Lee, 2009)


Iklan

Written by hawe11

Januari 6, 2010 pada 4:46 am

Ditulis dalam resensi

Tagged with , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: