Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Mereka Hanya Takut Berharap

with one comment

Jika ingin tampil di puncak perhatian sepakbola dunia, Indonesia perlu mentalitas juara.

Kegagalan pada kualifikasi Piala Asia U-19 2010 tidak perlu membuat Indonesia berkecil hati. Tim SAD Indonesia yang dua tahun menimba ilmu dengan berkompetisi di Uruguay menjadi wakil negara. Tim diharapkan mampu menempati minimal peringkat dua klasemen untuk lolos ke putaran final. Apalagi Indonesia bertanding di depan pendukung sendiri.

Tapi, kurangnya pengalaman tim dan terlambat panas membuat Indonesia dipukul Singapura, 1-0, dan Jepang, 7-0, pada dua laga pembuka. Harapan yang tadi melambung tinggi jadi menukik dan menjelma cercaan — seperti yang kerap terjadi setiap kali timnas tampil buruk.

Pada tiga partai tersisa, Indonesia mampu memperlihatkan kualitas yang langka disaksikan masyarakat. Taiwan dibenam 6-0; dan Australia, yang menjadi wakil Asia pada Piala Dunia U-20 bulan lalu di Mesir, ditahan 0-0. Mata Indonesia kembali terbuka, meski pandangan sinis tak berhenti begitu saja.

Setelah kemenangan 4-1 atas Hong Kong, saya berharap PSSI mau mencegat tim Jepang dan Australia untuk menghelat dua partai eksebisi tambahan. Hasil pertandingan boleh jadi lain dengan hasil pada kualifikasi Piala Asia U-19. Tapi, sepertinya harapan itu sama saja dengan membayangkan untuk memencet tombol rewind supaya penampilan bagus Indonesia sudah muncul sejak partai pertama menghadapi Singapura.

Penampilan tim pada tiga pertandingan terakhir menunjukkan organisasi permainan, stamina, fokus, dan kecepatan hasil dari berguru di Uruguay selama dua tahun. Meski masih sering melepas penguasaan bola dengan mudah atau masalah ketenangan di depan gawang.

Apapun, untuk lima tahun ke depan, saya takkan heran masyarakat mulai mengidolakan Abdul Rahman Lestaluhu, Alan Martha, Syamsir Alam, Yericho Christiantoko, Alvin Ismail Tuasalamony, Fery Firmansyah, Tri Windu Anggono. Maklumi saja mereka yang seakan tak mau berhenti mencibir timnas Indonesia, karena mereka sebenarnya hanya takut berharap. Padahal, harapan tak boleh mati. Kini, mari berharap semoga kompetisi domestik Indonesia bisa menyelaraskan diri dengan akselarasi kualitas yang dialami tim SAD Indonesia.

Iklan

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. oh… so SAD… 😀

    Sky

    November 25, 2009 at 9:12 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: