Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Ajax Amsterdam 1972: Revolusi Sepakbola Menyerang

with one comment

Johan Cruyff“Sepakbola itu sederhana, tapi paling sulit memainkan sepakbola sederhana.” — Johan Cruyff

Setengah abad silam, sepakbola Belanda hanyalah kurcaci di percaturan sepakbola Eropa. Ajax Amsterdam hanyalah sebuah klub semi-profesional yang tangguh di kompetisi lokal, tapi kerap kalah pada babak-babak awal kompetisi antarklub Eropa.

Musim 1964/65, Ajax nyaris terdegradasi. Seperti yang selalu terjadi dalam kehidupan, berkah selalu bersembunyi di balik kesulitan. Awal 1965, eks striker Ajax, Rinus Michels, yang menekuni karir sebagai guru senam, mengambil alih tongkat kepelatihan dari Vic Buckingham.

Mungkin memang sudah digariskan Michels menangani Ajax, karena pada saat bersamaan seorang bintang muda bernama Johan Cruyff, 18 tahun saat itu, mulai naik daun.

Gaya militer Michels dipadu dengan revolusi strategi tim yang menekankan umpan pendek satu-dua dan pergerakan antarpemain yang luwes mulai berbuah sukses.

Tim kurcaci dari Belanda itu secara mengejutkan menembus babak final Piala Champions 1969. Di final, Ajax berhadapan dengan tim terkenal Italia, AC Milan, yang lebih berpengalaman tampil di Eropa. Tim-tim Italia pada era itu dikenal sebagai tim yang mengandalkan kekuatan lini pertahanan dan serangan balik. Strategi ofensif Michels menjadi senjata makan tuan.

Pierino Prati mencetak hattrick dan ditambah gol dari kapten Angelo Sormani. Ajax hanya mampu membalas lewat satu gol melalui eksekusi penalti Velibor Vasovic. Panggung Eropa rupanya masih terlalu dini bagi tim sehijau Ajax.

Tahun berikutnya, Ajax tersentak karena rival senegara, Feyenoord Rotterdam, mampu merajai Eropa dengan menaklukkan juara 1967, Glasgow Celtic, di partai puncak.

Ajax melakukan pembenahan. Gelandang Gerrie Muhren diboyong dari FC Volendam dan bek Ruud Krol dipromosikan dari tim cadangan. Lengkap sudah skuad impian Michels untuk menjalankan strategi ofensifnya. Piala Champions musim 1970/71, permainan Ajax mulai matang dan memikat Eropa.

Filosofi Michels sederhana, siapa yang menguasai bola lebih banyak akan memenangkan pertandingan. Lini tengah Ajax menjadi tulang punggung kekuatan tim. Para pemain dengan luwes berganti posisi, saling mengisi kekosongan posisi yang ditinggalkan rekannya.

Penjaga gawang dianggap sebagai pemain lapangan yang kebetulan mengenakan sarung tangan, sehingga serangan tak jarang dimulai dari dirinya. Ketika lawan melakukan serangan balik, penjaga gawang menjadi pemain belakang yang bertugas menyapunya.

Strategi ini takkan berjalan tanpa seorang Cruyff. Jika Michels, Sang Jenderal, adalah otak di luar lapangan, Cruyff adalah penerjemahnya di atas lapangan.

Cruyff adalah seorang pembaharu. Berbeda dari Pele dan Diego Maradona, Cruyff melengkapi kecermelangan penampilannya di atas lapangan dengan kemampuan mengubah strategi tim langsung saat bermain. Cruyff tak pernah berhenti memberikan instruksi kepada para rekannya saat bermain. Ke mana seorang pemain harus berlari, di mana mereka harus berdiri, dan kapan mereka harus berdiam.

Ketika Panathinaikos menembus final Piala Champions 1970/71, publik Eropa lebih ramai membicarakan penampilan mencengangkan Ajax. Padahal, Panathinaikos menjadi klub Yunani pertama yang mencapai partai puncak kejuaraan antarklub Eropa. Prestasi pasukan yang dilatih Ferenc Puskas itu merupakan pencapaian besar sepakbola Yunani sebelum Euro 2004.

Ajax sukses mengalahkan Panathinaikos 2-0 melalui gol-gol Dick van Dijk dan Arie Haan. Michels pindah melatih ke Barcelona musim berikutnya. Kursi kepelatihan diteruskan pelatih asal Rumania, Stefan Kovacs, yang sama disiplinnya.

Praktis, Kovacs mewarisi skuad Michels. Beberapa perubahan skuad dan manajemen terjadi. Kapten Vasovic mundur dan Kovacs mempercayakan bek asal Jerman, Horst Blankenburg, untuk menjalankan fungsi sebagai libero tim.

Piala Champions 1971/72, Ajax kembali tampil di partai final untuk mempertahankan gelarnya. Ajax sukses melalui Dynamo Dresden, Olympique Marseille, Arsenal, dan Benfica sebelum memastikan tiket laga puncak yang secara kebetulan digelar di stadion De Kuip, Rotterdam.

Lawan Ajax di final adalah Inter Milan. Ajax kembali menghadapi tim Italia, seperti tiga tahun sebelumnya. Seperti Kovacs, pelatih Inter saat itu, Giovanni Invernizzi, mewarisi skuad Il Grande Inter asuhan pelatih legendaris, Helenio Herrera.

Meski tak pernah mengakui kunci strategi pada pertahanan timnya, Il Mago membawa Inter menjuarai Piala Champions dua kali berturut-turut, 1964 dan 1965. Satu-satunya kejayaan Nerazzurri di Piala atau Liga Champions hingga saat ini. Pada 1967, Inter kembali menembus babak final Piala Champions, namun dikalahkan Celtic, yang tampil lebih agresif.

Taktik Herrera, dikenal sebagai “verrou”, atau “pintu petir”, memungkinkan serangan balik yang dilakukan melalui dua bek sayap. Salah satu pemain andalan Herrera adalah bek sayap legendaris Inter, Giacinto Facchetti, yang juga tampil di final 1972. Pada perkembangannya, verrou melahirkan “catenaccio”.

Pertemuan Ajax dan Inter pada final 1972 merupakan pertandingan klasik dalam sejarah sepakbola yang selalu mempertemukan dua permainan dengan kutub berbeda. Sepakbola menyerang lawan bertahan. Salah satu final Piala/Liga Champions terbaik sepanjang masa.

Permainan defensif Inter berhasil memaksa babak pertama berakhir tanpa gol. Ajax mulai khawatir karena pertandingan berjalan sesuai dengan rencana Inter. Berkat semangat yang pantang menyerah, dua menit setelah jeda, Cruyff sukses memanfaatkan kesalahan antisipasi kiper Ivano Bordon saat menghalau umpan silang dan menceploskan bola ke gawang kosong.

Aliran serangan Ajax terus bergelora. Cruyff membuat pengawalnya, Gabriele Oriali, tak berkutik. Menit ke-78, Cruyff kembali menciptakan gol yang melengkapi keunggulan Ajax atas Inter melalui sundulan kepala. Keunggulan sepakbola menyerang atas bertahan.

Kedudukan 2-0 tak berubah dan Ajax sukses mempertahankan gelarnya. Permainan menyerang Ajax dikagumi pecinta sepakbola Eropa. Pers menyebut gaya permainan Ajax, “Total Football”. Istilah yang dirasa tidak terlalu tepat oleh Michels.

Dan, lahirlah filosofi baru yang mengubah wajah sepakbola dunia…

*sumber gambar: Wikimedia

Iklan

Written by hawe11

Juni 15, 2009 pada 12:45 pm

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. […] Ajax Amsterdam 1972: Revolusi Sepakbola Menyerang June 2009 4 […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: