Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Kenapa Selalu Bambang Pamungkas?

with 6 comments

Tercetus untuk menulis ini karena iklan yang baru saja saya saksikan. Iklan barusan adalah iklan biskuit anak-anak yang menampilkan tiga orang atlit Indonesia sebagai teladan anak Indonesia, di antaranya adalah Bambang Pamungkas.

Berapa banyak iklan yang sudah atau pernah dibintangi Bambang? Setidaknya ada dua: sebuah produsen apparel dan sebuah minuman suplemen. Ratusan pemain sepakbola yang mencari nafkah di Liga Indonesia, tapi tidak ada pemain lain yang diincar principal untuk mewakili brand mereka.

Kenapa harus Bambang?

Jawabannya, seperti yang selalu saya temukan ketika masih bekerja di sebuah majalah khusus sepakbola, (seakan-akan) hanya Bambang pemain yang paling high profile di Indonesia. Dalam kata lain, di lingkungan pemain sepakbola tanah air, Bambang paling sukses mencitrakan dirinya sendiri sebagai atlit modern, punya kecerdasan, dan sadar media.

Soal sadar media ini saya punya pengalaman tersendiri. Pertemuan pertama saya dengan Bambang adalah di luar kamar ganti stadion Shah Alam, Malaysia, nyaris tiga tahun silam. Sengaja saya tunggu sampai satu persatu pemain timnas yang sedang bertanding di Merdeka Games itu sebelum memasuki bus. Tujuannya satu, menjalankan order dari Jakarta untuk mewawancarai Bambang selain beberapa pemain lain.

Sasaran mulai tampak keluar dari kamar ganti dan saya cegat. Saya berhasil mendapatkan nomor ponselnya dan berkata akan bikin janji untuk wawancara keesokan paginya. Bambang mengiyakan. Saya rasa dengan menyebutkan nama majalah tempat bekerja cukup menciptakan kepercayaan antara wartawan dengan narasumbernya. Bagi Bambang, itu belum cukup.

Keesokannya, lewat perjalanan menumpang monorail dan kereta komuter, serta taksi, saya menghampiri hotel tempat pemain menginap. Saya hubungi ponselnya. Diangkat. Saya bilang saya media tadi malam yang ingin mewawancarainya. Tapi mendadak telepon dialihkan ke seseorang — mungkin istrinya. Perempuan itu bilang, nomor yang saya hubungi bukan kepunyaan Bambang. Saya bingung. Kenapa Bambang menghindar? Saya merasa saya tidak mendesak-desak dirinya untuk melakukan wawancara.

Pada saat ini, saya mengakui ada benarnya peringatan seorang teman wartawan yang wawancara dengan Bambang itu “gampang-gampang susah”. Atau buat yang jengkel, seperti saya, sikap itu diterjemahkan sebagai arogansi Bambang terhadap media. Baiklah. Siapa butuh siapa, kan? Kembali ke kantor, saya menceritakan pengalaman ini. Usai bercerita, saya bersumpah, saya tidak mau lagi mewawancarai Bambang. Boikot!

Beberapa belas bulan setelahnya, atas kerja sama dengan sebuah apparel, majalah harus mewawancarai Bambang untuk dibikin profil. Bos saya rupanya sangat terkesan dengan boikot tersebut dan menugaskan rekan lain untuk mewawancarainya. Kepada sang rekan, saya menitipkan pertanyaan, kenapa ada kecenderungan Bambang menghindari media?

Rekan saya itu menyampaikan amanat saya dan jawabannya, Bambang alergi karena pernah suatu ketika komentarnya disalahartikan oleh media pewawancara. Hasilnya sebuah berlawanan dari konteks saat ditanyakan. Alasan tersebut sesungguhnya pernah ditulis Bambang dalam laman pribadi. Alih-alih alergi, barangkali lebih tepat menyebutnya sebagai sikap selektif Bambang dalam pemilihan media.

Menariknya, saat mengambil foto profil, rekan tersebut relatif tidak mengalami banyak kesulitan. Berbeda dari kebanyakan pemain Indonesia yang kebingungan bergaya saat difoto, Bambang “sangat leluasa”. Terbiasa, mungkin. Seperti kata rekan tersebut, dicantumkan dalam salah satu caption foto artikel, Bambang “alergi media, tapi sadar kamera”.

Sengaja atau tidak, citra diri modern yang ditonjolkan Bambang adalah unique selling proposition di antara pemain Indonesia lain. Wajah Bambang bolehlah, tidak jelek-jelek amat dan terawat. Hair-do-nya oke. Penampilannya parlente dan kelimis — mungkin kelewat rapi bagi seorang pemain sepakbola. Gaya bicaranya diatur dengan tatap mata yang tajam dan percaya diri. Pokoknya, sosok Bambang adalah sekaligus seorang pemain dan selebritas di pentas sepakbola nasional. Seperti tidak ada pemain sepakbola Indonesia lain yang lebih megah daripada Bambang.

Jadi, jika ada sebuah merek yang ingin memanfaatkan pemain sepakbola untuk mengkomunikasikan kampanyenya, siapa yang paling pertama muncul dalam pikiran? Persis. Bambang Pamungkas.

Padahal, masih banyak pemain lain. Ponaryo Astaman. Firman Utina. Charis Yulianto. Boaz Solossa. Budi Sudarsono. Atep. Tapi, apa unique selling proposition yang mereka miliki? Saya kebingungan menjawabnya.

Dunia konsumerisme mutakhir adalah dunia pencitraan. Popularitas akan muncul seiring pembentukan pencitraan diri. Sayangnya, ini belum terjadi pada hubungan dua arah antara sepakbola nasional dengan komunikasi pemasaran. Dalam kata lain, sepakbola Indonesia masih butuh strategi komunikasi terpadu. Tidak hanya bagi para pemain, tapi kepada klub secara keseluruhan.

Mungkinkah akan ada sebuah klub Liga Indonesia mengontrak khusus jasa kehumasan, baik outsource atau memasukkannya dalam sktruktur internal, untuk mengelola kampanye komunikasi klub?

Mungkinkah ada seorang pemain Indonesia yang punya kadar “kesadaran media” lumayan tinggi dan mengonsep pencitraan dirinya sebagai figur yang dekat dengan anak-anak atau katakanlah seorang aktivis lingkungan, misalnya?

Hingga saat ini, jika principal mencari pemain sepakbola Indonesia untuk mengkampanyekan mereknya, hampir dapat dipastikan, kecuali berbenturan dengan merek yang sedang diwakilinya, mereka akan selalu menghampiri Bambang Pamungkas. Hail to the man!

Iklan

Written by hawe11

Februari 21, 2009 pada 11:03 pm

6 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. karea dia yang bisa

    bisnis internet

    Februari 22, 2009 at 9:25 pm

  2. hehehe, kirain caleg doang yang butuh “kampanye” dan menjual citra dirinya…ternyata ada kebutuhan juga bagi para pemain bola…
    walo emang gak signifikan..karena bola tidak nawarin kerja otak alias program yang berguna buat masyarakat banyak…
    tidak ada kepentingan publik yang harus diperjuangkan…
    pun tidak bisa disamakan dengan jualan produk, karena pemain bola (khususnya di Indonesia), cuma kepentingan klub alis kudu ngejualnya sama beberapa orang petinggi klub..
    beda mungkin sama di eropa sana, bahwa pemain dah bs jadi icon yang bisa dijual dan menghasilkan iklan..
    btw, nais pos gan…mantab…
    salam kenal, dimas a00

    dimasnugraha

    Maret 7, 2009 at 9:35 am

  3. memang cuma bambang yang hebat gak ada yang lain selain dia !!!! 🙂

    ragha

    Februari 2, 2010 at 9:42 pm

  4. Bambang Pamungkas ngak ada apa=apanya ngapain di kejar-kejar, main kalah terussssss. menang jarang itu pun kebetulan.

    Juninho

    Februari 19, 2010 at 9:43 am

  5. Tak kira tulisan ini mengkritisi posisi striker timnas yang selalu dan melulu di-pos-kan pada BP…dan ehm, selalu saya tidak setuju dengan dia di posisi itu ;p

    meier

    Februari 26, 2010 at 2:33 am

  6. […] Kenapa Selalu Bambang Pamungkas? February 2009 5 comments […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: