Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

The Dark Knight, bukan Batman!

with 5 comments

Saya terpaksa menolak tawaran seorang teman yang menawarkan tiket premier nan gratis Kamis malam kemarin untuk menjadi salah satu penonton paling pertama yang menikmati the most waited summer movie, The Dark Knight.

Kerjaan saya belum beres, balas saya.

Ugh! Saya tahu saya akan menjadi korban spoiler-nya setiba di kosan. Itu terjadi. Tapi itupun tidak mencegah saya untuk datang menonton keesokan harinya. Biarlah saya rela mengeluarkan extra budget untuk tiket weekend (yang hampir dua kali lipat mahalnya dibanding tiket Senin-Kamis). Setidaknya saya mengeluarkan sedikit effort untuk the most awaited summer movie a.k.a The Dark Knight, ketimbang menjadi penonton premier gratisan yang membocorkan spoiler pula. Hahahahaha…

Jangan takut membaca review ini, karena sekadar spoiler tidak akan mencegah niatmu menonton atau mengurangi kualitas The Dark Knight. Percaya deh!

Mungkin yang sedikit mengurangi kualitas The Dark Knight justru bukan dari filmnya sendiri. Pertama, karena kamu tidak kebagian tiket. Yep, untuk pemutaran sejam berikutnya, saya mendapat tiket untuk bangku empat baris dari depan.

Itu bisa dimengerti karena: kedua, promosi yang gila-gilaan. Semua pemegang lisensi sang pahlawan bertopeng membabi-buta mempromosikan produknya kepada calon pembeli/pelanggan/pengguna.

Ketiga, rilis film yang, bisa dimengerti, digeser ke weekend. Sejatinya, The Dark Knight rilis 17 Juli (seperti di Singapura), tapi di sini digeser sehari kemudian. Bagi manajemen bioskop dan distributor, kenapa tidak? Toh, tiket weekend kan hampir dua kali tiket hari biasa?!

Itu ada hubungannya juga dengan: keempat, citra Batman sebagai tokoh komik yang disukai semua kalangan, terutama anak-anak. Orang-orang pun berbondong-bondong memboyong anak-anaknya, murid-muridnya, anak tetangga, keponakan, semua yang masih di bawah 17 tahun (atau bahkan 13 tahun), untuk menonton The Dark Knight. God bless their souls! Resume Christopher Nolan menunjukkan sutradara ini belum pernah membuat film untuk anak-anak, mungkin malah takkan berniat sama sekali. Jadi, guys, please don’t bring your kids watching this movie!

[Hm, cerminan perlunya sistem rating di perbioskopan/perfilman nasional? Untuk saat ini, apa boleh buat! Pasti ada sebagian kamu yang bilang saya terlalu idealis, rewel. Lho, kan platonis?! Hehehe… Untuk saat ini, apa boleh buat bagi manusia platonis ini, terima sajalah!]

Oke, untuk meresensi filmnya, saya buka dengan satu kalimat: splendid movie!

Kematian Heath Ledger persis setelah syuting The Dark Knight adalah satu hal, dan satu hal lain adalah aktingnya boleh punya di sini! Boleh dibilang, yang harus kamu saksikan di film ini adalah tokoh Joker, bukan Batman. Joker menghidupkan The Dark Knight. Hebatnya, Ledger bisa menjiwai karakter super-villain yang psikopatik itu.

Tidak diceritakan asal usul Joker. Tidak ada nama aslinya. Satu adegan, dia menceritakan kenapa dia memperoleh bekas luka di wajahnya yang membuat dia memakai make-up seperti “itu”. Tapi, siapa yang bisa percaya ceritanya? Karena Joker dalam The Dark Knight penuh kejutan, tidak bisa ditebak. Joker tidak punya motif. Tidak punya moral. Tidak punya standar.

“I’m the agent of chaos…” akunya dalam sebuah adegan lain.

Di sisi pembela kebenaran, karakter Batman atau Bruce Wayne tidak mengalami perkembangan seleluasa Batman Begins. Nolan bersaudara (Chris dan Jonathan) yang menulis cerita mengorbankan tokoh Batman, memerosokkannya ke jurang paling dalam, menabur garam di lukanya yang hampir mengering. Tidak ada ruang bagi Batman untuk “sembuh”, ugh, lebih tepatnya bagi Bruce Wayne. Ending film mengarahkan kalau sepertinya tidak akan ada lagi alter ego Bruce Wayne dalam film-film Batman berikutnya, karena, maaf sedikit spoiler, Bruce Wayne sudah “mati” di sini.

Banyaknya karakter dalam film juga sedikit membawa kesulitan tersendiri. Jika Batman Begins mampu memberikan porsi yang relatif merata bagi karakter-karakternya, di sini Nolan mulai kewalahan. Akibatnya, plot cerita, meski masih relatif mulus, terasa melompat-lompat. Tidak secara plot waktu, tapi pengembangan karakternya sendiri. Plot The Dark Knight adalah seperti kehadiran Batman sendiri, muncul tiba-tiba, tapi mendadak hilang tanpa disadari, dan muncul lagi di adegan lain. Plot terlalu digas, tidak memberikan kesempatan penonton untuk sedikit lega. Ya, saya akui, saya merasa durasi film agak sedikit terlalu dipanjang-panjangkan. [What an euphemism!]

Tapi, sekali lagi tapi, The Dark Knight adalah film berkategori lima bintang yang layak ditonton. Jujur, tiga bintang itu disumbangkan Heath Ledger! What an actor!

The Dark Knight lebih kelam dibandingkan Batman Begins, penuh humor gelap baik secara adegan, maupun dialog. [Harus kamu perhatikan baik-baik dialog ketika Joker menjelaskan “hubungan harmonisnya” dengan Batman, kenapa Joker tidak bisa membunuh Batman, dan begitu juga sebaliknya. Meminjam sebuah line terkenal dari sebuah film fenomenal lain, menggiring definisinya ke ruang lain]

Dan, kenapa Joker begitu antusiasnya meneror seisi Gotham City? Itu karena dia ingin membuktikan, setiap perilaku manusia didorong perasaan takut. Ketakutan. Perasaan yang kemudian mengaburkan makna antara yang baik dan yang jahat.

Saya keluar studio dengan perasaan puas. Karena semua spoiler yang saya serap malam sebelumnya tidak bisa mengalahkan kualitas akting Heath Ledger, tidak bisa mewakili thrill yang saya rasa sepanjang menonton.

Terakhir, kalau masih boleh protes saya ingin menutup resensi ini dengan potongan karcis bioskop kemarin. Tertulis:

“Batman.

18 Juli 2008.

15.15″

Saya akan menyimpannya baik-baik dan pada saatnya kelak akan saya tunjukkan kepada mereka yang tidak percaya mesin waktu itu ada.

Atau, kepada mereka yang lain, membuktikan kalau ternyata ada bioskop Indonesia yang khusus memutar film-film lama.

Iklan

Written by hawe11

Juli 19, 2008 pada 4:53 pm

Ditulis dalam mengalami, resensi

Tagged with

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. ooooohhhhh. the dark knight itu cerita batman??? 😀

    hanny

    Juli 21, 2008 at 8:40 am

  2. sepikit pak!

    malah saya pikir The Dark Knight itu sebenernya Joker, sisi gelapnya Batman.

    acoenk

    Juli 21, 2008 at 10:21 am

  3. menghemat tinta, pak…. hahaha

    Doain yah, semoga gua juga bisa nonton batman yang paling kelam ini di bioskop hehe

    Sky

    Juli 21, 2008 at 10:54 am

  4. ouch… jangan lupa di fotokopi dulu pak… itu thermal paper bukan? hehe…

    Sky

    Juli 21, 2008 at 10:58 am

  5. The Dark Knight is other name of Batman…. in America popular name is “The Dark Knight” not Batman..

    The Dark Knight

    Februari 25, 2016 at 9:42 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: