This writing is about to conclude my personal experience fevering the World Cup 2010, the greatest football extravaganza. Whatever. But I can’t pretend my cynical voice during this writing, so consider this you’ve already warned.
The love and despair are close. There’s not even a barrier for them, I believe. Saya mencantumkan status tersebut pada akun Yahoo Messenger saya segera setelah hasil final Piala Dunia diketahui. Ya, Spanyol juara. Meski saya ingin merutuki hasil tersebut dan situasi yang melingkupi pertandingan, semuanya sia-sia. Tak pernah ada hasil pertandingan sepakbola yang dibatalkan.
Bukan. Bukan kekalahan yang saya sesalkan. Tapi sebuah kesempatan bertanding yang adil. A fair chance. Wasit, si botak Howard Webb, masuk lapangan dengan pretensi berlebihan di dalam dadanya. Entah pengaruh dari siapa, media atau sesama kolega, Webb memasuki lapangan sudah dengan keinginan mengompensasi permainan “kasar” Belanda sejak awal turnamen dengan kartu kuning. Dan, bertebaran lah peluit serta kartu kuning si Webb. Hasilnya, pemain Spanyol leluasa karena merasa dilindungi oleh wasit. Pemain Belanda tak bisa berbuat apa-apa karena ganjaran kartu kuning membuat mereka harus senantiasa berhati-hati.
Saat mencoba tidur, saya mencoba menghindari diri supaya kepala tidak dipenuhi dengan banyak skenario “what if”. Ya, bagaimana kalau Arjen Robben mampu menuntaskan peluang emas yang diperolehnya di babak kedua. Bagaiman kalau Robin van Persie yang berada di posisi Joris Mathijsen saat menyambut umpan Mark van Bommel pada awal babak kedua. Bagaimana kalau wasit bersikap konsisten terhadap keputusan-keputusannya di atas lapangan. Bukankah pelanggaran Carles Puyol terhadap Robben identik dengan pelanggaran John Heitinga terhadap Andres Iniesta? Hebatnya, si Webb menjatuhkan hukuman yang berbeda dalam dua insiden tersebut.
Kesimpulan sementara: wasit, Howard Webb, gagal memimpin pertandingan.
Apapun, lagi-lagi, hasil pertandingan tidak bisa diubah. Sudah harus diterima. Mari lihat saja perjalanan dua tahun ke depan menuju Euro 2012. Kalau bisa bertemu langsung, saya ingin bilang kepada Bert van Marwijk, “Taktik pragmatis sudah digunakan kemarin, sudahlah sekarang tanpa beban saja kembalikan gaya asal sepakbola Belanda. Baik atau buruknya.”
Sementara waktu, saya masih harus mengatasi kekecewaan dengan menjauhi berita sepakbola sebisa mungkin.
Filed under: opini, Belanda, oranje, Piala Dunia, sepakbola
anjangsana