Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Bukan Total Football, Tetapi Keseimbangan

Bert van Marwijk, hoofdtrainer van Oranje

Bert van Marwijk, hoofdtrainer van Oranje

Belanda sukses menghancurkan Hongaria empat gol tanpa balas pada pertandingan kelima kualifikasi Euro 2012 di Budapest, Jumat malam tadi. Tidak hanya memuaskan fans, Oranje juga berhasil mempertahankan rekor 100 persen kemenangan serta rekor gol yang impresif — 16 gol memasukkan dan hanya kemasukan dua.

Hongaria bukan lawan sepadan Oranje. Rafael van der Vaart membuka keunggulan pada menit kedelapan melalui gol pada tendangan pertama ke arah gawang Gabor Kiraly. Meski Magyar berupaya melawan melalui aksi-aksi Balazs Dzsudzsak, tetapi gol kedua Belanda dari kaki Ibrahim Afellay meruntuhkan semangat juang tuan rumah. Di babak kedua, Belanda melesakkan dua gol mudah lewat Dirk Kuyt dan Robin van Persie. Wesley Sneijder bahkan bisa mencetak gol kelima andai saja tendangan lobnya tidak membentur mistar.

Hasil positif yang menyusul kemenangan besar 4-1 atas rival utama Grup E, Swedia, Oktober lalu, membangkitkan euforia Oranje-mania. Bert van Marwijk pun menggunakan dua penampilan terakhir di kualifikasi Euro itu sebagai jawaban atas kritik yang menyerangnya sejak Piala Dunia 2010. Banyak yang kecewa Belanda tidak lagi menampilkan sepakbola atraktif ala Total Football di Afrika Selatan. Tampil pragmatis, Belanda sukses melaju ke final meski harus mengakui keunggulan Spanyol lewat perpanjangan waktu. Publik tidak puas. Sepakbola Belanda harus lah sepakbola indah, bukan sepakbola yang membosankan.

Kenapa Van Marwijk meninggalkan Total Football? Ketika diserahi tugas menangani Elftal usai Euro 2008 dari tangan Marco van Basten, Van Marwijk mewarisi skuad yang punya segala syarat menjadi terbaik di dunia, terutama dengan adanya empat pemain kreatif: Van der Vaart, Sneijder, Van Persie, dan Arjen Robben. Namun, Van Marwijk juga mendapat tumpukan pekerjaan rumah di lini belakang. Lini inilah yang sering dianggap menjadi “tumit Achilles” dalam skuad Oranje. Belum lagi keputusan Edwin van der Sar pensiun dari pentas internasional. Kepala Van Marwijk bertambah pening.

Langkah pertama Van Marwijk adalah memperkerjakan Phillip Cocu dan Frank de Boer sebagai asisten melengkapi Dick Voorn yang sudah bekerja sama dengannya sejak di Fortuna Sittard. Dua mantan pemain berpengalaman ini diserahi tugas untuk lebih banyak mengasah lini belakang Oranje. Kemudian, Van Marwijk mempertahankan formasi progresif 4-2-3-1 yang diusung Van Basten di Austria/Swiss ’08. Keputusan penting terakhir adalah Van Marwijk memanggil kembali Mark van Bommel, yang sempat menolak berseragam Oranje karena berseteru dengan Van Basten.

Kehadiran Van Bommel melengkapi taktik dua gelandang bertahan sekaligus yang dipakai Van Marwijk. Sang menantu ditempatkannya bersama Nigel de Jong untuk melindungi lini pertahanan. Barangkali proteksi berlebih dengan menggunakan dua gelandang sekaligus inilah yang dianggap “membosankan” oleh penggemar karena praktis mengurangi jatah satu pemain kreatif yang bisa dipakai untuk mempertajam serangan sekaligus meningkatkan nilai atraktif permainan.

Hiper-proteksi dan ditambah filosofi menguasai bola selama mungkin membuat pertahanan Belanda paling aman sepanjang kualifikasi Piala Dunia. Gawang mereka hanya kebobolan dua gol dari delapan penampilan. Belanda pun secara meyakinkan melangkah ke Afrika Selatan dengan mencetak rekor 100 persen kemenangan. Itupun masih dicibir banyak pihak karena grup mereka dinilai tidak kompetitif. Ketika hari pertama Piala Dunia digelar, Belanda tidak masuk hitungan. Semua sontak berubah ketika Belanda mampu menyingkirkan tim favorit Brasil di perempat-final.

Pada pertandingan tersebut, Van Marwijk menunjukkan tangan dinginnya sebagai pelatih papan atas. Tertinggal satu gol di babak pertama, Van Marwijk membangkitkan semangat tim di ruang ganti sehingga Belanda berhasil membalas dua gol usai turun minum. Apa yang dikatakan Van Marwijk saat team talk akan menjadi legenda dalam sejarah sepakbola Belanda.

“Sekarang atau tidak sama sekali. Kalau kalian bermain seperti ini di babak kedua, kalian akan berada di pesawat esok hari dan takkan ada yang mengenang Belanda di Piala Dunia ini. Kalian hanya akan berada di catatan kaki buku sejarah. Atau kalian bisa kembali ke lapangan dan mengerahkan kemampuan terbaik, membalikkan keadaan, dan jadilah pahlawan!” ujarnya menghimpun semangat tim.

Pada pertandingan yang sama, Maarten Stekelenburg meraih kepercayaan publik dengan tampil impresif ketika melakukan penyelamatan penting yang mencegah Kaka menambah keunggulan Brasil di babak pertama. Dua gol Sneijder di babak kedua pun memastikan langkah Oranje ke semi-final.

Pertandingan melawan Brasil benar-benar menjadi baptism of fire bagi Van Marwijk, Stekelenburg, dan setiap anggota tim Belanda.

Meski belakangan dikalahkan Spanyol di final, Belanda tidak pantas berkecil hati. Memang jauh jika dibandingkan penampilan mereka yang revolusioner di Piala Dunia 1974, tetapi Van Marwijk mampu menciptakan sesuatu yang tidak mampu dicapai sebagian besar pendahulunya, yaitu keseimbangan tim.

Ternyata, justru pelatih dengan pembawaan low profile seperti Van Marwijk lah yang dibutuhkan skuad Oranje. Selain banyak dihuni pemain berbakat, Belanda juga dikenal memiliki pemain pembangkang — salahkan budaya berpikir bebas yang hidup di Negara Kincir Angin itu. Saat memastikan langkah ke Piala Dunia 1990, sejumlah pemain top Belanda berkumpul di bandara Schipol dan membahas pelatih yang pantas menangani mereka di putaran final. Dipimpin Ruud Gullit, semua sepakat menyebut nama Johan Cruyff. KNVB dan Rinus Michels punya jalan pikiran berbeda, justru Leo Beenhakker yang ditunjuk dan Oranje remuk redam di Italia karena mayoritas pemain menolak Don Leo.

Enam tahun berselang, Edgar Davids diusir Guus Hiddink dari Inggris ketika putaran final Euro tengah digelar. Pada awal 2000-an, para pemain Belanda mengeluh karena menilai pelatih Louis van Gaal otoriter dan memperlakukan mereka seperti anak-anak. Bersama Van Gaal, Belanda gagal melangkah ke Jepang/Korea Selatan ’02. Daftar masih ditambah dengan perseteruan Ruud van Nistelrooy dengan Van Basten — meski kemudian keduanya berdamai sebelum Euro ’08 — serta Van Bommel yang menganggap kemampuannya tidak bisa maksimal jika dilatih salah satu legenda Oranje itu.

Tanpa perlu memasang ego tinggi-tinggi, Van Marwijk menanamkan keseimbangan di dalam skuad Oranje saat ini. Bayaran mahalnya tentu saja mengorbankan permainan atraktif ala Total Football yang menjadi suara mayoritas publik. Tetapi pilih mana, menang atau bermain indah tapi kalah?

“Total Football cerita lama. Kalau bermain seperti itu saat ini, sangat sulit memenangi Piala Dunia,” ujar Van Marwijk di Piala Dunia lalu.

“Tetapi sepakbola sudah berubah. Semua pemain kini semakin baik kondisi fisiknya dan organisasi permainan makin teratur. Sejak awal saya mulai melatih saya sudah bilang saya ingin mengajarkan tim caranya bertahan. Kami tidak bisa hidup hanya berdasarkan pemain berbakat, tetapi juga hasil.”

Tanpa ego itu pula Van Marwijk mampu mementahkan segala potensi konflik internal skuadnya. Ketika Robin van Persie misuh-misuh digantikan pada pertandingan babak 16 besar Piala Dunia melawan Slowakia, Van Marwijk mampu menetralisir keadaan. Perselisihan antarpemain tidak tampak pada pertandingan-pertandingan berikutnya. Begitu juga ketika akhir tahun lalu Van der Vaart kesal karena terlalu sering diganti dalam pertandingan. Dengan cepat Van Marwijk mengajaknya berbicara dan terjadi kesepahaman yang tidak merusak harmoni tim.

Van Marwijk boleh saja meninggalkan dalam-dalam strategi Total Football yang termasyhur itu. Penggemar boleh saja merasa kesal Belanda tidak lagi tampil atraktif seperti dulu. Tetapi, jika Anda mengikuti perkembangan Oranje, pernahkah Anda melihat suasana tim yang lebih harmonis dibandingkan seperti saat ini?

Oranje di bawah Van Marwijk adalah sebuah tim yang seimbang. Tim yang utuh. Tim yang mampu menjawab tantangan sepakbola modern yang sangat mengandalkan kemampuan fisik dan jarak perbedaan tim peserta Piala Dunia mulai menipis. Tim yang mampu bersitahan dari perselisihan antarpemain. Sesungguhnya, Van Marwijk telah mampu menjawab pertanyaan dan keraguan publik kalau dirinya pantas menjadi hoofdtrainer van Oranje. Dari catatan statistik, rekor penampilannya bersama Oranje sangat impresif. Van Marwijk berhasil menang 27 kali dalam 36 penampilan serta hanya dua kali kalah — ironisnya, salah satu kekalahan adalah pertandingan yang terpenting dari semuanya. Artinya, Belanda bersama Van Marwijk mampu memenangkan tiga dari empat pertandingan.

Lagipula, Total Football hanya pernah sukses dijalankan Belanda pada 1974. Ketika lolos ke final Piala Dunia empat tahun berselang di Argentina, terjadi sejumlah penyesuaian dalam skuad Belanda terutama karena mereka tidak diperkuat Cruyff. Ketika menjuarai Euro ’88 pun Rinus Michels mengakui, tim asuhannya tidak murni memainkan Total Football dan perlu sedikit “keberuntungan” menjuarai turnamen tersebut. Euro’92, Belanda bermain atraktif tetapi gagal karena disingkirkan Denmark lewat adu penalti — sesuatu yang tidak ada dalam kamus Total Football — begitu juga pada Euro ’00. Dan, ingat pula Hiddink memakai formasi 4-4-2, bukan formasi tradisional 4-3-3, untuk mengakomodasi duet penyerang maut Dennis Bergkamp-Patrick Kluivert saat mengantarkan Belanda ke semi-final Piala Dunia ’98.

Berlapang dada lah, Total Football memang hanya pernah terjadi sekali sepanjang sejarah sepakbola…

*tulisan terbit untuk GOAL.com Indonesia, Sabtu 26 Maret 2011

Filed under: opini, , , , , , , , , , , ,

Tangan-Tangan yang Menentukan

Sejarah ditulis oleh dan untuk pemenang.

Hampir satu bulan berlalu dan ada kekecewaan yang ingin saya hindarkan setiap kali mengingat Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Harus diakui, saya merindu suasana turnamen. Memang tidak secara langsung hadir di Afrika Selatan, tapi saban sore saya kehilangan detik-detik penantian pertandingan. Saya merindukan build-up match yang menegangkan itu. Sigh.

Saya juga belum bisa melupakan kekecewaan atas kalahnya Belanda di final. Bukan karena kalah. Tapi karena tak adanya fair chance ketika bertanding gara-gara kepemimpinan wasit Howard Webb yang entah terpengaruh sentimen apa. Jelas sekali si botak Webb sudah berniat memberikan para pemain Belanda dengan kartu kuning, kemungkinan besar karena media keburu melabeli Belanda sebagai tim terkotor dalam turnamen. Tak bisa dipungkiri, statistik pun membuktikan begitu. Tapi bukankah itu menunjukkan ketangguhan fisik — yang disuguhkan duet Mark van Bommel dan Nigel de Jong — tak ada duanya sepanjang turnamen.

Tak ada konsistensi kepemimpinan dari si botak Webb. Satu momen, dia membiarkan pelanggaran Carles Puyol terhadap Arjen Robben. Satu momen yang lain, pelanggaran identik dilakukan John Heitinga kepada Andres Iniesta. Puyol lolos dari sanksi, Heitinga menerima kartu kuning kedua. Terima kasih, Webb.

[Omong-omong soal Iniesta, dengar-dengar kabar bakal dibikinkan film untuk sang pahlawan-apalah-itu. Well, pembuat filmnya mesti butuh kamera underwater yang mumpuni...]

Okelah, cukup di sini saja keluhannya karena saya tak mau terdengar sentimentil.

Kepemimpinan Webb merupakan puncak dari sebuah kekacauan sepakbola modern. Makin gencar FIFA menginovasi sepakbola, makin runyam masalah yang ditimbulkannya. Makin dalam tangan-tangan pengatur sepakbola mencampuri urusan dalam lapangan, makin gencar kontroversinya.

Enam bulan sebelum turnamen digelar, Thierry Henry menggunakan tangan untuk menahan umpan rekannya sebelum memberikan bola kepada William Gallas. Upaya tersebut berbuah gol vital yang meloloskan Prancis dari hadangan Irlandia dan bergabung sebagai salah satu tim peserta Piala Dunia. Ulah yang dikecam dan seolah mendapat pembalasan setimpal ketika Prancis melempem di Afrika Selatan.

Pada babak penyisihan grup, dua pemain Serbia melakukan handball dua kali beruntun. Zdravko Kuzmanovic “memberikan” kemenangan kepada Ghana pada pertandingan perdana. Kebodohan serupa diulangi Nemanja Vidic saat melawan Jerman — bedanya, kali ini Lukas Podolski gagal memanfaatkan hadiah penalti. Ajaibnya, masih grup yang sama, Ghana berhasil menyamakan kedudukan melalui penalti karena tangan pemain Australia Harry Kewell menahan laju bola. Aksi yang lebih berbau ketidaksengajaan itu diganjar wasit dengan sebuah kartu merah.

Kisah tangan-tangan yang menentukan di Afrika Selatan belum selesai. Tangan Luis Fabiano dua kali melakukan sentuhan dengan bola sebelum mencetak gol “indah” ke gawang Pantai Gading. Wasit Stephane Fannoy sudah mencermati ulah striker Brasil tersebut dan sempat menghampiri Fabiano usai mencetak gol. Bahasa tubuh Fannoy mengatakan, “Kau menyentuh bola dengan tangan?” Tentu saja Fabiano membantah. Heran, Fannoy cuma membalasnya dengan cengiran. Usai pertandingan, Fabiano mengklaim gol “indah” tersebut layak disebut-sebut sebagai “gol tangan Tuhan yang sebenarnya”. Karuan saja si pemilik asli gol tangan Tuhan, Diego Maradona, menolak mentah-mentah disamakan.

Klaim serupa juga dilansir Luis Suarez usai “membantu” Uruguay lolos ke semi-final dengan menamatkan perjuangan Ghana melalui adu penalti. Pada menit terakhir babak perpanjangan waktu, Suarez menghalau sepakan pemain lawan dengan tangan. Insiden jelas tertangkap wasit dan tanpa ampun Suarez dikartumerah. Ironisnya, Asamoah Gyan gagal mengeksekusi penalti. Di babak adu penalti, Ghana kehilangan momentum dan menyerah kalah. Suarez, si “pebola voli” atau “kiper terbaik Piala Dunia”, disanjung sebagai salah satu pahlawan kemenangan Uruguay meski luas diakui tindakannya tidak terpuji.

Sepakbola modern sudah gila.

Pasca-Piala Dunia, wacana mengarah kepada perbaikan sistem perwasitan karena insiden kontroversial pada pertandingan Jerman melawan Inggris. Wasit Jorge Larrionda dari Uruguay tak melihat bola sepakan Frank Lampard sudah melalui garis gawang lebih dari satu meter. Bodohnya, asisten wasit Mauricio Espinosa tak bisa membantu sang pemimpin pertandingan karena pandangannya terhalang. Inggris kalah telak 4-1 dan insiden tersebut terus dibicarakan dalam buku sejarah sepakbola.

Saya lihat kemajuan teknologi tak berpihak kepada wasit. Selain harus mengawasi laju pertandingan, terkadang kualitas kepemimpinan wasit juga dinilai dari puluhan kamera yang merekam setiap laku gerak pertandingan dari pinggir lapangan. Semuanya atas nama kepuasan pemirsa televisi. Setiap kejadian kini sudah bisa dinikmati melalui tayangan replay, tapi seperti pedang bermata dua. Gol-gol dan momen-momen menentukan bisa dinikamti pemirsa televisi, sama halnya setiap kejadian menghebohkan macam handball, penalti, off-side, gol siluman Lampard, aksi-aksi diving Iniesta yang mengagumkan, dan lain-lain.

Teknologi video mungkin diperlukan, tapi biarkanlah sepakbola menjadi sepakbola apa adanya di atas lapangan ketika sebelas pemain berupaya mengalahkan sebelas pemain lainnya dengan kemampuan sebaik mungkin. Lain dari mereka, ambil posisi duduk nyaman saja menyaksikan pertandingan.

Filed under: opini, , , , , , , ,

tentang saya…

almanak

Mei 2012
M S S R K J S
« Apr    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

kumpulan

kicauhawe

  • @xviansitompulx baca linimasa ane dongs ah.. :p 21 hours ago
  • Anita! kata @changdisini... tapi kan Anita lebih bagus mainnya ketika diposisikan jadi gelandang bertahan di Ajax musim ini. nah... 21 hours ago
  • intinya... pilihan Van Marwijk sudah bisa ditebak. ;) mari tunggu ujicoba vs Bayern Munich (23/5) dan Bulgaria (27/5). 21 hours ago
  • prediksi saya juga tidak beda. bek: Boulahrouz / Bouma / Willems. mid: Maher / S de Jong. str: Lens / Narsingh / L de Jong. 21 hours ago
  • ini kata @DarmoWidjoyo : Lens, Maher, Narsingh/Willems, S de Jong. karena gaya konservatif Van Marwijk. pendapat, tweeps? 21 hours ago
  • pemain tersisa sekarang bisa dibilang praktis skuat utama plus cadangan (23+4) untuk Euro 2012. siapa 4 pemain yg akan dicoret lagi? 21 hours ago
  • 4 pemain lain yang dicoret: Jasper Cillessen, Erwin Mulder, Georginio Wijnaldum, dan Ola John. 27 pemain tersisa dibawa ke Lausanne besok. 21 hours ago
  • artinya, teka-teki! siapa bek kiri yang disiapkan Van Marwijk? Jetro Wullems? Wilfred Bouma? Vurnon Anita? Stijn Schaars? 21 hours ago
  • mereka adalah: Stefan de Vrij, Alexander Buttner, Hedwiges Maduro, dan Nick Viergever. Urby Emanuelson juga bisa dihitung. 21 hours ago
  • pagi, tweeps. perampingan skuat Oranje oleh Bert van Marwijk terbilang berani karena mencoret 4 pemain belakang sekaligus. 21 hours ago
  • @pinguinprop @deewpd Cocok apaan? Cocok jadi sinden? -_-" 1 day ago
  • The caffeine kicks in... 1 day ago
  • Yang dilarang nyembah setan, yang ngelarang nyembah duit... 1 day ago

paling laku

  • Tidak ada
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.