It was a sunny day in the city.
Kami berjalan di tengah pemukiman Melayu atau biasa disebut Kampung Jawa. Pertama kali turun dari bus, pintu terbuka menuntun kami masuk ke halaman istana pada masa kesultanan Melayu Riau zaman dulu. Di sinilah pusat pemerintahan Tumasik. Mesjid, pasar, dan pemukiman terletak dalam satu kompleks. Sekarang, di dekat mesjid pemukiman disulap menjadi toko-toko yang menjual cinderamata.
Sudah jelas ini harinya untuk para ibu-ibu dalam rombongan…
Kami berjalan kaki dari Kampung Jawa ke Haji Lane Street, sayangnya salah satu kawasan cinderamata ini baru dibuka menjelang sore hari, dan akhirnya mendarat ke Bugis Village. Jangan heran jika para ibu langsung tenggelam dan menghilang dalam keramaian pasar.
“More shops”… “More shops”… Bunyi penunjuk jalan yang digantung di atas tiap persimpangan pasar. Baju, pernak-pernik, oleh-oleh, tas, sepatu… You name it. Ada di sini dengan harga rata-rata mulai dari S$10. Kamu bisa memilih menghabiskan bujet untuk belanja di sini, atau nanti di Mustafa.
Itu yang kami lakukan tengah malam setelah mampir sejenak di Supperclub, kelab berlantai dua dengan kasur sebagai “tempat duduknya”. Ya, kasur. Jadi, kamu bisa menyelonjorkan kaki di atasnya dan bersantai sambil mengobrol dengan teman-teman.
Belum puas, kami meluruskan kaki dengan berjalan-jalan keluar dari Supperclub untuk menuju Mustafa. Pukul 12 malam. Yep, Mustafa buka 24 jam. Sisa dari perjalanan dengan kaki itu kami lanjutkan dengan taksi. “To the Mustafa, Uncle…”
Mustafa seperti toserba. Kalau di Jakarta, kamu akan berpikir toserba zaman ini hanya hidup pada 1980-an. Tapi tidak di sini. Segala ada, baju, perlengakapan olahraga, perhiasan, pecah belah, makanan, minuman, obat-obatan, hingga DVD… Kawasan di tengah pemukiman masyarakat keturunan India ini sangat hidup di waktu malam.
Hari itu hari yang mengenyangkan. Tidak saja karena puas berbelanja, tapi juga secara literal. Sebelum makan siang di Pot Pourri dengan menu khas India, kami ngemil nyamikan di Bugis, dan terakhir dilanjut dengan set-up menu makanan Western di My Secret Garden. Dua kali set-up menu hari itu, ditambah late breakfast, nyaris menghilangkan selera makan saya. Padahal, belum lagi saya sempat mencicipi pie apel McDonald’s yang direkomendasikan teman-teman.
Ah, saya lupa menceritakan Orchard Road yang sohor itu. Akhirnya, saya menyusuri kawasan pedestrian-friendly itu tepat ketika matahari mulai jinak di atas langit Singapura. Lucky Plaza, Takashimaya, toko buku Borders.. Hanya sekali menyusurinya dengan waktu terbatas tentu tidak membuat rasa penasaran saya terpuaskan. Saya yakin, diberi waktu senggang sehari penuh, saya akan larut dalam kawasan yang, lagi-lagi, pedestrian-friendly ini.
Nanti, saya akan kembali lagi ke Singapura…
Filed under: mengalami, jalan-jalan, liburan, singapore tourism board, singapura, wacky weekend
anjangsana