Gegas langkah Howard Schulz terhela sejenak. Perhatian pendiri sekaligus CEO Starbucks itu tersita pada antrian panjang orang-orang di kedai kopi kecil bernama Cafe Grumpy. Tertarik, Schulz membeli segelas dan menyesapnya. Hasilnya, “Kopi seduhan terbaik yang pernah kucicipi.”
Tanpa buang waktu, Schulz mencari tahu rahasia nikmatnya seduhan kopi itu. Ternyata, kunci kenikmatan itu terletak pada mesin kopi Clover. Starbucks pun langsung mengontak Clover sambil berniat menggandengnya dengan kontrak eksklusif untuk beberapa gerai Starbucks. Maret 2008, Starbucks mengakuisisi Coffee Equipment Company untuk menambah Clover dalam amunisi lini bawah gerai kopi terkenal dunia itu.
Tapi, tidak semua gerai Starbucks kebagian mesin ajaib ini. Hingga saat ini, hanya empat kota di Amerika Serikat yang menyediakan kopi seduhan Clover, yaitu di Miami, Boston, Seattle, dan San Francisco.
Apa istimewanya Clover? Untuk mengolah bubuk kopi menjadi secangkir yang nikmat, perlu komposisi yang tepat. Clover, konon katanya, mampu menghitung tiga variabel penting: dosis, suhu air, dan waktu seduhan. Misalnya, untuk 37,5 gram kopi Fazenda Sao Joao dari Brasil hanya nikmat jika diseduh dengan suhu 204 derajat dan 43 detik.
Clover dapat memanjakan seluruh pecinta kopi di dunia. Ada port khusus yang tersambung dengan database on line agar penggunanya dapat menyimpan resep untuk kopi favoritnya. Mekanisme kerja dan disain mesin juga tidak menyulitkan pengguna. Kurang dari semenit sejak bubuk dimasukkan ke dalam mesin, pengguna sudah dapat menikmati kopi.
Tertarik? Mesin ini bisa dibeli seharga $11 ribu. Lumayan tinggi untuk sekadar menikmati secangkir kopi, bukan? Tapi, mungkin sepadan bagi yang mengedepankan cita rasa saat meminum kopi.
*Inspirasi tulisan dari artikel majalah Wired, gubahan Mathew Honan. Bisa juga memuaskan rasa penasaran dengan berkunjung ke laman Starbucks.
Filed under: opini, Clover, kopi, mesin kopi, minum kopi, Starbucks

anjangsana