Menyaksikan Modus Anomali tidak bisa tidak harus memuji konsistensi Joko Anwar dalam menghasilkan sebuah karya. Presisi, cerita, pilihan tema… semuanya menjadikan Joko sebagai sutradara Indonesia dengan gaya khas yang dinantikan para penggemarnya.
Saya bukan pengagum Joko Anwar. Terus terang saya tidak terlalu menyukai cerita yang ditawarkan Pintu Terlarang, meski kecermatannya memilih corak harus diakui menjulangkan nilai artistik film keluaran 2009 itu. Belum lama dari perilisan film thriller psikologis itu, gaya penulisan Joko yang khas sangat terasa dalam Fiksi sehingga mengantarkan film itu merebut penghargaan Citra sebagai film terbaik 2008.
Ekspektasi saya saat mengantre untuk membeli tiket nonton Modus Anomali adalah menyaksikan karya khas Joko Anwar dengan genre thriller psikologis. Satu setengah jam berikutnya, ekspektasi saya terpenuhi meski dengan sedikit perasaan antiklimaks.
Sangat terasa dalam film terbaru Joko ini adalah pergerakan kamera yang senantiasa mengikuti peran utamanya, John (Rio Dewanto). Dengan demikian, John hampir selalu berada dalam setiap adegan film. Di awal diceritakan John terbangun di sebuah hutan tanpa mampu mengingat apapun — termasuk identitas diri sendiri. SIM dan foto keluarga di dalam dompet menjadi petunjuk kecil yang menerangkan siapa dirinya. Dia kemudian mendapati sebuah pondok peristirahatan dengan istrinya sudah terbaring kaku bersimbah darah. Dari rekaman video di handycam, John mendapati keluarganya menjadi sasaran pembunuhan seorang psikopat. Kini dia pun harus mencari dua anaknya untuk menyelamatkan mereka dari ancaman si psikopat.
Seperti di dalam Pintu Terlarang, Joko memberikan teka-teki untuk dijawab di akhir film. Siapakah John sebenarnya? Siapa pula psikopat berdarah dingin yang membantai istrinya? Kenapa keluarganya menjadi sasaran? Apakah John dan kedua anaknya selamat?
Saya sudah bilang tadi, penggunaan kamera yang terus bergerak mengikuti karakter utama dalam film sungguh mengesankan. Jarang bisa ditemukan film Indonesia dengan gaya serupa yang konsisten. Sinematografi yang terencana dengan baik juga ditunjang dengan penyuntingan yang baik pula sehingga pergantian antaradegan terasa mulus.
Hanya, saya juga sudah bilang tadi, ganjalan film ini terletak pada sepertiga akhir film. Setidaknya menurut saya. Ketika semua teka-teki itu hendak dijawab, ketika itu pula film kehilangan daya suspensinya. Kejutan memang muncul, tetapi hanya sekejap. Ketika pertanyaan besar terjawab — praktis dalam satu adegan saja — sisa film ini hanya memberikan penjelasan atas prolog film. Sekadar memberikan penonton rincian kejadian khusus supaya persoalan yang umum terjawab.
Modus Anomali menjadi contoh kalau sebuah film Indonesia bisa digarap serius dengan memperhatikan detail yang menyeluruh. Layak disaksikan di layar lebar!
Rating: 3 / 5 bintang
Filed under: resensi, film, film indonesia, joko anwar, Modus Anomali, resensi, review, Rio Dewanto

anjangsana