Ini cerita perjalanan saya ke negeri jiran bulan lalu. Dari judul yang saya gunakan tentu sudah bisa diketahui ke mana tujuan perjalanan ini. Betul, Malaysia.
Bukan cuma semalam saya di Malaysia. Tetapi sepekan lebih sedikit. Kali ini saya dapat mampir lagi ke Kuala Lumpur berkat misi dari tempat bekerja untuk meliput kedatangan serta pertandingan tiga klub Liga Primer Inggris (EPL), yaitu secara berturut-turut Arsenal, Liverpool, dan Chelsea.
Ya. Tidak hanya satu, tapi sekaligus tiga. Bagi fans sepakbola klub bersangkutan, mungkin sulit menggambarkan antusiasme menyambut kedatangan tiga klub top EPL itu ke negeri sendiri. Ups. Bukan Indonesia memang, tapi jarak dan biaya perjalanan Indonesia ke Malaysia sudah kian terjangkau sehingga menyaksikan tur tiga klub EPL itu rasanya relatif bukan masalah jika menyiapkan anggaran jauh-jauh hari.
Kedatangan tiga klub EPL itu ke Malaysia dipromotori ProEvents. Mereka juga lah yang nyaris mendatangkan Manchester United ke Jakarta dua tahun lalu sebelum terjadinya insiden ledakan bom yang menyebabkan Si Setan Merah terpaksa bermain dua kali di Kuala Lumpur. Tahun ini menjadi peringatan spesial karena ProEvents berulangtahun kesepuluh sehingga dirasa perlu merayakannya besar-besaran.
Tidak mudah meyakinkan tiga klub top EPL itu datang ke Kuala Lumpur. ProEvents harus membangun kepercayaan sejak awal. Resume mulai dibangun ketika ProEvents berhasil mengundang juara dunia Brasil untuk berujicoba melawan timnas Malaysia sebelum mengikuti Piala Dunia 2002. Setahun kemudian, ProEvents berhasil mendatangkan Birmingham City, Newcastle United, dan Chelsea sebelum era Roman Abramovich, untuk mengadakan pertandingan eksebisi bertajuk Premiere League Asia Cup.
Kredibilitas ProEvents kian meningkat setelah berhasil mengundang kembali Chelsea pada 2008 dan Manchester United pada 2009. Tidak heran jika tahun ini perusahaan promotor itu sukses mendatangkan tiga tim top sekaligus ke Kuala Lumpur.
“Pertama-tama, kami harus memenangkan kepercayaan klub-klub tersebut. Kami harus memberi jaminan mampu menyediakan segala persyaratan yang mencakup jadwal sejak mereka datang sampai meninggalkan negara ini,” ujar CEO Julian Kam membeberkan resepnya kepada The Star beberapa waktu lalu.
“Proses yang pelik, tapi tidak boleh ada kesalahan karena mereka begitu memperhatiakn setiap aspek, terutama masalah teknik seperti kondisi cuaca dan kualitas lapangan latihan.”
“Biasanya mereka lebih dulu mengirimkan pengurus untuk menginspeksi fasilitas sebelum memberikan lampu hijau kepada negara calon tuan rumah.”
Kam belajar dari pengalaman ketika berhasil membujuk United datang ke Kuala Lumpur pada 1995.
“Saya mulai menjalin kontak hingga delapan tahun lamanya sebelum berhasil diperhatikan. Tadinya tidak ada jawaban, tapi saya terus mencoba dan mengirimkan proposal lewat telegraf. Akhirnya, eks presiden United Martin Edwards mau membuka pintu.”
Barangkali tidak hanya kegigihan seorang profesional yang dibutuhkan untuk meyakinkan klub top mau datang berkunjung, tetapi juga didukung infrastruktur yang menunjang.
Dari segi teknis, seperti sudah disebutkan Julian Kam, negara calon tuan rumah harus memiliki fasilitas lapangan yang memadai. Bukan hanya stadion tempat bertanding, tapi juga kompleks latihan yang mendukung.
Selain itu, kebolehan akomodasi Malaysia dalam menghelat festival sepakbola selama sepekan juga harus diacungi jempol. Sempat ada kekhawatiran tentang keberlangsungan tur karena aksi demonstrasi Bersih 2.0 yang dilancarkan kelompok oposisi, Sabtu 9 Juli. Ketika saya mendarat dua hari berselang, aktivitas Kuala Lumpur berjalan seperti sedia kala dan nyaris tidak berpengaruh. Arsenal sendiri sudah mendarat Senin pagi dan berlatih Selasa sore di Bukit Jalil. Latihan diramaikan 15 ribu pendukung yang tidak hanya berasal dari Malaysia, tapi juga Indonesia, Singapura, Australia, bahkan Afrika dan Eropa.
Bukit Jalil adalah kompleks olahraga milik Pemerintah Malaysia yang dibangun saat menyelenggarakan Pesta Olahraga Persemakmuran 1998 silam. Stadion Nasional menjadi pusat dari kompleks ini. Stadion bisa menampung hingga 100 ribu penonton, memiliki tribun bersusun tiga, trek atletik, serta fasilitas meja dan wi-fi yang membuat wartawan nyaman bekerja.
Menuju Bukit Jalil dari pusat kota Kuala Lumpur tidak sulit. Sangat disarankan agar fans naik kereta api RapidKL dari stasiun KL Sentral dengan kira-kira setengah jam perjalanan untuk menempuh jarak 20 kilometer. Tentu tidak ada kemacetan lalu lintas di jalur ini, tetapi fans harus berbagi tempat dengan penglaju saat jam pulang kerja. Belum lagi dengan sesama fans yang juga memiliki tujuan yang sama: menyaksikan pertandingan di stadion.
Beberapa kali saya datang ke Kuala Lumpur, saya selalu menginap di kawasan Bukit Bintang. Atas dasar pengalaman itu, saya tidak bisa membayangkan jika harus menginap di tempat lain karena Bukit Bintang kawasan yang layak huni bagi para pelancong. Bukit Bintang merupakan kawasan yang hidup 24 jam. Setidaknya, hampir. Saya sempat menghabiskan waktu duduk makan nasi goreng dan mengobrol di warung pinggir jalan hingga pukul 2 dinihari waktu setempat. Dan, tidak ada tanda-tanda orang mau beranjak.
Belum lagi menyebutkan pusat hiburan lain di kawasan ini, seperti bar, kelab malam, atau kafe. Kamu harus sering-sering menolak tawaran dari pramusaji yang menawarkan jasa foot massage atau bahkan body massage di sepanjang jalan Bukit Bintang. Bukit Bintang juga menjadi surga belanja. Bangunan BB Plaza dan Sungei Wang yang menyatu seperti tidak pernah habis ditelusuri. Low Yat Plaza bagi yang mencari perangkat elektronik atau Pavilion bagi yang kangen suasana mal seperti di Jakarta.
Di kawasan ini bertebaran pula hotel-hotel, mulai dari hotel berbujet rendah hingga hotel berbintang. Tinggal pilih sesuai dengan anggaran masing-masing. Kulinari pun bertebaran dan didominasi dengan masakan Cina di sepanjang jalan Alor. Menurut ketua asosiasi perhotelan setempat, pariwisata Malaysia merugi 100 juta ringgit (kira-kira Rp300 milyar!) ketika Bukit Bintang ditutup selama demo Bersih 2.0 berlangsung.
Bisnis pelesiran bergairah kembali berkat tur tiga klub top EPL. Kamar-kamar hotel ramai dipesan. Begitu juga agensi perjalanan serta usaha kulinari di Kuala Lumpur yang laris manis.
Bagi fans sepakbola yang menginap di Bukit Bintang, tidak sulit pula mencapai Bukit Jalil. Tinggal menempuh kereta api RapidKL dari stasiun Hang Tuah yang terletak di sebelah Penjara Pudu Lama dan seberang markas besar kepolisian negara. Pendeknya, akomodasi seperti fasilitas penginapan dan transportasi tidak akan memusingkan kepala fans yang ingin datang menonton pertandingan.
Wajar kiranya jika 55 ribu penonton datang memenuhi stadion Nasional Bukit Jalil ketika Arsenal bertanding, Rabu 13 Juli. Jumlah tersebut kian membludak dan kereta api kian terasa sesak ketika 85 ribu penonton menyaksikan laga Liverpool, pada Sabtu. Terakhir, ketika Chelsea bertanding Kamis, 85 ribu penonton juga memenuhi stadion. Total tiga pertandingan itu disaksikan langsung oleh 225 ribu pasang mata! Jumlah itu belum termasuk mereka yang menyaksikan siaran langsung televisi.
Di kompleks stadion, fans yang datang pun tidak serta merta ditelantarkan. Kompleks stadion yang senantiasa terawat mendirikan stand-stand menjual merchandise dan makanan. Suasana festival sangat terasa di sini ketika fans tawar-menawar dengan penjual untuk barang yang ditaksirnya. Sementara, fans juga bisa menikmati camilan supaya perut tidak kosong saat menonton nanti. Fans pun tidak segan datang berombongan, bersama teman-teman atau mengajak serta keluarga masing-masing dengan dandanan serba-timnas Malaysia, Arsenal, Liverpool, atau Chelsea.
Beberapa masalah memang muncul, seperti keluhan fans terhadap fasilitas toilet yang tidak dibenahi atau keamanan terhadap anak-anak. Atau seperti pencetakan tiket yang dianggap menghina federasi sepakbola Malaysia (FAM). Namun, dilihat dari begitu besarnya antusiasme penonton serta aktivitas pemasaran seperti jumpa fans yang digelar Liverpool di kawasan Pavilion, tur tiga klub EPL itu dapat dikatakan mendatangkan sukses besar.
Jika dikaitkan dengan sisi sepakbola, lain lagi ceritanya. Malaysia berniat menjadikan kedatangan tiga klub top itu sebagai persiapan menjelang kualifikasi Piala Dunia 2014 melawan Singapura. Hanya dua, tepatnya. Menghadapi Arsenal dan Liverpool, Malaysia menelan dua kekalahan telak 4-0 dan 6-3. Pelatih Krishnasamy Rajagopal mewanti-wanti keteledoran lini belakang yang dianggap menjadi masalah utama tim asuhannya. Masalah itu tidak berhasil dipecahkan dalam waktu singkat. Dalam derby Causeway yang menentukan langkah ke putaran kualifikasi Piala Dunia selanjutnya itu, Malaysia menyerah 5-3 di kandang Singapura dan hanya mampu bermain imbang 1-1 di Bukit Jalil.
Hasil minor itu tidak lantas mencoreng potensi negeri jiran. Setidaknya penampilan Malaysia U-23 bisa menjanjikan sesuatu saat mampu membendung Chelsea dan hanya kalah lewat gol tunggal Didier Drogba yang kontroversial. Tim yunior Malaysia itu pula yang dipersiapkan tampil di putaran kualifikasi Olimpiade 2012 dan siap diturunkan di SEA Games di Palembang, November ini.
Secara kebetulan saya bertemu eks asisten pelatih timnas Syamsuddin Umar di bandara LCCT sebelum bertolak pulang ke Jakarta.
“Bagus mereka [Malaysia]. Cara pertahanan mereka menjaga striker lawan. Lihat, Drogba atau Fernando Torres tidak berkutik. Bisa bahaya nih [buat Indonesia],” ujarnya dalam obrolan santai.
Untuk menjawabnya, harus disaksikan penampilan Malaysia di SEA Games nanti. Jujur, saya tidak dapat menghafal pemain-pemain andalannya hanya dalam satu pertandingan. Tapi saya sepakat dengan pendapat pak Syam, para pemain muda Malaysia tidak segan mempertontonkan kebolehan individual meski menghadapi klub sekelas Chelsea. Setidaknya dua pemain di sektor kanan mereka tampil baik, terutama sayap kanan Zack Haikal. Oh ya, dua kiper mereka juga tampil cemerlang, Farizal Marlias dan Izham Tarmizi.
Buat saya sendiri, yang jelas, saya tidak sabar menunggu tur sepakbola lagi. Berjalan-jalan memang menyenangkan.
Filed under: mengalami, Arsenal, Bukit Bintang, Bukit Jalil, Chelsea, Kuala Lumpur, Liverpool, Malaysia, pelesiran, sepakbola, traveling, tur klub Liga Primer Inggris, wisata sepakbola










anjangsana