Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Cinta yang Mencerahkan

(500) Days of Summer

(500) Days of Summer

Coba pikir lagi kalau kalian sudah mengerti makna kata “cinta”.

Film (500) Days of Summer mungkin bisa membantu mencarikan definisi baru atau sekadar mendiskusikan makna kata ampuh tersebut.

Dalam banyak literatur populer — film, novel, lagu, bahkan kartu ucapan — “cinta” sangat menjual. “Cinta” tak pernah berhenti melahirkan inspirasi dalam berbagai literatur tersebut. Tak terkecuali (500) Days of Summer.

Tom, lulusan arsitek yang terjebak menjadi penulis naskah kartu ucapan, bertemu Summer. Seperti dalam kebanyakan film bergenre roman, tak sulit jatuh cinta kepada Summer. Berkat obrolan sepele tentang The Smiths, perasaan Tom mulai bersemi.

Cinta memiliki dua sisi, menghidupkan sekaligus menghancurkan. Tak terlukiskan betapa bahagianya Tom menemui perasaan sama yang dimiliki Summer, tapi juga betapa hancur dunianya ketika Summer memilih pergi.

Perbedaan di antara mereka, Summer tidak percaya “cinta”. Meski saling menyukai, Summer tidak ingin berhubungan lebih lanjut dan hanya ingin “berteman”. (500) Days of Summer bercerita tentang upaya Tom melupakan Summer. Seperti yang diingatkan narasi di awal film, ini bukan kisah cinta.

Gaya bertutur (500) Days of Summer mencerahkan genre roman yang memiliki formula klasik “pria bertemu wanita, mereka jatuh cinta, memiliki masalah, berjuang mengatasinya, dan pada akhirnya hidup bahagia selamanya”.

Formula masih sama, tapi dengan ramuan yang berbeda: uniknya alur penceritaan yang disertai penggunaan narator, perbincangan-perbincangan kecil yang menggelitik, kimia apik antara Joseh Gordon-Levitt dan Zooey Deschanel, serta lagu-lagu pengiring film yang membuat telinga gampang ketagihan.

Sederhana saja, (500) Days of Summer adalah film bergenre roman terbaik tahun ini.

Dan, jika kamu memang sedang jatuh cinta, bebaskan saja…

 

Rating: 5/5 bintang

 

*Resensi film (500) Days of Summer (Marc Webb, 2009)

**Image courtesy of www.impawards.com

Filed under: resensi , , , ,

Antri Dulu Sebelum Terhibur Nonton Transformers

Megan Fox, 60 persen alasan menonton Transformers 2?
Megan Fox, 60 persen alasan?

Butuh perjuangan ekstra untuk menyaksikan Transformers 2 tepat pada hari pemutaran perdananya di Jakarta. Ini musim liburan, bung! Libur anak sekolah, libur anak kuliah, libur para orangtua dari kantornya untuk menemani anak-anaknya, libur mereka yang bolos atau cuti dari kantor untuk nonton perdana Transformers 2…

Seorang teman, bapak beranak satu, mengungkapkan ambisinya menonton Transformers 2. Sisanya untuk para robot dan karakter utamanya, 60 persen hanya untuk Megan Fox seorang! Jadi, penonton boleh memilih, mau terhibur atas aksi para robot sepanjang film atau protes screentime Nona Fox seharusnya lebih banyak dan sering lagi.

Apapun, Transformers 2 menjadi puncak eksplorasi Michael Bay. Sukses menjadikan logi pertamanya laris manis di pasaran, Bay seperti punya keleluasaan dalam mengerahkan (hampir) seluruh gagasannya dalam film. Tidak ketinggalan tentu sedikit chauvinisme yang disisipkannya dalam banyak adegan.

Saat menonton, satu studio penuh tanpa menyisakan bangku kosong. Saya terpaksa berganti bioskop untuk menuntaskan niat menyaksikan Transformers 2 tepat pada hari perdana pemutarannya. Sudah bisa diduga, banyak anak-anak berusia sekolahan di dalam studio. Banyak pula para orangtua yang menemani. Ada juga yang dititipi mengantri depan loket untuk membeli tiket pertunjukan usai jam kerja untuk nonton bareng rekan-rekan sekantornya. Memang musim liburan.

Tidak perlu meminta kedalaman cerita dalam Transformers 2. Kamu tinggal mengantri, masuk studio, makan-minum cemilan, sambil menikmati filmnya hingga tuntas. Benar-benar menghibur. Itu takkan terelakkan.

Ledakan. Slow motion. Medium shot yang berputar mengelilingi tokoh utama. Para karakter berbaris horizontal dengan gagah berani. Semua Bay-isme tersaji di depanmu. Jangan protes kalau Amerika Serikat tampak jumawa dalam film.

Tidak semuanya seserius dan memicu adrenalinmu. Syaraf-syaraf sedikit dibikin rileks setiap karakter ibu Shia LeBoeuf, roomie-nya, dan mantan agen rahasia yang diperankan John Turturro muncul. Mereka kerap mengundang ledakan tawa para penonton studio.

Saya bukan maniak sejati Transformers 2. Saya tidak hapal nama-nama Autobots dan Decepticon yang muncul dalam film, dan yang mana yang belum muncul. Saya masih kesulitan mengikuti secara detail ketika para robot itu bertarung. Tapi saya akui, masih lebih mulus ketimbang logi yang pertama.

Saya tidak beralasan pergi ke bioskop demi Nona Fox. Bagi saya, bukan dia yang menjadi alasan utama untuk menonton film ini. Mungkin ini alasan rutin saja, saya tidak ingin tertinggal perbincangan film terbaru yang muncul di layar bioskop, apalagi untuk mendengar cengegesan spoiler dari teman-teman yang sudah lebih dulu menyaksikan film.

Bagi beberapa orang, terutama saat peluncuran logi pertama dua tahun lalu, Transformers adalah mimpi masa kecil yang jadi nyata. Saya tidak terlalu larut dalam hype itu. Ini lagi-lagi “cuma” Bay-isme yang mencapai titik ekstrimnya. Sudah sampai situ saja.

*image courtesy of www.filmofilia.com

Filed under: mengalami, resensi , , , , , , , , ,

Teruslah Bermimpi, Garuda

Sepakbola Indonesia terus bermimpi. Dalam film keluarga bernuansa sepakbola, Garuda Di Dadaku, mimpi tersebut makin disakralkan.

Dari berbagai hal, menurut saya, film ini jauh lebih berbobot dan menarik ketimbang sebuah film sepakbola lain yang dirilis sekira bulan lalu.

Bayu, seorang siswa kelas 6 SD, bercita-cita menjadi pemain sepakbola. Profesi yang ditekuni ayahnya dan ditentang kakeknya. “Buat apa jadi pemain sepakbola. Memang digaji tinggi, tapi kalau cedera, selesai!” tegur kakeknya.

Setelah memerankan tokoh kepala sekolah yang bijak dalam Laskar Pelangi, Ikranegara mampu menampilkan figur kakek yang berkesan. Pilihan kosa kata dan intonasi Ikranegara barangkali terasa kuno bagi penonton, tapi malah menguatkan kesan seorang kakek yang mencoba menjadi teladan bagi cucu kesayangannya.

Bayu tak habis akal. Si bocah mencari-cari waktu bermain sepakbola dan menghabiskan banyak waktu berdiskusi soal si kulit bundar bersama Heri. Padahal, sang kakek lebih mengarahkannya ke bidang ekstrakurikuler lain yang lebih “serius”, seperti melukis dan musik.

Dasar memang berbakat, kemampuan Bayu diendus Johan, diperankan Ari Sihasale, pelatih sebuah sekolah sepakbola ternama Jakarta, yang menawarinya masuk sekolah itu melalui program beasiswa. Mimpi belum berhenti hingga di sana, karena Bayu bercita-cita menembus seleksi timnas Indonesia U-13.

Seperti banyak kisah lain, mimpi kerap menemui kesulitan.

Kakek Usman mewakili sinisme masyarakat terhadap perkembangan sepakbola Indonesia. Banyak kritik yang sudah teramat sering disampaikan untuk sepakbola nasional. Saking seringnya, pendapat Usman malahan sudah jadi omongan klise.

Skenario Garuda Di Dadaku, yang ditulis Salman Aristo, lugas dan sederhana. Cocok bagi tontonan keluarga untuk mengisi masa liburan sekarang ini. Menariknya, skenario sederhana itu ditutupi penyutradaraan yang apik oleh debutan Ifa Ifansyah. Begitu juga dengan akting Ikranegara dan Ramzi, yang tampil lepas dan berwarna.

Bagi mereka yang lebih serius dan ingin mencari solusi atas situasi sepakbola Indonesia, Garuda Di Dadaku memang tidak bisa memberikan jawaban.

Jadi, lupakan dulu pertanyaan, “Kapan anak Indonesia bermain di liga Inggris?” Nikmati saja filmnya. Sepakbola Indonesia memang belum mampu berprestasi, tapi bermimpi tidak dilarang bukan?

Rating: 4/5

Filed under: resensi , , , , , , , , , ,

Tidak Ada Cinta Dalam “Romeo Juliet”

Romeo Juliet (Andibachtiar Yusuf, 2009)

Romeo Juliet (Andibachtiar Yusuf, 2009)

“Football is a matter of life and death, i can assure you it is much more important than that.”

Kalimat tersebut bukan milik Andibachtiar Yusuf, tapi manajer legendaris Liverpool Bill Shankly. Bagi Yusuf, ucapan tersebut adalah ucapan favoritnya. Semacam kredo. Setelah sering mengutipnya dalam beberapa kesempatan, Yusuf menunjukkan “sepakbola Indonesia lebih sekadar daripada hidup” dalam Romeo Juliet, debut film fiturnya.

Identitas sepakbola Indonesia yang ditunjukkan dalam Romeo Juliet adalah fanatisme yang kental dengan kekerasan. Selalu identik dengan kerusuhan penonton. Sepakbola adalah kerusuhan.

Perseteruan yang sangat mengemuka di jagad persepakbolaan Indonesia adalah antara fans Persija Jakarta dengan Persib Bandung. Yusuf berpikir, bagaimana jika keduanya dihubungkan dengan sebuah kisah cinta sejati yang menyadur karya kenamaan William Shakespeare? Lahirlah kisah ala Romeo dan Juliet yang kental dengan nuansa sepakbola.

Tapi, tunggul dulu. Mungkin Yusuf terlalu bernafsu mengumbar cintanya terhadap sepakbola sehingga terjebak dalam paradigma yang diusungnya sendiri, yaitu “sepakbola Indonesia yang identik dengan kekerasan” itu tadi. Saking memusatkan perhatian penuh kepada rivalitas kedua pendukung yang mengarah pada kekerasan, Romeo Juliet malah melupakan unsur perekat yang sangat penting. Sepakbola itu sendiri. Dan, karena menyadur Shakespeare, cinta.

Memang tidak salah menyamakan nikmatnya menonton sepakbola seperti hubungan seks, seperti yang ditunjukkan dalam satu adegan. Tapi, bagi penonton awam, sulit memahami kadar fanatisme yang dimiliki para pendukung sepakbola ini. Fanatisme, yang juga kerap digambarkan secara verbal sepanjang film, diibaratkan Yusuf sebagai belati bermata tunggal. Hanya ada hitam, tidak ada putih. Begitu pula sebaliknya. Penonton awam harus percaya fanatisme sepakbola di Indonesia takkan jauh dari kekerasan, verbal dan non-verbal.

Salah satu peluang untuk memisahkan kekerasan dari sepakbola muncul ketika karakter utama pria datang ke Malang. Beda dengan di Bandung, di sana dia disambut hangat pendukung sepakbola setempat. Muncul lagi pertanyaan dari penonton awam, kenapa mereka tidak bermusuhan? Kenapa seolah-olah pendukung sepakbola Jakarta hanya bermusuhan dengan pendukung Bandung?

Jawabannya tercermin pada tekad Yusuf untuk memberikan gambaran rivalitas sepakbola Jakarta-Bandung secara apa adanya.

Tekad tersebut malah membuat Romeo Juliet seperti bukan film sepakbola. Terlalu sedikit bahasa dan gambar sepakbola dalam film ini. Ketika karakter utama pria bermain sepakbola dengan sesama rekan pendukung sepakbola Jakarta, mereka malah meneriakkan nama-nama pemain Manchester United. Bagi penonton pendukung sepakbola, siap-siap kecewa karena tidak ada adegan pertandingan sepakbola sama sekali dalam film ini.

Romeo Juliet juga bukan film cinta. Fanatisme diutamakan daripada kekerabatan keluarga. Di atas cinta kasih ibu kepada anaknya, kakak kepada adik, kepada sesama. Cinta tak pernah diberikan kesempatan menjadi jalan keluar dalam film ini. Cinta dimusuhi bulat-bulat, “hanya” karena kedua karakter utamanya menduakan klub masing-masing.

Romeo Juliet adalah film tentang kekerasan, yang ditingkahi dengan kontras oleh simfoni mendayu-dayu gubahan Ananda Sukarlan.

Dan, sungguh kontras. Jika dalam karya aslinya Shakespeare memenangkan cinta pada bagian penutup dengan mematikan kedua tokoh utama (karena hanya dengan kematianlah mereka dapat bersatu dengan cinta), dalam kisah Romeo dan Juliet versi Yusuf, kekerasanlah yang dimenangkan.

Karakter utama pria dikisahkan tewas ketika mendatangi stadion di Bandung untuk menjemput sang pujaan hati di tengah-tengah amukan pendukung tuan rumah.

Pahit. Realitas sepakbola Indonesia yang sangat tragis. Mau apa lagi? Memang seperti itulah gambaran sepakbola Indonesia. Dan, Romeo Juliet tak pelak malah tergiring menjadi agen kekerasan itu sendiri… Mau apa lagi? Seperti itulah sepakbola Indonesia.

Dalam adegan penutup, kalimat kunci berupa raungan “puas maneh?” (“puas kamu?”) yang diteriakkan secara penuh emosional oleh seorang fans pun tak lebih dari sekadar angin lalu. Gagal memancing simpati para penonton.

Saya percaya mereka, para penonton awam itu, makin meyakini tak ada kisah cinta sejati dalam sepakbola Indonesia. Hanya kekerasan. Mau apa lagi, memang seperti itu apa adanya…

Rating: 1,5/5 bintang.

*Review film “Romeo Juliet” (Andibachtiar Yusuf, 2009)

**Image courtesy of www.film.indonesiaselebriti.com

Filed under: resensi , , , , , ,

Bukan yang Terakhir, Mudah-Mudahan

Di antara kepungan film nasional lain yang sedang ramai-ramainya bertemakan horor dan komedi jorok, Pencarian Terakhir menawarkan sesuatu yang berbeda. Film ini bertema petualangan, persisnya tentang kegemaran mendaki gunung. Memang bukan barang baru, tapi masih diabaikan. Entah kenapa menjual film dengan tema selain horor dan komedi jorok sekarang ini sama seperti dulu saat ada yang menjual air putih dalam kemasan. Banyak sisi cerita yang bisa diangkat ke dalam film-film nasional, tapi orang-orang memilih berkacamata kuda.

Saya tidak mengatakan Pencarian Terakhir adalah sebuah film sempurna atau malah sebuah adiluhung yang menghembuskan angin baru perfilman Indonesia. Tapi, tema yang jarang dikupas itu membuat saya merasa patut merayakannya dengan menyisihkan sebagian isi kantong untuk datang menonton ke bioskop. Demi perayaan itu pula saya memilih bersikap permisif untuk beberapa pertanyaan yang tersisa usai menontonnya.

Pencarian Terakhir bercerita tentang upaya Sita (Richa Novisha) untuk mencari adiknya yang menghilang saat mendaki Gunung Sarangan. Bersama tim SAR, Sita dibantu Bagus (Yama Carlos) dan Ujo (Alex Abbad), serta Tito (Lukman Sardi) yang pernah selamat saat hilang di gunung yang sama. Masih ada bumbu misteri dalam film. Tapi, ini relatif bisa dipahami. Kalau kamu mendaki gunung, banyak hal yang tak bisa dijelaskan logika. Wajar juga kalau sub-plot ini digunakan untuk memberi warna pada film karya Affandi Abdul Rahman ini.

Namun, kesan saya yang muncul saat film diselesaikan dengan akhir bahagia, mereka ternyata bukanlah pendaki gunung kawakan. Atau dalam kata lain, seperti pecinta alam yang tanggung. Padahal, Sita, Bagus, dan Ujo bekerja di bisnis fasilitas pelatihan outbond. Mungkin ini akibat film tidak terperinci. Tidak ditunjukkan potongan gambar saat para karakter utamanya mengikat tali dengan simpul-simpul tertentu atau bahkan memasang tenda, misalnya. Remeh, tapi lumayan bisa membangun theatre of mind penonton.

Pikiran saya juga mengganjal terhadap hubungan antara Tito dengan Sita yang tak pernah jelas dalam film. Sepertinya hubungan mereka lebih dari sekadar teman, tapi hingga akhir film itu masih praduga saya. Bahaya membiarkan penonton keluar bioskop dengan rasa penasaran seperti ini.

Lebih mengganjal lagi saat mengetahui ternyata Tito tidak pernah menceritakan traumanya kepada teman-teman dekatnya itu. Saat kehilangan arah waktu mendaki lima tahun sebelum alur film, untuk mencari pertolongan, Tito meninggalkan teman yang bernama Norman sendirian. Tito selamat, tapi Norman menghilang. Atau mungkin teman-temannya tak begitu peduli terhadap trauma itu. Film tidak fokus kepada trauma Tito, padahal justru hal itu bisa menjadi alasan kisah ini difilmkan.

Para pemain dapat menghayati karakter masing-masing. Richa Novisha makin dewasa; Yama Carlos dan Alex Abbad sangat cair; rambut gondrong Lukman Sardi membuatnya sulit dibedakan dengan Agus Kuncoro.

Dan, satu hal yang pasti, saya tetap tidak mau berjalan keluar bioskop dengan semua ganjalan itu, sehingga saya merekomendasikan kepada teman-teman untuk menontonnya ketimbang menghabiskan uang untuk film-film horor dan komedi jorok. Berangkat dari keberanian Pencarian Terakhir, mudah-mudahan kian banyak tema baru yang lahir demi perfilman Indonesia.

*Resensi film Pencarian Terakhir (Vandea Production, 2008).

Filed under: resensi , , , , , , , , ,

almanak

November 2009
M S S R K J S
« Okt    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

paling laku

  • Tidak ada

kumpulan

tentang saya…