
Klaas-Jan Huntelaar, disia-siakan Milan?
Awalnya, saya merasa optimistis Klaas-Jan Huntelaar mampu meraih lebih banyak sukses bersama AC Milan saat memutuskan hijrah dari Real Madrid.
Bukankah keberhasilan seniornya, Marco van Basten, di Milan sudah menjadi bukti paling sahih? Bukan hanya berdasarkan asal kebangsaan mereka, tapi tipe permainan yang hampir mirip. Kalau saja berkenan pindah ke Italia, bisa jadi Ruud van Nistelrooy meraih kegemilangan serupa. Tapi, ternyata Huntelaar memilih nasib seperti Dennis Bergkamp.
Sepakbola Italia salah memahami Huntelaar, sama halnya ketika mereka tidak juga menemukan cara jitu mengakomodasi kemampuan Bergkamp. Sejak era Vittorio Pozzo melatih timnas Italia 1930-an, calcio sangat mengutamakan kemenangan. Strategi sepakbola Italia adalah mengamankan lini pertahanan dan menyerang dengan sedikit mungkin pemain. Calcio biasanya melahirkan penyerang sayap yang cepat sebagai andalan utama dalam memulai serangan. Raimundo Orsi, Gianni Rivera, hingga Bruno Conti adalah penyerang-penyerang klasik yang gemar melancarkan serangan balik.
Huntelaar, seperti tiga seniornya terdahulu, adalah striker yang sangat mengutamakan kemampuan teknis dan dibekali insting melepas tembakan mematikan dalam kondisi apapun. Di YouTube bisa disaksikan kelihaian Huntelaar mencetak gol dengan kaki kanan, kaki kiri, sundulan, tendangan bebas, tendangan gunting, tumit, tendangan salto… Huntelaar, pada hari baiknya, adalah salah satu striker mematikan di Eropa.
Setengah musim di sepakbola Spanyol, dengan permainan lebih terbuka dibanding Italia, Huntelaar mencetak delapan gol dalam 20 penampilan. Bukan catatan yang buruk. Tapi, Huntelaar lantas dibuang begitu saja hanya karena Madrid memborong banyak pemain mahal pada bursa transfer musim panas. Prinsip ekonomi sepakbola Los Galacticos adalah, tentu saja, memainkan para pemain mahal tersebut. Huntelaar diusir secara halus ketika diminta berlatih “sepak voli” dengan tim taruna Madrid. Ketika Madrid tur musim panas ke Amerika Serikat, Huntelaar tetap berlatih di Valdebebas. Vfb Stuttgart mencoba membujuknya bergabung, tapi seperti yang diketahui, sang pemain lebih memilih Milan.
Padahal, Huntelaar bukan incaran utama Milan. Klub yang dilatih pelatih debutan Leonardo itu awalnya ingin merekrut Edin Dzeko. Striker tajam asal Bosnia itu tidak dilepas Vfl Wolfsburg. Ketika Luis Fabiano gemilang di Piala Konfederasi, Milan mengalihkan sasaran. Sevilla menunggu, tapi tidak menerima tawaran yang memuaskan. O Fabuloso bertahan dan Milan kembali kepada Dzeko. Wolfsburg bersikukuh, Milan pun mulai ketar-ketir karena fans merisaukan minimnya pembelian pemain berkualitas untuk membenahi tim. Sama-sama butuh, Milan dan Huntelaar akhirnya sepakat menjalin kerja sama.
Sampai titik itu, saya masih merasa optimistis. Jika Leonardo menemukan cara mengeksploitasi kemampuannya, Huntelaar akan jadi raja gol di Italia. Mungkin sulit, tapi melalui kematangan Huntelaar akan menemukan cara menaklukkan barisan pertahanan calcio. Nyatanya, hingga pekan kesepuluh, Huntelaar belum juga mampu menjebol gawang lawan. Huntelaar pun dianggap mengecewakan.
Leonardo lebih memilih penyerang veteran Filippo Inzaghi di lini depan, plus Ronaldinho dan Alexandre Pato sebagai penyerang bayangan. Ketika sudah pulih dari cedera, Marco Borriello ternyata dicoba sebagai penyerang utama tim. Di Serie A Italia dan Liga Champions musim ini, Huntelaar (tampil delapan kali) dan Borriello (empat kali) masih nol gol, sedangkan Inzaghi mencetak tiga gol dalam 13 pertandingan. Topskor Milan saat ini adalah Pato, dengan rekor enam gol dalam 13 kali penampilan. Total, dalam 13 penampilan musim ini, Milan baru bisa mencetak 15 gol.
Masalah lini depan Milan bukanlah masalah Huntelaar semata. Huntelaar bukan tipe striker yang mengandalkan kekuatan fisik, seperti Didier Drogba atau Luca Toni. Huntelaar butuh cukup ruang di dalam kotak penalti sebelum membuat repot kiper lawan. Ketika mendapat ruang seperti dalam laga debutnya melawan Inter Milan Agustus lalu, Huntelaar melepas dua tiga tendangan yang membuat Julio Cesar berkeringat ketika jarang pemain Milan mampu melakukannya.
Masalahnya, Leonardo memainkan Ronaldinho dan Pato. Dua pemain Brasil yang juga membutuhkan ruang untuk mempertontonkan kebolehan masing-masing. Untuk mengeluarkan kemampuan Huntelaar yang sebenarnya, Milan butuh lebih banyak Clarence Seedorf. Leonardo perlu pemain dengan tipe yang tidak berlama-lama menahan bola.
Ketika sang pelatih memainkan Ronaldinho dan Pato sebagai pemain sayap melawan Real Madrid, dua pemain Brasil itu tak banyak berkutik. Dinho sudah kehilangan kecepatan seperti waktu membela Barcelona dulu, sedangkan Pato lebih terlihat sebagai penyerang tengah yang menunggu kesempatan. Tiga gol yang dilesakkan Pippo Inzaghi, sebagai penyerang utama, semuanya berkat umpan Seedorf.
Untuk mengasah dan memancing ketajaman Huntelaar, lebih baik Leonardo memilih salah satu di antara Dinho atau Pato sebagai penyerang bayangan. Mainkan pula Borriello sebagai pendamping Huntelaar sekaligus striker perusak. Pasang formasi 4-3-1-2, kenapa harus ngotot dengan 4-3-3?
Itu semua kalau Milan masih percaya kepada Huntelaar… Jika tidak, Huntelaar memang tidak bisa berkembang di bawah arahan Leonardo!
*sumber foto: www.wikimedia.org
anjangsana