Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Betah di Selatan

Ah, maafkan saya. Sudah lama kita kenal, tapi belum pernah saya kupas tentang hidup di sekeliling saya. Sekali-kali kita keluar sedikit dari apa yang kita lihat, dengar, dan bicarakan. Mari merasa. Meski sejenak.

Sudah setahun ini saya berdomisili di Cipete Selatan. Bukan, tentu bukan rumah milik sendiri. Ada seorang ibu kosan berusia lanjut dengan dua cucunya. Laki-laki dan perempuan, kakak beradik. Belakangan, si adik lebih sering tinggal di rumah ibunya. Kenapa mereka tinggal bersama sang oma, bukan bersama orangtuanya, itu takkan saya ceritakan di sini. Saya tidak mau melantur.

Keputusan untuk menyewa kamar kos mungkin agak sedikit membingungkan, karena rumah orang tua saya di Bekasi. Tapi, mungkin mereka mengerti meski saya tak pernah bisa gamblang memberikan alasannya. Mudah-mudahan kamu pun mau mengerti.

Patokan untuk kosan saya adalah Salon Itje. Gampang saja. Mungkin mereka yang langganan mengetahui persis lokasinya. Bagi yang baru atau sekali-sekali berkunjung, salon ini salon yang paling ramai. Ada beberapa salon sepanjang jalan Cipete Raya, tapi tak ada yang lebih ramai daripada Salon Itje.

Selalu setia duduk di hadapan salon sebuah ATM Mandiri. Tempat rezeki saya mengalir setiap bulan. Kalau tidak ada ATM Mandiri di dekat sini sudah pasti saya harus selalu berjalan ke arah D’Best, yang terletak di pertigaan jalan Fatmawati Raya. Kasihan saya melihat buku rekening Mandiri karena terlalu panjang terisi. Saya sekarang punya pemecahannya. Saya coba mengambil pecahan lebih besar. Lumayan mujarab. Sekarang frekuensi saya berkurang seminggu sekali.

Langganan makan saya rumah makan Padang di dekat lampu merah pertigaan tadi. Sssttt.. tidak terlalu enak. Saya tidak berani mengajak teman yang asli Minang untuk makan di sana. Saya pun seperti merasa dibohongi karena pelayan mereka bukan asli Minang. Mau apa lagi? Tak ada rumah makan Padang lain yang lebih dekat dicapai dengan jalan kaki.

Kalau sedang bosan, saya makan di warung nasi dekat Alfamart. Ah, nanti saya ceritakan juga soal Alfamart ini. Ingatkan saya, ya. Warung nasi ini menjual menu tongseng kambing. Lumayan sedap. Tapi, sekarang ada saingannya karena ada warung mi Jogja yang menyediakan nasi goreng kambing bumbu kebuli di depan Dapur Sunda. Hmmmmm…

Kalau ingin makan enak, kamu tinggal naik angkot M11 dari depan Salon Itje dan turun sebelum simpang jalan Antasari. Persis di depan pintu masuk Abuba. Tidak sebulan sekali saya makan di sana. Tidak pula dua bulan. Bisa dibilang jarang. Kalau kamu mau ke sana, boleh. Tapi, jangan lupa ajak-ajak saya ya.. Mana enak makan steak sendiri saja, kan?!

Oh ya, kalau kamu masih penasaran dengan alasan saya menyewa kamar kosan (padahal rumah orangtua saya di Bekasi), saya punya satu yang bisa masuk akal. Dulu kantor saya di ruko Fatmawati Mas. Kira-kira 10 menit berjalan kaki. Naik M11 ke arah Fatmawati juga sama saja karena sering macet di lampu merah pertigaan D’Best tadi. Tapi, sekarang kantor itu sudah tutup. Sudah setahun pula saya pindah pekerjaan. Kalau saat ini, pekerjaan saya bisa dilakukan di mana saja karena mengandalkan koneksi internet. Jadi, saya sering mengerjakannya dari kosan saja. Nah, saya makin kehilangan alasan untuk tetap tinggal di sini.

Tapi, tidak. Ternyata Jakarta Selatan membuat saya betah. Di sini… beda. Entah bagaimana melukiskannya. Seperti yang saya bilang tadi, hanya bisa dirasai. Suasananya dan aksesnya, dua jempol. Kalau saya ingin jalan-jalan ke Pondok Indah Mall, ada Metro Mini. Hanya 15 menitan, jika lancar. Saya bisa ke Blok M, Plaza Senayan, atau Plaza Semanggi dengan satu kali naik angkutan umum. Wah!

Saya tidak terlalu khawatir pulang di atas jam 9 malam. Syukurlah masih ada angkutan dari Blok M yang masih beroperasi. Kelaparan? Tidak masalah, ada warung bubur kacang indomie alias BKI di dekat sekolah Prancis yang bisa disambangi. Di sini pula keistimewaan Alfamart yang saya ceritakan tadi. Bukanya 24 jam. Begitu pula dengan Circle K, meski lumayan jauh jaraknya dari kosan saya. Biasanya saya membeli roti dan susu cokelat untuk sarapan di Alfamart.

Jika kamu bertanya, tempat tinggal ideal yang saya inginkan. Saya sudah punya bayangannya dan mudah-mudahan letaknya di selatan Jakarta.

Sekarang saatnya kamu mendengarkan soundtrack. Tapi, mendengar lagu “Selatan Jakarta” dari Dewa 19 dalam hati saja ya…

Filed under: mengalami , , , , , , , , , , , ,

Hari Ketika Warga Mencelupkan Kelingkingnya Dengan Tinta Ungu

Tidak harus kelingking, memang. Judul demikian hanya semacam generalisasi. Terkadang butuh generalisasi, dan judul yang panjang-panjang, untuk mencegah kebosanan mampir dalam blog ini.

Apapun, hasil hitungan cepat menunjukkan pilihan capres dan cawapres yang saya contreng tadi siang jauh ditinggali lawan-lawannya. Tak kenapalah, yang penting sudah mengaspirasikan pilihan, toh? Soal menang dan tidak menang, suara terbanyak yang menentukan.

Seperti yang disimpulkan dari bapak Imam Prasodjo pada gelaran hitung cepat di sebuah teve swasta tadi siang, hasil pilihan menunjukkan, warga Indonesia menginginkan ketenangan. Sebuah periode yang aman, nyaman, dan tenteram. Salah satu aspirasi dari keinginan ini adalah pilihan untuk kandidat capres yang masih menjabat saat ini. Wajar saja.

Saya sepakat dengan pendapat pak Imam. Di luar perdebatan tentang rasionalisasi pilihan para pemilih atau tidak, pilihan itu adalah pilihan yang aman. Gambaran kasarnya, sebenernya capres yang bersangkutan tidak perlu lagi susah-susah tarik urat syaraf untuk berdebat, karena pilihan sebagian besar rakyat sudah dipegangnya. Asal, kandidat tidak neko-neko.

Gambarannya lagi, pendekatan konflik untuk menyerang kandidat lain dalam beberapa sesi debat atau kampanye terbukti tidak efektif bagi masyarakat bangsa ini. Pendekatan tersebut malah menjadikan posisi yang diserang kian berada dalam posisi yang dizalimi dan layak dibela.

Ndilalah, pilpres berlangsung satu putaran. Setidaknya itu menurut berbagai hasil hitungan cepat yang ramai diberitakan teve-teve swasta. Di luar itu, masih ada pemberitaan tentang “kecurangan” berupa surat suara yang ternyata sudah dicontreng sebelum pelaksanaan pengambilan suara. Kecil memang jumlahnya, tapi kalau sebarannya ke seluruh TPS repot juga kan…

Setelah meluangkan waktu untuk memberikan suara, warga mencelupkan jarinya dengan tinta berwarna ungu. Sengaja saya pilihkan kelingking untuk judul ini karena saya memilih kelingking saya untuk ditintai. Berbeda dengan pemilihan legislatif, pilpres berlangsung ekspres dan tak banyak keramaian di sekeliling TPS seperti tiga bulan lalu.

Biarlah yang menang benar-benar mampu meneruskan tugasnya untuk memajukan bangsa ini, seperti yang dipercayakan para pemilih.

Ketika lima tahun lalu digelar, pilpres dibarengi dengan final Piala Eropa yang dimenangi Yunani atas tuan rumah Portugal. Meski dicela karena mengandalkan sepakbola defensif, Yunani sukses menuai kejutan demi kejutan hingga memenangi gelar internasional pertamanya. Kini, pilpres dibarengi dengan pemakaman superstar Michael Jackson. Setidaknya ada empat stasiun teve nasional yang menayangkan langsung prosesi penghormatan terakhir kepada sang Raja Pop. Saya baca dari berita suratkabar, dan ada yang saya saksikan sendiri, simpati masyarakat Indonesia mengalir begitu derasnya kepada MJ, terutama di tengah selentingan agama Islam yang dianutnya beberapa tahun belakangan.

Mungkin sudah takdir pemilihan di Indonesia selalu menjadi sorotan utama di tengah-tengah kejadian lain yang tak kalah heboh…

Filed under: mengalami, opini , , , , , , ,

Antri Dulu Sebelum Terhibur Nonton Transformers

Megan Fox, 60 persen alasan menonton Transformers 2?
Megan Fox, 60 persen alasan?

Butuh perjuangan ekstra untuk menyaksikan Transformers 2 tepat pada hari pemutaran perdananya di Jakarta. Ini musim liburan, bung! Libur anak sekolah, libur anak kuliah, libur para orangtua dari kantornya untuk menemani anak-anaknya, libur mereka yang bolos atau cuti dari kantor untuk nonton perdana Transformers 2…

Seorang teman, bapak beranak satu, mengungkapkan ambisinya menonton Transformers 2. Sisanya untuk para robot dan karakter utamanya, 60 persen hanya untuk Megan Fox seorang! Jadi, penonton boleh memilih, mau terhibur atas aksi para robot sepanjang film atau protes screentime Nona Fox seharusnya lebih banyak dan sering lagi.

Apapun, Transformers 2 menjadi puncak eksplorasi Michael Bay. Sukses menjadikan logi pertamanya laris manis di pasaran, Bay seperti punya keleluasaan dalam mengerahkan (hampir) seluruh gagasannya dalam film. Tidak ketinggalan tentu sedikit chauvinisme yang disisipkannya dalam banyak adegan.

Saat menonton, satu studio penuh tanpa menyisakan bangku kosong. Saya terpaksa berganti bioskop untuk menuntaskan niat menyaksikan Transformers 2 tepat pada hari perdana pemutarannya. Sudah bisa diduga, banyak anak-anak berusia sekolahan di dalam studio. Banyak pula para orangtua yang menemani. Ada juga yang dititipi mengantri depan loket untuk membeli tiket pertunjukan usai jam kerja untuk nonton bareng rekan-rekan sekantornya. Memang musim liburan.

Tidak perlu meminta kedalaman cerita dalam Transformers 2. Kamu tinggal mengantri, masuk studio, makan-minum cemilan, sambil menikmati filmnya hingga tuntas. Benar-benar menghibur. Itu takkan terelakkan.

Ledakan. Slow motion. Medium shot yang berputar mengelilingi tokoh utama. Para karakter berbaris horizontal dengan gagah berani. Semua Bay-isme tersaji di depanmu. Jangan protes kalau Amerika Serikat tampak jumawa dalam film.

Tidak semuanya seserius dan memicu adrenalinmu. Syaraf-syaraf sedikit dibikin rileks setiap karakter ibu Shia LeBoeuf, roomie-nya, dan mantan agen rahasia yang diperankan John Turturro muncul. Mereka kerap mengundang ledakan tawa para penonton studio.

Saya bukan maniak sejati Transformers 2. Saya tidak hapal nama-nama Autobots dan Decepticon yang muncul dalam film, dan yang mana yang belum muncul. Saya masih kesulitan mengikuti secara detail ketika para robot itu bertarung. Tapi saya akui, masih lebih mulus ketimbang logi yang pertama.

Saya tidak beralasan pergi ke bioskop demi Nona Fox. Bagi saya, bukan dia yang menjadi alasan utama untuk menonton film ini. Mungkin ini alasan rutin saja, saya tidak ingin tertinggal perbincangan film terbaru yang muncul di layar bioskop, apalagi untuk mendengar cengegesan spoiler dari teman-teman yang sudah lebih dulu menyaksikan film.

Bagi beberapa orang, terutama saat peluncuran logi pertama dua tahun lalu, Transformers adalah mimpi masa kecil yang jadi nyata. Saya tidak terlalu larut dalam hype itu. Ini lagi-lagi “cuma” Bay-isme yang mencapai titik ekstrimnya. Sudah sampai situ saja.

*image courtesy of www.filmofilia.com

Filed under: mengalami, resensi , , , , , , , , ,

Sebuah Pertanyaan Untuk Zona Nyaman

Saya ingin menyalahkan sebuah situs jejaring sosial yang membuat saya jarang mengisi halaman blog kesayangan ini.

Ugh!

Tapi, mungkin itu salah saya sendiri. Seperti bilang seorang kawan dekat, terlalu nyaman berada dalam zona aman. Hidup dengan pekerjaan seperti sekarang, gaya hidup seperti sekarang — yang “begini-begini” saja. Masak sih?

Kawan yang lain bilang, apa benar-benar hidup seperti ini sesuai keinginan saya? Susah saya menjawabnya. Kadangkala manusia tidak pernah puas. Kalaupun beralih ke situasi berikutnya, belum tentu saya serta merta merasa puas.

Kapan kamu sadar berada dalam zona nyaman?

Saat perubahan berhenti dan kamu mulai settle — berada.

Ah, tapi kan hidup butuh perubahan. Dan, itulah tantangannya!

Bagaimana menurut kamu?

Filed under: mengalami

More shops, more shops…

It was a sunny day in the city.

Kami berjalan di tengah pemukiman Melayu atau biasa disebut Kampung Jawa. Pertama kali turun dari bus, pintu terbuka menuntun kami masuk ke halaman istana pada masa kesultanan Melayu Riau zaman dulu. Di sinilah pusat pemerintahan Tumasik. Mesjid, pasar, dan pemukiman terletak dalam satu kompleks. Sekarang, di dekat mesjid pemukiman disulap menjadi toko-toko yang menjual cinderamata.

Sudah jelas ini harinya untuk para ibu-ibu dalam rombongan…

Kami berjalan kaki dari Kampung Jawa ke Haji Lane Street, sayangnya salah satu kawasan cinderamata ini baru dibuka menjelang sore hari, dan akhirnya mendarat ke Bugis Village. Jangan heran jika para ibu langsung tenggelam dan menghilang dalam keramaian pasar.

“More shops”… “More shops”… Bunyi penunjuk jalan yang digantung di atas tiap persimpangan pasar. Baju, pernak-pernik, oleh-oleh, tas, sepatu… You name it. Ada di sini dengan harga rata-rata mulai dari S$10. Kamu bisa memilih menghabiskan bujet untuk belanja di sini, atau nanti di Mustafa.

Itu yang kami lakukan tengah malam setelah mampir sejenak di Supperclub, kelab berlantai dua dengan kasur sebagai “tempat duduknya”. Ya, kasur. Jadi, kamu bisa menyelonjorkan kaki di atasnya dan bersantai sambil mengobrol dengan teman-teman.

Belum puas, kami meluruskan kaki dengan berjalan-jalan keluar dari Supperclub untuk menuju Mustafa. Pukul 12 malam. Yep, Mustafa buka 24 jam. Sisa dari perjalanan dengan kaki itu kami lanjutkan dengan taksi. “To the Mustafa, Uncle…”

Mustafa seperti toserba. Kalau di Jakarta, kamu akan berpikir toserba zaman ini hanya hidup pada 1980-an. Tapi tidak di sini. Segala ada, baju, perlengakapan olahraga, perhiasan, pecah belah, makanan, minuman, obat-obatan, hingga DVD… Kawasan di tengah pemukiman masyarakat keturunan India ini sangat hidup di waktu malam.

Hari itu hari yang mengenyangkan. Tidak saja karena puas berbelanja, tapi juga secara literal. Sebelum makan siang di Pot Pourri dengan menu khas India, kami ngemil nyamikan di Bugis, dan terakhir dilanjut dengan set-up menu makanan Western di My Secret Garden. Dua kali set-up menu hari itu, ditambah late breakfast, nyaris menghilangkan selera makan saya. Padahal, belum lagi saya sempat mencicipi pie apel McDonald’s yang direkomendasikan teman-teman.

Ah, saya lupa menceritakan Orchard Road yang sohor itu. Akhirnya, saya menyusuri kawasan pedestrian-friendly itu tepat ketika matahari mulai jinak di atas langit Singapura. Lucky Plaza, Takashimaya, toko buku Borders.. Hanya sekali menyusurinya dengan waktu terbatas tentu tidak membuat rasa penasaran saya terpuaskan. Saya yakin, diberi waktu senggang sehari penuh, saya akan larut dalam kawasan yang, lagi-lagi, pedestrian-friendly ini.

Nanti, saya akan kembali lagi ke Singapura…

Filed under: mengalami , , , , ,

almanak

November 2009
M S S R K J S
« Okt    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

paling laku

  • Tidak ada

kumpulan

tentang saya…