Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Orionid Datang Malam Ini

Kamu harus menyiapkan harapan lagi malam ini. Hujan meteor datang lagi. Malam tanggal 21 Oktober ini menjadi waktu yang tepat untuk menjadi saksi pemandangan alam yang langka.

Sangat langka, karena di tempat tinggal kita, hujan meteor sulit disaksikan. Saya teringat pada keinginanmu untuk berjalan-jalan ke tempat yang jauh. Jauh sekali, hingga ke tempat-tempat orang tidak lagi mengenalmu. Kamu selalu menikmati keterasingan dan anonimitas. You’re always indifferent, you know that…

Ah ya, hujan meteor itu. Orang Barat menyebutnya “orionid” karena merupakan tempat asal terciptanya, yakni di suatu ruang antara konstelasi Orion dengan Gemini. Orionid tercipta berkat percikan Komet Haley yang selalu melintasi orbit Bumi setiap 75 hingga 76 tahun sekali. Kali terakhir Komet Haley melintas, kita masih kanak-kanak dan belum tentu punya ingatan cukup. Apalagi untuk mencanangkan sebuah harapan. Apalagi posisi bumi tempat kita tinggali menyulitkan untuk memandangi peristiwa-peristiwa langit.

Padahal, kamu menyukai benda-benda langit. Kamu senang memandangi langit dan berpikir apa yang ada di luar sana. The truth is out there. Kamu bahkan percaya mahkluk lain dari luar angkasa itu benar-benar ada. Kamu yakin Bumi ini sekecil butiran debu di antara tebaran angkasa. Kamu menyukai misteri dan kamu selalu menyelubungi diri dengan duniamu sendiri. [Bagi saya, kamu adalah dunia itu sendiri, hehe...]

Demi mengetahui hujan meteor malam ini, kamu pasti segera mengepak perlengkapanmu. Cukup sepatu Converse, coat tebal karena di bumi Utara sedang musim dingin, dan selembar alas tempat duduk yang hangat. Bila kamu mau, saya bersedia menjadi temanmu. Hanya untuk diam menanti dan membentangkan harapan sebanyak-banyaknya ketika sang Orionid melintas.

Sesudahnya, mungkin kita akan mencari tempat lain untuk menyaksikan Aurora Borealis…

Filed under: cerita , , , ,

Kaleng Sarden

“Kamu seperti hidup di dalam kaleng sarden.”

Maksudnya?

“Lihat saja. Sarapan mi instan dengan susu coklat kemasan. Makan siang di restoran fast food Jepang, minum minuman soda. Malam, kamu cuma makan makanan probiotik dan ngemil snack keripik kentang.”

Apa hubungannya dengan kaleng sarden?

Dari semua bentuk perhatian yang bisa diberikannya kepadaku, seperti ribuan kalimat “Aku sayang kamu” misalnya, dia memilih kata “kaleng sarden”.

“Ya, kaleng sarden.”

Maksudnya?

“Kamu hidup serbapadat dan serbamampat. Serbapraktis…”

Seperti dalam bis begitu?

“Iya, seperti dalam bis. Tapi, lebih sebenarnya sih. Coba lihat lagi begini. Kalau kamu sekarang janjian dengan teman kamu, atau dengan aku, kamu pakai blackberry milik kamu. Atau kamu YM. Atau kamu dapat undangan acara tertentu dari FB kamu. Kamu nggak sadar kamu hidup dalam kaleng sarden…”

Ya, kan teknologi memudahkan, dear.

“Nggak ah, bikin ribet malah.”

Hahaha… Kaleng sarden? Gagasan yang cuma akan hidup dalam benaknya. Benar yang mereka bilang, semua perbedaan akan menimbulkan gaya tarik menarik. Dua kutub yang sama tidak akan menciptakan energi magnetik. Perbedaan-perbedaan lah yang membuat saya tidak pernah berhenti memikirkannya.

Dia menyarankan saya untuk meninggalkan kaleng sarden itu. Mana mungkin bisa? Tapi, menurutnya orang tak boleh terlalu lama tergantung pada satu titik. Tidak boleh mengandalkan kepraktisan.

“Semua orang kok senang bikin film horor. Dasar kaleng sarden semua! Where’s the art?”

Hmmm.. Mungkin dia benar.

Saya memikirkan kaleng sarden itu saat ini. Di atas jembatan layang. Di bawah saya, berkejaran mobil-mobil yang berlalu sekejap di jalan tol lingkar luar. Cepat, susul menyusul, tapi tak ada yang menunggu yang lain.

Sejak bertemu dengannya, perjalanan menjadi satu-satunya hal yang paling menarik bagi saya. Karena orang-orang selalu berpindah tempat. Karena waktu selalu bergerak. Karena tidak ada yang abadi.

Sekali-kali aku ingin ketemu kamu lagi…

Dia tidak menjawab. Hati perempuan selalu penuh sejuta jawaban. Mungkin dia bilang tidak, tapi belum tentu pula menolaknya.

Di atas jembatan layang ini saya merasa bebas. Tidak pernah sebebas ini sepanjang hidup saya. Kaleng sarden itu sudah menjadi kaleng sarden rombeng. Ikan-ikan sardennya berlepasan dan mencari jalan masing-masing menuju sumber air. Benar, karena hidup selalu menjadi sebuah perjalanan…

Aku ingin bilang…

“Kamu nggak perlu bilang apa-apa lagi. Semuanya sudah jelas kok, it’s in the air…”

Dia mengerling dan tersenyum. Bahagia.

Hidup saya pun terasa lengkap. Dia yang melengkapinya…

*untuk mengobati penyakit neurotik yang membuat saya baru bisa tidur di atas jam 4 pagi belakangan ini…

Filed under: cerita , , , , , , , ,

Losing Count of My Insomnia

Got my mind full of you the whole nite. Again.

And I just failed to sleep. Again.

Arrgggghhhhh!

Filed under: cerita ,

Life, According To Me

Life.

Such a formed reality.

Fantasy.

Fabricated.

False.

So, I’m living in a lie, as well…

Filed under: cerita , , ,

Penyakit Lupa

Saya ingin menjadi lupa.

Padahal lupa adalah sebuah anugerah yang diremehkan dalam hidup. Bukankah agama mengajarkan dosa manusia dapat dimanfaatkan bila lupa? Tapi ternyata manusia tak bisa lupa terus-terusan.

Kalau manusia terus lupa, kapan mereka akan lulus ujian sekolah? Kapan mereka memberi kebahagiaan untuk kedua orangtua? Kenapa mereka terus pulang ke rumah yang sama?

Ingat memang membuat manusia terus belajar, tapi apa manusia akan terus-terusan belajar? Tidak boleh lupa?

Kalau kalian tidak suka lupa, sebut saja lupa itu sebuah penyakit. Dan bikin obatnya sekalian. Paling mujarab, kalau perlu. Mungkin biar semua manusia rajin beribadah. Semua manusia tidak menelantarkan orangtuanya. Biar manusia terus belajar.

Tapi, sekali ini saja, saya ingin menjadi lupa.

Filed under: cerita , , ,

almanak

November 2009
M S S R K J S
« Okt    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

paling laku

  • Tidak ada

kumpulan

tentang saya…