Saya melanggar sedikit pantangan saat melancong ke Penang akhir pekan lalu. Pernah saya bilang, prinsip saya dalam berjalan-jalan adalah menikmati perjalanan itu sendiri tanpa perlu repot berhenti sewaktu-waktu untuk memotret. Ya, memotret. Buat saya kenangan paling baik dalam perjalanan itu adalah memori itu sendiri. Bukan rekaman gambar yang kita koleksi di dalam komputer atau dipajang di atas meja. Untuk kali ini, ada pengecualian.
Salah satu pengecualian adalah teman seperjalanan saya, Nanath, yang juga fotografer berbakat. Sayang juga rasanya tidak merekam bangunan-bangunan peninggalan kolonial di Penang ke dalam bentuk gambar abadi. Dengan demikian, ketika hendak berangkat kami bersepakat untuk menjadikan trip kali ini sebagai perjalanan merekam gambar-gambar.
Sengaja pula kami memilih menginap di kawasan Georgetown. Kota kuno ini sudah termasuk salah satu warisan dunia UNESCO. Di sepanjang jalan penginapan, Jalan Kapitan Keling atau Pitt Street, saja sudah banyak bangunan kuno sekaligus cagar budaya yang istimewa. Di ujung jalan dekat persimpangan Lebuh Farquhar, terletak Gereja Anglican St George. Berjalan 100 meter ke arah selatan terletak Kuil Dewi Kwan Im. Sedikit di seberangnya ada Kuil Sri Mahamarriaman, yang sayangnya selalu tutup setiap kami melintas. Melewati persimpangan Lebuh Chulia, kami menemukan Masjid Kapitan Keling.
Cagar budaya benar-benar tersebar dalam radius dua kilometer saja dari kawasan ini. Lebih ke selatan lagi, ada Lebuh Armenia yang menjadi lokasi beberapa kongsi masyarakat Tionghoa. Jika ingin menyelami lebih dalam soal budaya Tionghoa, ada Pinang Peranakan Mansion dengan tiket masuk RM 10 di Lebuh Gereja. Tempat ini tadinya merupakan tempat tinggal pemimpin masyarakat Tionghoa yang kemudian dilestarikan. Barang-barang antik tetap disimpan sehingga banyak kita temukan peralatan makan, dandan, perabotan, koper-koper, hingga foto-foto penghuninya.
Di dekat pantai, ada Balai Kota yang gemerlap dengan lampu hias saat senja datang. Di seberangnya terletak Padang Esplanade, semacam alun-alun yang mempertemukan orang-orang yang ingin berleyeh-leyeh melepas kepenatan. Di seberangnya lagi, ada Benteng Cornwallis yang menghadap persis ke Selat Malaka. Beranjak ke kawasan Jalan Burma, kami mengunjungi tiga kuil Buddha secara berturutan. Pertama, kami singgah di Wat Buppharam. Sepuluh menit berjalan, kami tiba di dua kuil Buddha yang berseberangan. Di kanan kami, terdapat Kuil Dharmikara dengan nuansa Myanmar; sedangkan di kiri, ada kuil Thailand, Wat Chaiya Mangkalaram, tempat patung Buddha tidur bersemayam.
Puas dengan wisata cagar budaya, kami mengunjungi lokasi wisata alam. Pilihan kami adalah Taman Negara Pulau Pinang. Dalam sekejap, bisa ditebak lokasi ini menjadi pilihan favorit penggemar hiking dan trekking dengan hamparan pantai membatasi hutan yang melingkupi kawasan bakau, batu karang, hingga penetasan tukik. Karena keterbatasan waktu, kami tidak menjelajahi kawasan seluas 2,5 hektar ini dan balik arah menuju Taman Rama-Rama atau Butterfly Farm yang jauhnya kira-kira lima kilometer.
Lokasi wisata alam lain yang layak dikunjungi adalah Botanical Garden dan Penang Hill. Di Botanical Garden banyak hehijauan yang berhasil menyejukkan keletihan kami berjalan-jalan, sedangkan di Penang Hill kita bisa menyaksikan pemandangan spektakuler dari tempat paling tinggi, 700-an meter di atas permukaan laut, di Penang.
Selain trip fotografi, satu hal penting yang kami temukan selama berada di Penang adalah kami tidak pernah menemukan makanan yang mengecewakan. Memang kami beruntung karena memilih tempat-tempat yang tepat untuk mencicipi kulinari lokal. Kuncinya, bertanya ke penduduk setempat atau melihat gerai makanan yang paling ramai dikunjungi. Salah satu tempat favorit untuk bersantap adalah kawasan makan-makan Persiaran Gurney, persis di sebelah Gurney Plaza. Makanan Melayu, Cina, hingga India lengkap tersaji di sini. Char kuey teow, wan tan mee, dan ais kacang, adalah pilihan kami. Ada pula asam laksa, rojak, dan nasi kandar sebagai pilihan lain. Ah, soal nasi kandar, persis di sebelah Mesjid Kapitan Keling terdapat “Restoran Liyaqat Ali – Nasi Kandar Beratur” yang baru buka pukul 10 malam dan sudah ramai diantre sejak sejam sebelumnya! Penasaran, kami pun sempat mencobanya.
Sedikit kesimpulan dari perjalanan kali ini adalah Georgetown dan Penang pantas dikunjungi peminat budaya, kegiatan trekking-hiking, fotografi, dan makan-makan. Mungkin suasana kota yang sepi setelah pukul 8 malam akan lebih semarak kalau dikunjungi saat festival budaya sedang berlangsung. Mungkin saja suatu saat nanti saya kembali lagi ke sini. Kenapa tidak?
*Sebagian besar foto hasil jepretan Nanath, penggunaan sudah atas izin yang bersangkutan, sila kunjungi blognya di sini.








anjangsana