Mungkin hari ini jadi waktu yang tepat bagi saya untuk duduk sejenak, mengosongkan pikiran, dan merenung.
Mungkin bukan kebetulan Jumat yang tadinya panas tidak saya rasakan lagi begitu duduk di dalam mesjid. Khotib hanya mengingatkan untuk beribadah dengan ingat kepada sesama. Kutbahnya dikaitkan dengan ibadah haji yang makin dekat waktunya. Meski haji merupakan ibadah individual, seperti juga shalat dan puasa, tapi jangan lupakan ibadah kepada sesama. Apakah mengejar pahala shalat 40 waktu di Madinah lebih baik daripada meninggalkan rekan jemaah yang sedang sakit dan butuh perawatan?
Saya mendengarkan, pada saat yang sama pikiran saya melayang-layang. Sekejap saya rasakan ketenangan mendalam. Banyak hal yang berlintas. Tentang apakah dunia ini lebih baik jika tanpa keinginan? Tidak lantas tanpa keinginan sama sekali, tapi sekadar dibatasi. Ketika sebuah keinginan kita tercapai, kita ingin mewujudkan keinginan yang lain. Keinginan hanya berujung kepada penderitaan.
Sepertinya hidup hanya soal mengejar keinginan semata. Padahal, waktu itu terbatas. Manusia tidak hidup selamanya. Haruskah hidup dihabiskan untuk mewujudkan keinginan, juga keinginan orang lain?
Pada hari lain saya merisaukannya. Tapi, hari ini hanya ada ketenangan yang mendamaikan. Tepat pada hari ketika saya kehilangan usia lagi.
Ketika waktu kian habis, pernah saya mencemaskan tentang hidup dan kehidupan setelah mati. Bagaimana hanya ada ketiadaan setelah kefanaan? Dalam sekejap, kamu seperti saklar yang diputus alirannya dan tak pernah dinyalakan lagi. Tep!!!
Bagaimana kalau memang ada keabadian setelah kefanaan? Apa yang harus saya lakukan dalam keabadian? Bersenang-senang dengan mandi di sungai-sungai susu dan dihibur bidadari-bidadari jelita? Setiap hari selama-lamanya?
Jika memang ada, dan diridhai jalan saya menuju ke sana, saya hanya punya keinginan sederhana. Sejak dulu ketika pikiran dan kebutuhan saya masih sangat sederhana hingga seperti saat ini, saya hanya ingin dikelilingi orang-orang terdekat dan bermain sepakbola sepuasnya. Mudah-mudahan akan ada lapangan rumput di surga kelak.
Hari ini saya kehilangan usia.
Selamat ulang tahun, manusia platonis!
Filed under: celetuk , hidup, ibadah, kehidupan, keinginan, merenung, surga
anjangsana