Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Hari Merenung Sedunia

Mungkin hari ini jadi waktu yang tepat bagi saya untuk duduk sejenak, mengosongkan pikiran, dan merenung.

Mungkin bukan kebetulan Jumat yang tadinya panas tidak saya rasakan lagi begitu duduk di dalam mesjid. Khotib hanya mengingatkan untuk beribadah dengan ingat kepada sesama. Kutbahnya dikaitkan dengan ibadah haji yang makin dekat waktunya. Meski haji merupakan ibadah individual, seperti juga shalat dan puasa, tapi jangan lupakan ibadah kepada sesama. Apakah mengejar pahala shalat 40 waktu di Madinah lebih baik daripada meninggalkan rekan jemaah yang sedang sakit dan butuh perawatan?

Saya mendengarkan, pada saat yang sama pikiran saya melayang-layang. Sekejap saya rasakan ketenangan mendalam. Banyak hal yang berlintas. Tentang apakah dunia ini lebih baik jika tanpa keinginan? Tidak lantas tanpa keinginan sama sekali, tapi sekadar dibatasi. Ketika sebuah keinginan kita tercapai, kita ingin mewujudkan keinginan yang lain. Keinginan hanya berujung kepada penderitaan.

Sepertinya hidup hanya soal mengejar keinginan semata. Padahal, waktu itu terbatas. Manusia tidak hidup selamanya. Haruskah hidup dihabiskan untuk mewujudkan keinginan, juga keinginan orang lain?

Pada hari lain saya merisaukannya. Tapi, hari ini hanya ada ketenangan yang mendamaikan. Tepat pada hari ketika saya kehilangan usia lagi.

Ketika waktu kian habis, pernah saya mencemaskan tentang hidup dan kehidupan setelah mati. Bagaimana hanya ada ketiadaan setelah kefanaan? Dalam sekejap, kamu seperti saklar yang diputus alirannya dan tak pernah dinyalakan lagi. Tep!!!

Bagaimana kalau memang ada keabadian setelah kefanaan? Apa yang harus saya lakukan dalam keabadian? Bersenang-senang dengan mandi di sungai-sungai susu dan dihibur bidadari-bidadari jelita? Setiap hari selama-lamanya?

Jika memang ada, dan diridhai jalan saya menuju ke sana, saya hanya punya keinginan sederhana. Sejak dulu ketika pikiran dan kebutuhan saya masih sangat sederhana hingga seperti saat ini, saya hanya ingin dikelilingi orang-orang terdekat dan bermain sepakbola sepuasnya. Mudah-mudahan akan ada lapangan rumput di surga kelak.

Hari ini saya kehilangan usia.

Selamat ulang tahun, manusia platonis!

Filed under: celetuk , , , , , ,

Lama Tak Sua

Ada perasaan bersalah karena untuk sekian lama membiarkan blog ini dalam kekosongan.

Banyak hal yang seharusnya bisa saya bagi, tapi tertunda. Seperti kekecewaan saya menonton Public Enemies, yang menggunakan kamera digital itu. Johnny Depp seperti terperangkap di dalam film-film doku-drama untuk saluran televisi Disovery Channel.

Begitu juga dengan Up. Saya tidak terlalu antusias begitu mengetahui konsep cerita yang malah meng-in-animasikan manusia. Meski menyajikan gambar-gambar indah, warna-warni yang halus, dan teknologi 3D yang memanjakan, Up lebih ringan dibanding film Pixar terdahulu, Wall-E.

Atau kegagalan saya menyaksikan G.I Joe, tak peduli kualitas film yang banyak dicibir orang itu.  Atau betapa saya terpukau dengan Merantau, geleng-geleng kepala dengan Ketika Cinta Bertasbih (dan sekuelnya).

Bahkan lolosnya Belanda ke Afrika Selatan serta pernak-perniknya luput dari pembahasan dari blog ini. Tahukah Anda, Rafael van der Vaart dan Klaas-Jan Huntelaar sedang giat-giatnya bekerja keras demi memperoleh kepercayaan Bert van Marwijk dan disertakan ke dalam skuad Oranje ke Afrika Selatan tahun depan. Van der Vaart memilih bertahan di Real Madrid, Huntelaar boyongan ke AC Milan. Tepatkah pilihan mereka?

Tapi, dengan kekosongan itu biarkan hidup yang bicara. Dan waktu…

Filed under: celetuk ,

Marhabban ya Ramadan…

jangan biarkan kekosongan blog ini mengisi batin teman-teman dalam menjalani ibadah bulan suci Ramadan.

bukan cuma puasa, tetapi mari jadikan kesempatan untuk berhenti sejenak, merenung, dan menjentikkan jari untuk kembali melangkah.

mari menyucikan diri dari semua godaan diri. dan semoga semua amal ibadah kita mendapat berkah dari-Nya.

Filed under: celetuk ,

Televisi Memanja Pemirsa Pekan Ini

Buat saya, mungkin hanya Piala Dunia yang akan membuat saya lekat-lekat memelototi layar televisi. Biasanya, adiksi itu berlangsung sebulan penuh. Bisa juga adiksi itu menguap seketika kalau tim jagoan tersingkir dari kejuaraan…

Pekan ini berbeda. Pekan ini pemirsa dimanja televisi. Raja televisi pekan ini adalah televisi khusus saluran berita. Selasa, 4 Agustus kemarin, Indonesia terkejut karena Mbah Surip meninggal. Penyanyi reggae eksentrik yang baru beberapa bulan ini melejit melalui lagu “Tak Gendong” itu tutup usia. Televisi ramai memberitakannya, tak ketinggalan saluran infotainment maupun teve berita.

Dua hari berselang, kabar duka kembali tersiar. Kali ini penyair kenamaan WS Rendra berpulang. Teve pun ramai-ramai memberitakan pemakaman dan profil Si Burung Merak.

Di sela-sela kabar duka tersebut, ada pengungkapan kasus dugaan penyuapan oleh sebuah PT kepada para petinggi KPK. Sebuah stasiun televisi swasta bahkan menyiarkan langsung detik demi detik konferensi pers KPK yang berisi bantahan terhadap testimoni eks bosnya, yang sedang ditahan kepolisian akibat dugaan pembunuhan seorang pejabat.

Tadi malam, pemirsa kian memelototi layar televisi mereka. Dua stasiun teve berita menayangkan langsung “penggerebekan” sarang teroris di sebuah dusun di Temanggung, Jawa Tengah. Hingga tadi siang, pokok berita belum henti-hentinya mengabarkan informasi itu. Apalagi ditambah “penggerebekan” serupa di Bekasi, yang berujung pada tewas dan ditangkapnya para anggota jaringan teroris.

[Hendropriyono, eks petinggi Bakin, meluruskan penggunaan istilah "penggerebekan" karena secara peristilahan operasi intelijen, lebih tepat menggunakan istilah "penyergapan"]

Rating hampir dipastikan memuncak, meski belum tentu sebanding dengan sinetron “Manohara” di sebuah teve swasta yang tayang stripping.

Beruntung kita hidup dalam era komunikasi modern yang memudahkan masyarakat mengetahui informasi secara cepat dan langsung. Saat keluar sebentar ke kios koran langganan dekat rumah tadi pagi, orang-orang membicarakan “penggerebekan”. Berkat televisi, operasi pemberantasan teroris itu benar-benar menyita perhatian.

Tapi, di lain sisi, sebagai penggemar sepakbola saya berduka cita karena beberapa stasiun teve menghentikan siaran langsung Liga Belanda dan Liga Spanyol. Kabarnya, Liga Jerman juga menghilang dari langit Indonesia. Sementara itu, Liga Italia belum jelas kepemilikan hak siarnya. Liga Inggris sudah dipegang sebuah stasiun teve, meski belum jelas apakah semua partai besar dapat ditayangkan langsung…

Filed under: celetuk , , , , , , , , ,

Always Take Everything From Brighter Side

It always little things that make me concern… This time a silly system called fiscal fee.

Yep, saya sudah memiliki NPWP. Tapi berhubung fiskal gratis baru bisa diberikan kepada mereka yang sudah terdaftar minimal sebulan, saya pun digugurkan dalam kriteria penerima kemudahan tersebut. Mungkin masalahnya akan sedikit ringan jika rupiah yang harus saya keluarkan jelas ke mana perginya. Aagghhhh!!!

Tapi, ambil saja sisi positifnya. Seperti seorang teman yang berbisik, toh pergi ke sana juga liburan kan?!?

Yeah, I’m now having a vacation, then! And enjoy it! Happy vacation!

Filed under: celetuk , , , , ,

almanak

Desember 2009
M S S R K J S
« Nov    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

paling laku

kumpulan

tentang saya…