Johan Cruyff mengalamatkan kolom pertamanya di tahun 2012 untuk mengkritik strategi yang dipakai Bert van Marwijk di timnas Belanda. Menurut sang legenda, pemakaian dua gelandang bertahan dalam formasi 4-2-3-1 terlalu berlebihan karena memperlambat tempo permainan sehingga lawan memperoleh waktu mengatur pertahanan mereka.
Belum ada tanggapan balik dari Van Marwijk tentang “masukan” tersebut. Tapi, pelatih yang sukses membawa Oranje ke final Piala Dunia 2010 ini saya yakini tidak akan meninggalkan prinsip “otomatisme” yang selalu diterapkan saat latihan. Sambil menunggu apakah akan ada “keajaiban” berupa eksperimen Van Marwijk, saya mencoba mengutak-atik susunan formasi yang dapat dipakainya di timnas.
Algemeen Dagblad pernah melansir sekira 40 nama pemain yang akan dipantau Van Marwijk serta berpeluang menembus 23 nama final untuk Euro 2012. Waktu pendaftaran masih lama sehingga Van Marwijk masih punya waktu mempertimbangkannya. Saya mencoba memberikan nama-nama pemain di kancah domestik yang pantas memperkuat Oranje.
Mencoba mendengar nasihat opa Cruyff, tim ini menggunakan formasi 4-3-3. Para pemain yang dipilih pernah dipanggil ke timnas dan atau memiliki kurang dari sepuluh caps. Artinya, Gregory van der Wiel dan Erik Pieters tidak termasuk dalam susunan tim. Beberapa di antaranya pernah dipanggil, tapi tidak pernah dimainkan. Sebagian pernah dimainkan, tapi kemudian diabaikan karena penilaian performa atau kebutuhan tim. Formasi juga menggunakan para pemain domestik, sehingga pemain seperti Ricky van Wolfswinkel harus dengan berat hati tidak disertakan.
Berikut susunan tim tersebut:
Jelle ten Rouwelaar
Dirk Marcellis — Douglas — Ron Vlaar — Vurnon Anita
Otman Bakkal — Theo Janssen — Siem de Jong
Roy Beerens — Luuk de Jong — Derk Boerrigter
Dalam bagian kedua tulisan ini, akan saya paparkan kenapa memilih para pemain tersebut.
(bersambung)
Filed under: opini, Belanda, Bert van Marwijk, Derk Boerrigter, Dirk Marcellis, Douglas, Euro 2012, Jelle ten Rouwelaar, Johan Cruyff, Luuk de Jong, oranje, Otman Bakkal, Ron Vlaar, Roy Beerens, sepakbola, Siem de Jong, Theo Janssen, Vurnon Anita