Apa yang bisa Anda ceritakan tentang negara dengan sejuta kenangan? Pertama kali mendarat di Phnom Penh, Kamboja, saya langsung teringat dengan suasana kota-kota sepanjang perjalanan darat Lampung dan Sumatra Selatan. Tanahnya berdebu. Jalan-jalan kebanyakan hanya dua jalur. Orang-orang tampak berkulit lebih legam jika dibandingkan dengan orang-orang Thailand. Satu-satunya perbedaan mencolok yang langsung terasa adalah kendaraan lalu lalang di sebelah kanan jalan. Otomatis, letak kemudi mobil di sebelah kiri mengikuti standar di Amerika Serikat.
Pengaruh Prancis tampak pada sistem penomoran jalan meski kini secara resmi Pemerintah mulai memberlakukan penamaan jalan utama sesuai dengan nama-nama pahlawan setempat atau figur berpengaruh, seperti Jalan Mao Zedong atau Jalan Samdach Preah Sihanouk. Peninggalan Prancis yang diserap masyarakat Kamboja hingga kini adalah baguette, roti-roti panjang yang keras untuk dijadikan santapan. Banyak toko roti tersebar dan baguette juga disajikan di kedai-kedai makanan pinggir jalan. Sebagai penggemar reroti, dengan senang hati saya menyambut ketersediaan makanan berkabohidrat tinggi itu di sini. Namun, saya bingung dengan banyaknya jumlah restoran pizza di kota ini. Hampir di segala penjuru kota menawarkan menu khas Italia itu. Entah pengaruh dari mana ataukah ini sekadar tren belaka?
Seperti yang saya sebutkan tadi, kota-kota Kamboja tampak seperti kota kabupaten yang lazim ditemui sepanjang perjalanan darat Lampung dan Sumatra Selatan — dengan versi lebih ramai tentunya. Phnom Penh, ibukota negara ini, bukanlah kota metropolitan seperti Jakarta, Bangkok, maupun Kuala Lumpur. Denyut kehidupan kota misalnya tampak pada salah satu pusat aktivitas ibukota adalah pasar sentral mereka, Phsar Kandal. Pasar ini adalah pasar tradisional yang menyediakan segala jenis kebutuhan masyarakat, utamanya pangan dan sandang. Setelah pukul 5 sore, aktivitas pasar berhenti. Bangunan toko di sekelilingnya juga menyusul tutup pintu mulai pukul 8 petang.
Bukan cuma Amerika Serikat dan Prancis yang meninggalkan warisannya di Phnom Penh, tetapi juga Melayu. Anda sudah melihat kedekatan bahasa yang digunakan pada “Phsar Kandal”. Sejumlah provinsi di Kamboja juga terdengar akrab bagi lidah Melayu, yaitu Kampong Chhnang, Kampong Speu, dan Kampong Thom. Jejak Melayu kian jelas saat menyambangi Istana Kerajaan yang terletak di antara pertemuan Sungai Mekong dan Sungai Tonle Sap. Atap sejumlah bangunan kompleks kerajaan berbentuk limus dan berundak-undak mirip arsitektur Melayu. Begitu pula dengan warna yang digunakan sebagai pakaian keluarga kerajaan adalah warna-warna cerah yang lazim dipakai kerajaan Melayu. Bahkan di sebuah sudut di dalam Balai Singgasana dapat ditemukan sebuah beduk!
Kedekatan itu terasa makin lazim karena Kerajaan Khmer sama-sama berkembang dengan Kerajaan Sriwijaya mulai abad ke-7 Masehi. Kedua kerajaan besar ini saling mempengaruhi wilayah Asia Tenggara saat itu sehingga hubungan “kekerabatan” sangat mungkin terjadi meski hubungan diplomatik kedua kerajaan pernah diakhiri Raja Khmer, Jayawarman II, pada abad ke-8.
Peradaban budaya Khmer memang telah berjalan lebih berabad-abad. Warisan paling megah tentu saja adalah kompleks candi Angkor Wat di Siem Reap. Berjarak sekira 200 kilometer dari Phnom Penh, Angkor Wat tidak hanya menjadi warisan kearifan budaya Khmer, tetapi juga sebuah warisan megah budaya dunia.
Siem Reap merupakan ibukota provinsi dengan nama yang sama. Tiga tahun belakangan, Siam Reap bersolek karena sadar memiliki potensi wisata yang besar. Kini mereka memiliki satu-satunya bandara internasional di luar Phnom Penh. Tatanan kota pun dirombak. Dulu keluar malam tidak aman bagi siapapun, tetapi kini turis bebas melancong di kawasan Pasar Malam untuk bersantap atau mencari suvenir. Selain hidangan ala Barat, mulai dari makanan Meksiko hingga Eropa, pilihan menu untuk santapan malam merupakan modifikasi antarbudaya seperti barbekyu Khmer. Jika ingin makanan tradisional, pesanlah Lok Lak atau Amok. Lok Lak merupakan potongan daging berbentuk dadu dengan bumbu yang segar, sementara Amok adalah kari kental dengan santan dan ikan atau ayam.
Kini kita memasuki Angkor Wat. Kompleks candi megah berusia ribuan tahun ini dibangun bertahap sesuai periode pemerintahan raja yang berbeda-beda. Para raja sepertinya ingin saling bersaing menunjukkan siapa yang lebih masyhur di antara mereka.
Tujuan utama pelancong ke kompleks candi seluas 40 hektar ini tentu saja adalah Angkor Wat, yang sebenarnya berusia paling muda di antara candi-candi lainnya. Dibangun pada masa pemerintahan Raja Suryawarman II pada abad ke-12, Angkor Wat berdiri dengan tiga bangunan stupa utama yang dikelilingi tembok berlukiskan relief-relief kisah kearifan Hindu. Salah satu stupa berada tepat di tengah melambangkan Gunung Meru sebagai pusat kosmos dalam agama Hindu. Di sekeliling candi, parit selebar 190 meter memisahkan kompleks candi dari wilayah sekitar. Sulit membayangkan manusia abad ke-12 membangun Angkor Wat dengan teknologi yang mereka miliki pada masanya. Candi utama ini sudah ramai dikunjungi sejak subuh karena pelancong tidak mau ketinggalan menyaksikan matahari terbit.
Paling dekat dengan Angkor Wat adalah kompleks candi Angkor Thom, termasuk candi Bayon. Kemudian candi Ta Prohm yang kini terletak di dalam hutan belantara. Jika dahulu manusia harus merambah alam untuk membangun candi sebagai warisan peradabannya, kini di Ta Prohm alam menguasai kembali wilayahnya. Pohon-pohon besar bertahan hidup ratusan tahun dengan akar yang bersembunyi di bawah batu-batu bangunan candi. Sungguh mencengangkan, karena berarti candinya sendiri berusia lebih tua.
Masih terdapat pula candi-candi yang berserakan di sekitar kompleks utama, seperti Banteay Kdei — dengan kolam besar Sras Srang yang menyejukkan di hadapannya — serta Prasat Kravan. Di luar kelompok utama itu, masih ada Preah Khan, Neak Pean, Ta Som, gugus candi Roluos, hingga Banteay Srey yang terletak 37 kilometer dari Angkor Wat. Sulit menghabiskan waktu satu dua hari untuk menelusuri keseluruhan peninggalan peradaban Khmer ini. Banyak pula cara menikmati perjalanan ke Angkor Wat, salah satunya dengan bersepeda.
Peninggalan ini demikian bersejarah sehingga rezim Khmer Merah yang menguasai pemerintahan pada 1970-an tidak menjamah seluruh bangunan candi. Padahal, Khmer Merah menghancurkan serta membantai semua warisan budaya yang dianggap bertentangan dengan cita-cita mereka mewujudkan masyarakat dengan satu kelas.
Memori tentang Khmer Merah akan mendorong kita kembali ke Phnom Penh untuk mengunjungi Ladang Pembantaian serta Museum Genosida Tuol Sleng.
(bersambung ke bagian 2)
Filed under: mengalami, Angkor Wat, jalan-jalan, Kamboja, Khmer, travel
Jika saya berkesempatan ke Kamboja, saya nggak akan mengunjungi Tuol Sleng, dan melihat semua kenangan tentang Pol Pot.
Saloth Sar, alias Pol Pot, tidak lebih besar dari Soeharto dalam soal bantai-membantai. Bedanya, dunia mengutuk Pol Pot — nom d’guerre Saloth Sar sejak bergabung dengan Khmer Rouge — karena menjadi musuh peradaban yang menguasi teknologi informasi. Soeharto di pihak penguasa teknologi informasi.
Bedanya lagi, Soeharto membantah rakyatnya yang katanya komunis. Pol Pot membantai raknya yang dicurigai agen kapitalis pengkhianat bangsa, para intelektual pembodoh bangsa, dan penguasa penikmat rente dari tingkat desa sampai kota.
Pol Pot membantai 1,5 juta (jumlah korban bisa simpang siur, tapi saya mengutip angka ini dari catatan Noam Chomsky) dalam kurun waktu 1975-1979. Soeharto membantai 900 ribu anggota PKI dan simpatisannya di Jawa antara 1 Oktober 1965 sampai 2 Desember 1965.
Di Bali, Soeharto membunuh 10 sampai 12 ribu anggota PKI setiap hari, setelah para pedinde mengeluarkan fatwa agar kaum komunis melakukan nyupat — meminta orang lain mempersingkat hidup sebagai balasan pengkhianatan terhadap Tuhan.
Dalam satu pekan — atau sepanjang pekan pertama Desember 1963 — 100 ribu anggota PKI di Bali tewas sukarela. Mayatnya dibuang ke laut, atau dikubur di tepi pantai. (Lihat Geoffrey Robinson dalam History of Violence in Bali: The Dark Side of Paradise).
Mengunjungi sebuah negara tanpa membaca sejarah, atau sekadar mengunyah sejarah yang tersedia, adalah sia-sia. Betapa orang lupa bahwa yang membesarkan Khmer Rouge adalah AS. Bahwa yang mempersenjatai kelompok kecil di tahun 1960-an itu adalah Paman Sam.
Bahwa kita lupa betapa marahnya AS ketika Jenderal Van Tien Dung menggerakan pasukan Vietnam memasuki perbatasan Kamboja untuk mengakhiri pemerintahan Khmer Rouge dan mendirikan pemerintahan boneka yang dipimpin Heng Samrin.
Dan seraya bermain rodeo dalam kunjungannya ke AS, Deng Xiao Ping, pemimpin Cina saat itu, memerintahkan penyerangan ke Vietnam sebagai balasan atas kekurang-ajaran Vietnam menyerbu Kamboja. Deng melakukan balas jasa terhadap AS. Ia tahu tanpa senjata dari AS, yang disuplai selama Perang Pasifik, komunis Cina tidak akan bisa mengalahkan nasionalis Chiang Kai Sek.
Dalam wawancara saya dengan Ahmad Yahya, orang Champa yang sempat menjadi Menlu Kamboja, ia beberapa kali mengoreksi penyebutan ‘kampong’. Dia bilang ‘kompong’. Memang tidak dada beda antara kampong, kompong, gampong (Aceh) dan kampung (Betawi).
Tun Him, rekan sekamar saya di Jeddah saat menunaikan ibadah haji, juga melakukan hal serupa. Bahkan ia mengoreksi hampir semua penyebutan nama-nama dalam Bahasa Kamboja yang saya ketahui. Salah satunya Tonle Sap, nama danau di Kamobja.
Kepada Ahmad Yahya dan Tun Him saya katakan pula Pol Pot bukan orang keja. Dunia telah keliru mencatat pembantaian di Kamboja sebagai yang terkejam. Saya katakan kamilah bangsa terkejam di abad modern, sebab kami punya Soeharto.
Menjura buat mas Teguh yang sudah mampir. Terima kasih buat tambahan nukilan sejarah awal terbentuknya Khmer Rouge. Entah kenapa perjalanan ke Kamboja kemarin masih membekas buat saya. Negara yang sekarang seperti hidup dari rasa kasihan negara-negara maju. Banyak LSM internasional di sana. Salah satu tour guide di Angkor Wat fasih berbahasa Spanyol dengan aksen, tetapi tidak bisa berbahasa Inggris. Ternyata dia belajar dari semacam LSM yang memberikan kursus bahasa asing bagi masyarakat Kamboja. Soal kunjungan ke Choeung Ek dan Toul Sleng, saya setuju. Cukup sekali saja berkunjung ke sana…
atau sepanjang pekan pertama Desember 1963 — 100 ribu anggota PKI di Bali tewas sukarela
RALAT: Sepanjang pekan pertama Desember 1965.