
Drive, cerita pahlawan tak bernama
Pahlawan tak bernama ini (Ryan Gosling) harus menjalani dua kehidupan. Keterampilannya cuma satu, “dia bisa melakukan apapun dengan mobil,” ujar Shannon (Bryan Cranston), bosnya di bengkel. Siang hari, dia bekerja di sebuah bengkel dan sekali-kali menjadi stunt-man untuk produksi film Hollywood. Malam hari, dia menjadi kaki tangan dunia kriminalitas dengan mengemudikan kendaraan untuk melarikan diri.
Keajegan hidup dua dunia yang dijalani sang pemuda mulai berubah ketika dia terlibat hubungan emosional dengan Irene (Carey Mulligan), tetangganya satu flat. Irene harus membesarkan anak laki-lakinya seorang diri karena suaminya, Standard (Oscar Isaac) dipenjara. Pada saat bersamaan, Shannon menjalin kesepakatan dengan Bernie Rose (Albert Brooks), seorang mafia, untuk berbisnis balapan mobil. Keinginan pemuda tak bernama itu menolong Irene dan putranya kemudian malah melibatkan dirinya dengan kejaran mafia.
Cerita tersebut menjadi intisari dari Drive, film terbaru yang dibesut sutradara asal Denmark, Nicholas Winding Refn. Sutradara ini dikenal melalui film Valhalla Rising, Bronson, dan trilogi Pusher. Dalam Drive, Refn tidak mengandalkan kerumitan plot atau efek spesial yang berlebihan. Sekuen pembukaan sudah menciptakan ekspektasi yang sangat cukup untuk mengikuti film sampai akhir. Dalam adegan pembuka yang menghabiskan waktu pengambilan gambar hingga dua hari itu, Refn menggunakan sudut pandang pengemudi kendaraan saat sang tokoh utama melarikan diri dari kejaran mobil polisi usai melakukan sebuah perampokan. Dengan mengambil setting tempat di sudut-sudut kota Los Angeles yang gelap sampai ke stadion Staples Center, sekuen ini sangat membekas.
Belum lagi penggunaan tone-tone klasik yang mengingatkan penonton pada era 1980-an. Mulai dari pemilihan bentuk huruf pada opening title sampai soundtrack techno-pop yang makin menguatkan kesan klasik. Dalam beberapa resensi, disebutkan mereka menyaksikan film ini juga karena ingin mendengarkan musiknya. Terutama dengan lagu tema A Real Hero dari College, musik dan cerita dalam film ini saling menguatkan satu sama lain dan tidak bisa dipisahkan.
Drive juga menegaskan reputasi Gosling sebagai salah satu aktor Hollywood yang berkualitas top, meski “diremehkan”. Dalam beberapa tahun terakhir, Gosling memainkan karakter yang beragam, seperti dalam Lars and the Real Girl dan Blue Valentine, dengan konsistensi tinggi. Sebelumnya, pada 2007, Gosling menjadi nominator Aktor Terbaik pada ajang penghargaan Oscar untuk perannya dalam Half Nelson. Dalam Drive, Gosling memerankan karakter pahlawan tanpa nama, tidak banyak bicara, dan gemar menyelipkan tusuk gigi di mulutnya.
Tidak butuh lama bagi Gosling untuk bekerja sama dengan Refn dalam pengerjaan proyek Drive. Mengetahui sutradara asal Denmark itu dari Valhalla Rising, Gosling segera tertarik mengerjakan Drive sebagai adaptasi dari novel James Sallis. Keduanya merombak skrip yang ditulis Hossien Amini dengan memotong banyak dialog karakter utama. Karakter Irene awalnya adalah seorang wanita Latin, tetapi ketika Carey Mulligan bersedia bergabung, Refn menganggap karakter itu lebih pas disandingkan dengan tokoh utama. Begitu juga dengan pemilihan Albert Brooks, yang lebih dikenal sebagai seorang komedian, untuk memainkan karakter mafia yang kejam. Selain itu, ada pula Ron Perlman dan Christina Hendricks yang memperkuat jajaran aktor pendukung film.
Dengan kesunyian dan kesepian sang tokoh utama, Drive barangkali bukan film yang bisa diterima semua orang. Namun, paduan musik dan cerita, karakter yang kuat, dan sentuhan teknik penyutradaraan, Drive pantas menjadi salah satu film yang paling diperhitungkan pada 2011 ini.
Rating 4,5/5
*Resensi film Drive (Nicolas Winding Refn, 2011)
Filed under: resensi, Carey Mulligan, Drive, film, Nicholas Winding Refn, review, Ryan Gosling
anjangsana