Saya sangat mendukung kedinamisan. Tapi, untuk masalah sahur di tempat kosan, ruang lingkup kedinamisan itu dibatasi. Hanya satu tujuan selama bulan Ramadan ini, yaitu sebuah warteg tak jauh dari tempat kosan. Sudah selalu ke sana selama hampir dua minggu ini, mbak penjaga warung tampaknya sudah mengenal menu yang saya pilih. Nasi porsi setengah dan telor dadar. Variasinya hanya pada teman si telur dadar, tempe orek atau perkedel atau kacang teri atau tahu. Minumnya teh manis hangat. Masih adakah ruang untuk mencari kedinamisan dalam dua minggu tersisa Ramadan ini?
Filed under: Uncategorized , puasa, Ramadan, sahur, telur dadar
hahaha telur dadar pak?
udah lebaran pak. masih sahur?