Buat saya, mungkin hanya Piala Dunia yang akan membuat saya lekat-lekat memelototi layar televisi. Biasanya, adiksi itu berlangsung sebulan penuh. Bisa juga adiksi itu menguap seketika kalau tim jagoan tersingkir dari kejuaraan…
Pekan ini berbeda. Pekan ini pemirsa dimanja televisi. Raja televisi pekan ini adalah televisi khusus saluran berita. Selasa, 4 Agustus kemarin, Indonesia terkejut karena Mbah Surip meninggal. Penyanyi reggae eksentrik yang baru beberapa bulan ini melejit melalui lagu “Tak Gendong” itu tutup usia. Televisi ramai memberitakannya, tak ketinggalan saluran infotainment maupun teve berita.
Dua hari berselang, kabar duka kembali tersiar. Kali ini penyair kenamaan WS Rendra berpulang. Teve pun ramai-ramai memberitakan pemakaman dan profil Si Burung Merak.
Di sela-sela kabar duka tersebut, ada pengungkapan kasus dugaan penyuapan oleh sebuah PT kepada para petinggi KPK. Sebuah stasiun televisi swasta bahkan menyiarkan langsung detik demi detik konferensi pers KPK yang berisi bantahan terhadap testimoni eks bosnya, yang sedang ditahan kepolisian akibat dugaan pembunuhan seorang pejabat.
Tadi malam, pemirsa kian memelototi layar televisi mereka. Dua stasiun teve berita menayangkan langsung “penggerebekan” sarang teroris di sebuah dusun di Temanggung, Jawa Tengah. Hingga tadi siang, pokok berita belum henti-hentinya mengabarkan informasi itu. Apalagi ditambah “penggerebekan” serupa di Bekasi, yang berujung pada tewas dan ditangkapnya para anggota jaringan teroris.
[Hendropriyono, eks petinggi Bakin, meluruskan penggunaan istilah "penggerebekan" karena secara peristilahan operasi intelijen, lebih tepat menggunakan istilah "penyergapan"]
Rating hampir dipastikan memuncak, meski belum tentu sebanding dengan sinetron “Manohara” di sebuah teve swasta yang tayang stripping.
Beruntung kita hidup dalam era komunikasi modern yang memudahkan masyarakat mengetahui informasi secara cepat dan langsung. Saat keluar sebentar ke kios koran langganan dekat rumah tadi pagi, orang-orang membicarakan “penggerebekan”. Berkat televisi, operasi pemberantasan teroris itu benar-benar menyita perhatian.
Tapi, di lain sisi, sebagai penggemar sepakbola saya berduka cita karena beberapa stasiun teve menghentikan siaran langsung Liga Belanda dan Liga Spanyol. Kabarnya, Liga Jerman juga menghilang dari langit Indonesia. Sementara itu, Liga Italia belum jelas kepemilikan hak siarnya. Liga Inggris sudah dipegang sebuah stasiun teve, meski belum jelas apakah semua partai besar dapat ditayangkan langsung…
Filed under: celetuk , hak siar liga, komunikasi, komunikasi massa, KPK, Mbah Surip, penggerebekan teroris, siaran langsung, televisi, WS Rendra
anjangsana