Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Kaleng Sarden

“Kamu seperti hidup di dalam kaleng sarden.”

Maksudnya?

“Lihat saja. Sarapan mi instan dengan susu coklat kemasan. Makan siang di restoran fast food Jepang, minum minuman soda. Malam, kamu cuma makan makanan probiotik dan ngemil snack keripik kentang.”

Apa hubungannya dengan kaleng sarden?

Dari semua bentuk perhatian yang bisa diberikannya kepadaku, seperti ribuan kalimat “Aku sayang kamu” misalnya, dia memilih kata “kaleng sarden”.

“Ya, kaleng sarden.”

Maksudnya?

“Kamu hidup serbapadat dan serbamampat. Serbapraktis…”

Seperti dalam bis begitu?

“Iya, seperti dalam bis. Tapi, lebih sebenarnya sih. Coba lihat lagi begini. Kalau kamu sekarang janjian dengan teman kamu, atau dengan aku, kamu pakai blackberry milik kamu. Atau kamu YM. Atau kamu dapat undangan acara tertentu dari FB kamu. Kamu nggak sadar kamu hidup dalam kaleng sarden…”

Ya, kan teknologi memudahkan, dear.

“Nggak ah, bikin ribet malah.”

Hahaha… Kaleng sarden? Gagasan yang cuma akan hidup dalam benaknya. Benar yang mereka bilang, semua perbedaan akan menimbulkan gaya tarik menarik. Dua kutub yang sama tidak akan menciptakan energi magnetik. Perbedaan-perbedaan lah yang membuat saya tidak pernah berhenti memikirkannya.

Dia menyarankan saya untuk meninggalkan kaleng sarden itu. Mana mungkin bisa? Tapi, menurutnya orang tak boleh terlalu lama tergantung pada satu titik. Tidak boleh mengandalkan kepraktisan.

“Semua orang kok senang bikin film horor. Dasar kaleng sarden semua! Where’s the art?”

Hmmm.. Mungkin dia benar.

Saya memikirkan kaleng sarden itu saat ini. Di atas jembatan layang. Di bawah saya, berkejaran mobil-mobil yang berlalu sekejap di jalan tol lingkar luar. Cepat, susul menyusul, tapi tak ada yang menunggu yang lain.

Sejak bertemu dengannya, perjalanan menjadi satu-satunya hal yang paling menarik bagi saya. Karena orang-orang selalu berpindah tempat. Karena waktu selalu bergerak. Karena tidak ada yang abadi.

Sekali-kali aku ingin ketemu kamu lagi…

Dia tidak menjawab. Hati perempuan selalu penuh sejuta jawaban. Mungkin dia bilang tidak, tapi belum tentu pula menolaknya.

Di atas jembatan layang ini saya merasa bebas. Tidak pernah sebebas ini sepanjang hidup saya. Kaleng sarden itu sudah menjadi kaleng sarden rombeng. Ikan-ikan sardennya berlepasan dan mencari jalan masing-masing menuju sumber air. Benar, karena hidup selalu menjadi sebuah perjalanan…

Aku ingin bilang…

“Kamu nggak perlu bilang apa-apa lagi. Semuanya sudah jelas kok, it’s in the air…”

Dia mengerling dan tersenyum. Bahagia.

Hidup saya pun terasa lengkap. Dia yang melengkapinya…

*untuk mengobati penyakit neurotik yang membuat saya baru bisa tidur di atas jam 4 pagi belakangan ini…

Filed under: cerita , , , , , , , ,

Tidak Ada Cinta Dalam “Romeo Juliet”

Romeo Juliet (Andibachtiar Yusuf, 2009)

Romeo Juliet (Andibachtiar Yusuf, 2009)

“Football is a matter of life and death, i can assure you it is much more important than that.”

Kalimat tersebut bukan milik Andibachtiar Yusuf, tapi manajer legendaris Liverpool Bill Shankly. Bagi Yusuf, ucapan tersebut adalah ucapan favoritnya. Semacam kredo. Setelah sering mengutipnya dalam beberapa kesempatan, Yusuf menunjukkan “sepakbola Indonesia lebih sekadar daripada hidup” dalam Romeo Juliet, debut film fiturnya.

Identitas sepakbola Indonesia yang ditunjukkan dalam Romeo Juliet adalah fanatisme yang kental dengan kekerasan. Selalu identik dengan kerusuhan penonton. Sepakbola adalah kerusuhan.

Perseteruan yang sangat mengemuka di jagad persepakbolaan Indonesia adalah antara fans Persija Jakarta dengan Persib Bandung. Yusuf berpikir, bagaimana jika keduanya dihubungkan dengan sebuah kisah cinta sejati yang menyadur karya kenamaan William Shakespeare? Lahirlah kisah ala Romeo dan Juliet yang kental dengan nuansa sepakbola.

Tapi, tunggul dulu. Mungkin Yusuf terlalu bernafsu mengumbar cintanya terhadap sepakbola sehingga terjebak dalam paradigma yang diusungnya sendiri, yaitu “sepakbola Indonesia yang identik dengan kekerasan” itu tadi. Saking memusatkan perhatian penuh kepada rivalitas kedua pendukung yang mengarah pada kekerasan, Romeo Juliet malah melupakan unsur perekat yang sangat penting. Sepakbola itu sendiri. Dan, karena menyadur Shakespeare, cinta.

Memang tidak salah menyamakan nikmatnya menonton sepakbola seperti hubungan seks, seperti yang ditunjukkan dalam satu adegan. Tapi, bagi penonton awam, sulit memahami kadar fanatisme yang dimiliki para pendukung sepakbola ini. Fanatisme, yang juga kerap digambarkan secara verbal sepanjang film, diibaratkan Yusuf sebagai belati bermata tunggal. Hanya ada hitam, tidak ada putih. Begitu pula sebaliknya. Penonton awam harus percaya fanatisme sepakbola di Indonesia takkan jauh dari kekerasan, verbal dan non-verbal.

Salah satu peluang untuk memisahkan kekerasan dari sepakbola muncul ketika karakter utama pria datang ke Malang. Beda dengan di Bandung, di sana dia disambut hangat pendukung sepakbola setempat. Muncul lagi pertanyaan dari penonton awam, kenapa mereka tidak bermusuhan? Kenapa seolah-olah pendukung sepakbola Jakarta hanya bermusuhan dengan pendukung Bandung?

Jawabannya tercermin pada tekad Yusuf untuk memberikan gambaran rivalitas sepakbola Jakarta-Bandung secara apa adanya.

Tekad tersebut malah membuat Romeo Juliet seperti bukan film sepakbola. Terlalu sedikit bahasa dan gambar sepakbola dalam film ini. Ketika karakter utama pria bermain sepakbola dengan sesama rekan pendukung sepakbola Jakarta, mereka malah meneriakkan nama-nama pemain Manchester United. Bagi penonton pendukung sepakbola, siap-siap kecewa karena tidak ada adegan pertandingan sepakbola sama sekali dalam film ini.

Romeo Juliet juga bukan film cinta. Fanatisme diutamakan daripada kekerabatan keluarga. Di atas cinta kasih ibu kepada anaknya, kakak kepada adik, kepada sesama. Cinta tak pernah diberikan kesempatan menjadi jalan keluar dalam film ini. Cinta dimusuhi bulat-bulat, “hanya” karena kedua karakter utamanya menduakan klub masing-masing.

Romeo Juliet adalah film tentang kekerasan, yang ditingkahi dengan kontras oleh simfoni mendayu-dayu gubahan Ananda Sukarlan.

Dan, sungguh kontras. Jika dalam karya aslinya Shakespeare memenangkan cinta pada bagian penutup dengan mematikan kedua tokoh utama (karena hanya dengan kematianlah mereka dapat bersatu dengan cinta), dalam kisah Romeo dan Juliet versi Yusuf, kekerasanlah yang dimenangkan.

Karakter utama pria dikisahkan tewas ketika mendatangi stadion di Bandung untuk menjemput sang pujaan hati di tengah-tengah amukan pendukung tuan rumah.

Pahit. Realitas sepakbola Indonesia yang sangat tragis. Mau apa lagi? Memang seperti itulah gambaran sepakbola Indonesia. Dan, Romeo Juliet tak pelak malah tergiring menjadi agen kekerasan itu sendiri… Mau apa lagi? Seperti itulah sepakbola Indonesia.

Dalam adegan penutup, kalimat kunci berupa raungan “puas maneh?” (“puas kamu?”) yang diteriakkan secara penuh emosional oleh seorang fans pun tak lebih dari sekadar angin lalu. Gagal memancing simpati para penonton.

Saya percaya mereka, para penonton awam itu, makin meyakini tak ada kisah cinta sejati dalam sepakbola Indonesia. Hanya kekerasan. Mau apa lagi, memang seperti itu apa adanya…

Rating: 1,5/5 bintang.

*Review film “Romeo Juliet” (Andibachtiar Yusuf, 2009)

**Image courtesy of www.film.indonesiaselebriti.com

Filed under: resensi , , , , , ,

almanak

Mei 2009
M S S R K J S
« Apr   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

paling laku

kumpulan

tentang saya…