“Kamu seperti hidup di dalam kaleng sarden.”
Maksudnya?
“Lihat saja. Sarapan mi instan dengan susu coklat kemasan. Makan siang di restoran fast food Jepang, minum minuman soda. Malam, kamu cuma makan makanan probiotik dan ngemil snack keripik kentang.”
Apa hubungannya dengan kaleng sarden?
Dari semua bentuk perhatian yang bisa diberikannya kepadaku, seperti ribuan kalimat “Aku sayang kamu” misalnya, dia memilih kata “kaleng sarden”.
“Ya, kaleng sarden.”
Maksudnya?
“Kamu hidup serbapadat dan serbamampat. Serbapraktis…”
Seperti dalam bis begitu?
“Iya, seperti dalam bis. Tapi, lebih sebenarnya sih. Coba lihat lagi begini. Kalau kamu sekarang janjian dengan teman kamu, atau dengan aku, kamu pakai blackberry milik kamu. Atau kamu YM. Atau kamu dapat undangan acara tertentu dari FB kamu. Kamu nggak sadar kamu hidup dalam kaleng sarden…”
Ya, kan teknologi memudahkan, dear.
“Nggak ah, bikin ribet malah.”
Hahaha… Kaleng sarden? Gagasan yang cuma akan hidup dalam benaknya. Benar yang mereka bilang, semua perbedaan akan menimbulkan gaya tarik menarik. Dua kutub yang sama tidak akan menciptakan energi magnetik. Perbedaan-perbedaan lah yang membuat saya tidak pernah berhenti memikirkannya.
Dia menyarankan saya untuk meninggalkan kaleng sarden itu. Mana mungkin bisa? Tapi, menurutnya orang tak boleh terlalu lama tergantung pada satu titik. Tidak boleh mengandalkan kepraktisan.
“Semua orang kok senang bikin film horor. Dasar kaleng sarden semua! Where’s the art?”
Hmmm.. Mungkin dia benar.
Saya memikirkan kaleng sarden itu saat ini. Di atas jembatan layang. Di bawah saya, berkejaran mobil-mobil yang berlalu sekejap di jalan tol lingkar luar. Cepat, susul menyusul, tapi tak ada yang menunggu yang lain.
Sejak bertemu dengannya, perjalanan menjadi satu-satunya hal yang paling menarik bagi saya. Karena orang-orang selalu berpindah tempat. Karena waktu selalu bergerak. Karena tidak ada yang abadi.
Sekali-kali aku ingin ketemu kamu lagi…
Dia tidak menjawab. Hati perempuan selalu penuh sejuta jawaban. Mungkin dia bilang tidak, tapi belum tentu pula menolaknya.
Di atas jembatan layang ini saya merasa bebas. Tidak pernah sebebas ini sepanjang hidup saya. Kaleng sarden itu sudah menjadi kaleng sarden rombeng. Ikan-ikan sardennya berlepasan dan mencari jalan masing-masing menuju sumber air. Benar, karena hidup selalu menjadi sebuah perjalanan…
Aku ingin bilang…
“Kamu nggak perlu bilang apa-apa lagi. Semuanya sudah jelas kok, it’s in the air…”
Dia mengerling dan tersenyum. Bahagia.
Hidup saya pun terasa lengkap. Dia yang melengkapinya…
*untuk mengobati penyakit neurotik yang membuat saya baru bisa tidur di atas jam 4 pagi belakangan ini…
Filed under: cerita , cerita, cerita pendek, cinta, fiksi, kaleng sarden, neurotik, prosa pendek, serbainstan

anjangsana