
para peserta
Masih percaya kebetulan?
Singapura “ditemukan” seorang pangeran dari kerajaan Sriwijaya bernama Sang Nila Utama. Konon, begitu mendarat sang pangeran melihat seekor singa di pulau tersebut dan menamakannya Singa-Pura atau kota singa. Pada abad kejayaan kerajaan maritim nusantara, pulau ini lebih dikenal dengan nama Tumasik.
Berkat posisinya yang strategis, Singapura berkembang pesat menjadi bandar perdagangan tersibuk di dunia. Multinasional berkumpul di sini dan mempertukarkan barang-barang dagangannya — pribumi, Cina, Arab, India, hingga Eropa. Pada 6 Februari 1819, setelah dua pekan mendarat, seorang Inggris bernama Thomas Stamford Raffles berhasil menjalin kesepakatan dengan Sultan Hussein Shah untuk mendirikan bandar niaga British East India Company di selatan pulau. Demi menyaingi dominasi “kompeni” Belanda di wilayah selatan, Singapura kian berkembang.
Dan, pada 6 Februari kemarin, saya, Hanny, Chika, Dimas, dan Nia mendarat di Changi dengan pesawat Sriwijaya Air paling pagi. Kecuali saya dan Dimas, peserta yang lain — or the ladies — sudah pernah bekunjung ke negeri ini. Yep. I’m first-timer!
Barangkali Hanny sedang beruntung. Desember lalu, Hanny dinyatakan sebagai pemenang tahunan Wacky Weekend Contest yang diselenggarakan Singapore Tourism Board (STB). Istimewanya, Hanny dapat mengajak serta empat orang teman untuk menemaninya berjalan-jalan ke Singapura dengan akomodasi ditanggung biro pelesir negara jiran itu. Jadi, actually, saya, Chika, Dimas, dan Nia orang yang lebih beruntung… Haha!
Setelah segala penantian dan pengurusan dokumen (termasuk bagian NPWP yang mengaduk-aduk perasaan itu *ehem*), pada 6 Februari lalu, Singapura kami datang!
Setiba di sana, waktu shalat Jumat sudah masuk. Dan, kami memilih Jumatan di mesjid Al-Falah di seberang pusat perbelanjaan Paragon. Tak butuh lama untuk menikmati pesona Singapura. Technically, mesjid ini bukan bangunan berkubah seperti biasanya, tapi lebih berupa aula pertemuan biasa. Saya memilih duduk di selasar mesjid yang langsung berbatasan dengan pedestrian walk. Yeah, you have to know, it clearly seems every Singaporean street is a catwalk, so you can find street-fashion’s people easily around the town. Konsentrasi saya pun terbagi antara mendengarkan khutbah berbahasa Melayu dengan menikmati pemandangan “peragaan busana”…
We stay at The Scarlet Hotel, a boutique hotel at Enskrin Road, kawasan Chinatown. Jalan di depan hotel sempit, seperti gang di kawasan perumahan Jakarta, tapi jangan tanya keteraturan dan kebersihannya.
Setelah sholat Jumat — as for the ladies they stole time to explore Orchard Road earlier than me and Dimas — kami makan siang di One Fullerton, di restoran Palm Beach. Menunya seafood dengan pemandangan yang berhadapan dengan Marina Bay. Dan, saya menemui satu-satunya kendala saat berlibur di sini. Singapore Chilli Crab yang besar itu sulit ditaklukkan dengan peralatan yang disediakan restoran. Apalagi, saya terbiasa menggunakan media tradisional untuk menyantap kepiting — dengan kedua tangan! Oh, my… Tentu tidak enak makan belepotan di hadapan teman-teman baru dan Kendra Wong, perwakilan STB yang menemani kami siang itu. Toh, pada akhirnya, godaan daging kepiting membuat saya memilih cara tradisional. Hajarrrrr!

proof of visit
To keep your curiosity, of course I will continue this writing! Just hang out with me, dear readers!
Filed under: mengalami , Chika Nadya, Dimas Novriandi, Hanny Kusumawati, jalan-jalan, liburan, Nia Sadjarwo, singapore tourism board, singapura, wacky weekend
mumpung bang… mumpung…
manfaatkan sebaik2nya
tampak enak…
jadi iri.. hihihi
makan seafood ga sah if your hands don’t get dirty!
fotonya dikit. gak afdol!
@hanny: yeah, let’s get dirty hands!
@cK: hahahahaha, soalnya sumber2 foto tergantung ama yg bawa kamera.. :p
serign ke singapur yah…?
alhamdulillah pak, baru sekali itu aja..
salam kenal!