Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Kenapa Selalu Bambang Pamungkas?

Tercetus untuk menulis ini karena iklan yang baru saja saya saksikan. Iklan barusan adalah iklan biskuit anak-anak yang menampilkan tiga orang atlit Indonesia sebagai teladan anak Indonesia, di antaranya adalah Bambang Pamungkas.

Berapa banyak iklan yang sudah atau pernah dibintangi Bambang? Setidaknya ada dua: sebuah produsen apparel dan sebuah minuman suplemen. Ratusan pemain sepakbola yang mencari nafkah di Liga Indonesia, tapi tidak ada pemain lain yang diincar principal untuk mewakili brand mereka.

Kenapa harus Bambang?

Jawabannya, seperti yang selalu saya temukan ketika masih bekerja di sebuah majalah khusus sepakbola, (seakan-akan) hanya Bambang pemain yang paling high profile di Indonesia. Dalam kata lain, di lingkungan pemain sepakbola tanah air, Bambang paling sukses mencitrakan dirinya sendiri sebagai atlit modern, punya kecerdasan, dan sadar media.

Soal sadar media ini saya punya pengalaman tersendiri. Pertemuan pertama saya dengan Bambang adalah di luar kamar ganti stadion Shah Alam, Malaysia, nyaris tiga tahun silam. Sengaja saya tunggu sampai satu persatu pemain timnas yang sedang bertanding di Merdeka Games itu sebelum memasuki bus. Tujuannya satu, menjalankan order dari Jakarta untuk mewawancarai Bambang selain beberapa pemain lain.

Sasaran mulai tampak keluar dari kamar ganti dan saya cegat. Saya berhasil mendapatkan nomor ponselnya dan berkata akan bikin janji untuk wawancara keesokan paginya. Bambang mengiyakan. Saya rasa dengan menyebutkan nama majalah tempat bekerja cukup menciptakan kepercayaan antara wartawan dengan narasumbernya. Bagi Bambang, itu belum cukup.

Keesokannya, lewat perjalanan menumpang monorail dan kereta komuter, serta taksi, saya menghampiri hotel tempat pemain menginap. Saya hubungi ponselnya. Diangkat. Saya bilang saya media tadi malam yang ingin mewawancarainya. Tapi mendadak telepon dialihkan ke seseorang — mungkin istrinya. Perempuan itu bilang, nomor yang saya hubungi bukan kepunyaan Bambang. Saya bingung. Kenapa Bambang menghindar? Saya merasa saya tidak mendesak-desak dirinya untuk melakukan wawancara.

Pada saat ini, saya mengakui ada benarnya peringatan seorang teman wartawan yang wawancara dengan Bambang itu “gampang-gampang susah”. Atau buat yang jengkel, seperti saya, sikap itu diterjemahkan sebagai arogansi Bambang terhadap media. Baiklah. Siapa butuh siapa, kan? Kembali ke kantor, saya menceritakan pengalaman ini. Usai bercerita, saya bersumpah, saya tidak mau lagi mewawancarai Bambang. Boikot!

Beberapa belas bulan setelahnya, atas kerja sama dengan sebuah apparel, majalah harus mewawancarai Bambang untuk dibikin profil. Bos saya rupanya sangat terkesan dengan boikot tersebut dan menugaskan rekan lain untuk mewawancarainya. Kepada sang rekan, saya menitipkan pertanyaan, kenapa ada kecenderungan Bambang menghindari media?

Rekan saya itu menyampaikan amanat saya dan jawabannya, Bambang alergi karena pernah suatu ketika komentarnya disalahartikan oleh media pewawancara. Hasilnya sebuah berlawanan dari konteks saat ditanyakan. Alasan tersebut sesungguhnya pernah ditulis Bambang dalam laman pribadi. Alih-alih alergi, barangkali lebih tepat menyebutnya sebagai sikap selektif Bambang dalam pemilihan media.

Menariknya, saat mengambil foto profil, rekan tersebut relatif tidak mengalami banyak kesulitan. Berbeda dari kebanyakan pemain Indonesia yang kebingungan bergaya saat difoto, Bambang “sangat leluasa”. Terbiasa, mungkin. Seperti kata rekan tersebut, dicantumkan dalam salah satu caption foto artikel, Bambang “alergi media, tapi sadar kamera”.

Sengaja atau tidak, citra diri modern yang ditonjolkan Bambang adalah unique selling proposition di antara pemain Indonesia lain. Wajah Bambang bolehlah, tidak jelek-jelek amat dan terawat. Hair-do-nya oke. Penampilannya parlente dan kelimis — mungkin kelewat rapi bagi seorang pemain sepakbola. Gaya bicaranya diatur dengan tatap mata yang tajam dan percaya diri. Pokoknya, sosok Bambang adalah sekaligus seorang pemain dan selebritas di pentas sepakbola nasional. Seperti tidak ada pemain sepakbola Indonesia lain yang lebih megah daripada Bambang.

Jadi, jika ada sebuah merek yang ingin memanfaatkan pemain sepakbola untuk mengkomunikasikan kampanyenya, siapa yang paling pertama muncul dalam pikiran? Persis. Bambang Pamungkas.

Padahal, masih banyak pemain lain. Ponaryo Astaman. Firman Utina. Charis Yulianto. Boaz Solossa. Budi Sudarsono. Atep. Tapi, apa unique selling proposition yang mereka miliki? Saya kebingungan menjawabnya.

Dunia konsumerisme mutakhir adalah dunia pencitraan. Popularitas akan muncul seiring pembentukan pencitraan diri. Sayangnya, ini belum terjadi pada hubungan dua arah antara sepakbola nasional dengan komunikasi pemasaran. Dalam kata lain, sepakbola Indonesia masih butuh strategi komunikasi terpadu. Tidak hanya bagi para pemain, tapi kepada klub secara keseluruhan.

Mungkinkah akan ada sebuah klub Liga Indonesia mengontrak khusus jasa kehumasan, baik outsource atau memasukkannya dalam sktruktur internal, untuk mengelola kampanye komunikasi klub?

Mungkinkah ada seorang pemain Indonesia yang punya kadar “kesadaran media” lumayan tinggi dan mengonsep pencitraan dirinya sebagai figur yang dekat dengan anak-anak atau katakanlah seorang aktivis lingkungan, misalnya?

Hingga saat ini, jika principal mencari pemain sepakbola Indonesia untuk mengkampanyekan mereknya, hampir dapat dipastikan, kecuali berbenturan dengan merek yang sedang diwakilinya, mereka akan selalu menghampiri Bambang Pamungkas. Hail to the man!

Filed under: opini , , , , , ,

More shops, more shops…

It was a sunny day in the city.

Kami berjalan di tengah pemukiman Melayu atau biasa disebut Kampung Jawa. Pertama kali turun dari bus, pintu terbuka menuntun kami masuk ke halaman istana pada masa kesultanan Melayu Riau zaman dulu. Di sinilah pusat pemerintahan Tumasik. Mesjid, pasar, dan pemukiman terletak dalam satu kompleks. Sekarang, di dekat mesjid pemukiman disulap menjadi toko-toko yang menjual cinderamata.

Sudah jelas ini harinya untuk para ibu-ibu dalam rombongan…

Kami berjalan kaki dari Kampung Jawa ke Haji Lane Street, sayangnya salah satu kawasan cinderamata ini baru dibuka menjelang sore hari, dan akhirnya mendarat ke Bugis Village. Jangan heran jika para ibu langsung tenggelam dan menghilang dalam keramaian pasar.

“More shops”… “More shops”… Bunyi penunjuk jalan yang digantung di atas tiap persimpangan pasar. Baju, pernak-pernik, oleh-oleh, tas, sepatu… You name it. Ada di sini dengan harga rata-rata mulai dari S$10. Kamu bisa memilih menghabiskan bujet untuk belanja di sini, atau nanti di Mustafa.

Itu yang kami lakukan tengah malam setelah mampir sejenak di Supperclub, kelab berlantai dua dengan kasur sebagai “tempat duduknya”. Ya, kasur. Jadi, kamu bisa menyelonjorkan kaki di atasnya dan bersantai sambil mengobrol dengan teman-teman.

Belum puas, kami meluruskan kaki dengan berjalan-jalan keluar dari Supperclub untuk menuju Mustafa. Pukul 12 malam. Yep, Mustafa buka 24 jam. Sisa dari perjalanan dengan kaki itu kami lanjutkan dengan taksi. “To the Mustafa, Uncle…”

Mustafa seperti toserba. Kalau di Jakarta, kamu akan berpikir toserba zaman ini hanya hidup pada 1980-an. Tapi tidak di sini. Segala ada, baju, perlengakapan olahraga, perhiasan, pecah belah, makanan, minuman, obat-obatan, hingga DVD… Kawasan di tengah pemukiman masyarakat keturunan India ini sangat hidup di waktu malam.

Hari itu hari yang mengenyangkan. Tidak saja karena puas berbelanja, tapi juga secara literal. Sebelum makan siang di Pot Pourri dengan menu khas India, kami ngemil nyamikan di Bugis, dan terakhir dilanjut dengan set-up menu makanan Western di My Secret Garden. Dua kali set-up menu hari itu, ditambah late breakfast, nyaris menghilangkan selera makan saya. Padahal, belum lagi saya sempat mencicipi pie apel McDonald’s yang direkomendasikan teman-teman.

Ah, saya lupa menceritakan Orchard Road yang sohor itu. Akhirnya, saya menyusuri kawasan pedestrian-friendly itu tepat ketika matahari mulai jinak di atas langit Singapura. Lucky Plaza, Takashimaya, toko buku Borders.. Hanya sekali menyusurinya dengan waktu terbatas tentu tidak membuat rasa penasaran saya terpuaskan. Saya yakin, diberi waktu senggang sehari penuh, saya akan larut dalam kawasan yang, lagi-lagi, pedestrian-friendly ini.

Nanti, saya akan kembali lagi ke Singapura…

Filed under: mengalami , , , , ,

They’re Watching Us…

The next agenda waiting is to visit Night Safari at Singapore Zoo.

Bertepatan dengan jam pulang kantor, lalu lintas agak padat dan lumayan makan waktu untuk tiba di tempat. Setelah membeli tiket, kami menikmati makan malam di Ulu-Ulu. Menunya buffet dan dalam kesempatan langka ini, saya memilih menu masakan India. Roti nam yang diolesi madu, ayam pedas, sate kambing, dan ditambah sepotong roti. Hmmm…

Untuk “bersafari”, pengunjung menggunakan trem. Kereta gandeng yang ditarik mobil itu akan berkeliling membawa pengunjung melihat-lihat hewan nocturnal. Anoa, hyena, beruang, banteng, tapir, babi rusa, celeng berjanggut [yang konon sebenarnya dilihat oleh Sang Nila Utama saat mendarat di Singapura, alih-alih singa], flamengo, badak, landak, singa…

Setelah berapa lama melintasi trek satu jalur, pengunjung dipersilakan menikmati binatang-binatang tersebut dari dekat melalui walking trail. Ada clouded leopard yang bisa dilihat di sini, begitupun tupai, flying squirrel [bajing loncat, anyone?], hingga seekor leopard yang gemar bolak-balik melintasi depan kaca yang membatasi kandangnya dengan para pengunjung.

Sebenarnya siapa yang melihat siapa? I’d rather believe, actually, they’re the one who watching us.

Puas melintasi walking trail, pengunjung kembali menaiki tram untuk kembali ke tempat semula. Di ujung perjalanan, kami bertemu dengan seekor gajah betina berukuran lumayan besar [gajah raksasa? hehe, hiperbola]. Rupanya dia maskot safari malam ini. Namanya Chawang.

Kelelahan mulai melanda. Mungkin kepadatan jadwal tidak bisa dibohongi. Sore sebelumnya, kami menyusuri sungai Singapura hingga ke Marina Bay dengan kapal. Dari sungai, paduan bangunan modern dengan bangunan kuno yang dijaga kelestariannya menghadirkan pemandangan tersendiri. Kalau saja sungai Ciliwung di kawasan Harmoni-Gajah Mada-Pasar Baru, misalnya, bisa disusuri seperti ini…

Ah, dan masih ada satu hari terakhir yang masih dapat diceritakan…

Filed under: mengalami , , , , , ,

The First-Timer Arrived!

para peserta

para peserta

Masih percaya kebetulan?

Singapura “ditemukan” seorang pangeran dari kerajaan Sriwijaya bernama Sang Nila Utama. Konon, begitu mendarat sang pangeran melihat seekor singa di pulau tersebut dan menamakannya Singa-Pura atau kota singa. Pada abad kejayaan kerajaan maritim nusantara, pulau ini lebih dikenal dengan nama Tumasik.

Berkat posisinya yang strategis, Singapura berkembang pesat menjadi bandar perdagangan tersibuk di dunia. Multinasional berkumpul di sini dan mempertukarkan barang-barang dagangannya — pribumi, Cina, Arab, India, hingga Eropa. Pada 6 Februari 1819, setelah dua pekan mendarat, seorang Inggris bernama Thomas Stamford Raffles berhasil menjalin kesepakatan dengan Sultan Hussein Shah untuk mendirikan bandar niaga British East India Company di selatan pulau. Demi menyaingi dominasi “kompeni” Belanda di wilayah selatan, Singapura kian berkembang.

Dan, pada 6 Februari kemarin, saya, Hanny, Chika, Dimas, dan Nia mendarat di Changi dengan pesawat Sriwijaya Air paling pagi. Kecuali saya dan Dimas, peserta yang lain — or the ladies — sudah pernah bekunjung ke negeri ini. Yep. I’m first-timer!

Barangkali Hanny sedang beruntung. Desember lalu, Hanny dinyatakan sebagai pemenang tahunan Wacky Weekend Contest yang diselenggarakan Singapore Tourism Board (STB). Istimewanya, Hanny dapat mengajak serta empat orang teman untuk menemaninya berjalan-jalan ke Singapura dengan akomodasi ditanggung biro pelesir negara jiran itu. Jadi, actually, saya, Chika, Dimas, dan Nia orang yang lebih beruntung… Haha!

Setelah segala penantian dan pengurusan dokumen (termasuk bagian NPWP yang mengaduk-aduk perasaan itu *ehem*), pada 6 Februari lalu, Singapura kami datang!

Setiba di sana, waktu shalat Jumat sudah masuk. Dan, kami memilih Jumatan di mesjid Al-Falah di seberang pusat perbelanjaan Paragon. Tak butuh lama untuk menikmati pesona Singapura. Technically, mesjid ini bukan bangunan berkubah seperti biasanya, tapi lebih berupa aula pertemuan biasa. Saya memilih duduk di selasar mesjid yang langsung berbatasan dengan pedestrian walk. Yeah, you have to know, it clearly seems every Singaporean street is a catwalk, so you can find street-fashion’s people easily around the town. Konsentrasi saya pun terbagi antara mendengarkan khutbah berbahasa Melayu dengan menikmati pemandangan “peragaan busana”…

We stay at The Scarlet Hotel, a boutique hotel at Enskrin Road, kawasan Chinatown. Jalan di depan hotel sempit, seperti gang di kawasan perumahan Jakarta, tapi jangan tanya keteraturan dan kebersihannya.

Setelah sholat Jumat — as for the ladies they stole time to explore Orchard Road earlier than me and Dimas — kami makan siang di One Fullerton, di restoran Palm Beach. Menunya seafood dengan pemandangan yang berhadapan dengan Marina Bay. Dan, saya menemui satu-satunya kendala saat berlibur di sini. Singapore Chilli Crab yang besar itu sulit ditaklukkan dengan peralatan yang disediakan restoran. Apalagi, saya terbiasa menggunakan media tradisional untuk menyantap kepiting — dengan kedua tangan! Oh, my… Tentu tidak enak makan belepotan di hadapan teman-teman baru dan Kendra Wong, perwakilan STB yang menemani kami siang itu. Toh, pada akhirnya, godaan daging kepiting membuat saya memilih cara tradisional. Hajarrrrr!

proof of visit

proof of visit

To keep your curiosity, of course I will continue this writing! Just hang out with me, dear readers!

Filed under: mengalami , , , , , , , , ,

It’s the Beautiful City…

It’s raining now. Actually I want to watch The Curious Case of Benjamin Button at a movie nearby today, but seems I have to wait until the rain’s gone. And, wait, Slumdog Millionaire is also available in big screen! Hm, should I go for another movie marathon?

But firstly I have to recover myself from the fatigue I suffered from last weekend. Yeah, two shortest days for a vacation — but never failed to be an exciting one. I spent entire Sunday night on bed, asleep and awake, awake and asleep… In the morning, I’m struggling to keep myself awake for work. *yawn*

Everybody I’ve been with at the vacation wish to spent more time in the beautiful city — or even stay for living. We’ve been around the city — the shopping malls, the famous street, the only night safari in the world (as the brochure says), the cozy boutique hotel, the foods… Not every each corner in the city, so that we say not having enough time to enjoy the city more.

And the city called Singapore…

Filed under: mengalami , , , ,

almanak

Februari 2009
M S S R K J S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

paling laku

  • Tidak ada

kumpulan

tentang saya…