Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Tamu Tak Diundang

I’ve got this thing. Mendadak dia datang begitu saja. Menginkubasi saya, menganggap tubuh saya sebagai inang yang bisa dimanfaatkan. Begitu daya tahan tubuh saya menurun, merajalelalah dia.

Itulah rupanya kenapa saya sudah merasa meriang sejak seminggu sebelumnya. Ternyata memang masa inkubasi tamu tak diundang ini, virus Rubella, berlangsung seminggu sebelum membuatmu demam dengan temperatur sedang — tidak dingin, tidak panas. Kepalamu akan terasa sakit, dan parahnya kelenjar getah bening di kepala bagian belakang — di dekat telinga — membengkak. Pantas saja ada urat yang menyembul di leher belakang saya, membuat saya khawatir apa saya cuma salah tidur atau terkena gejala koleseterol buruk.

Puncaknya, virus ini menimbulkan ruam di sekujur tangan dan kakimu. Sempat saya disarankan untuk tes darah, menghindari resiko terkena DBD, tapi ketika ruam itu muncul penyakit ini mulai jelas. Bukan ruam DBD, melainkan campak jerman — i wonder why should they named after that. Saya sudah membayangkan akan diserang ruam menyeramkan seperti penyakit campak yang menyerang saya sewaktu kecil. Tapi, untungnya ruam ini tak berkembang separah itu. Hanya seperti biang keringat. Setelah beberapa hari bertarung, pelan-pelan saya mulai pulih dan nafsu makan sudah kembali seperti sedia kala.

Nah, Rubella berbahaya jika diidap ibu hamil karena bisa menular ke janin yang dikandung dan bayi yang lahir beresiko cacat. Makanya, begitu ruam muncul, pengidap harus diisolasi paling tidak selama empat hari.

Meski mulai sembuh, tampaknya saya tetap harus menjalani tes darah. Seperti dianjurkan Ibunda, untuk mengetahui penyakit yang mungkin saya idap. Bisa jadi diabetes, siapa tahu. Mudah-mudahan tidak…

Filed under: mengalami , , , , , ,

Jadi Juga Movie Marathon

Tidak akan tahu kalau belum dicoba.

Sedikit sisa rasa meriang kemarin hampir membatalkan niat untuk movie marathon sore tadi. Agak berlebihan sih, karena sebenarnya saya pernah menonton dua film berturut-turut di layar lebar. Tapi, itu kan di Jiffest…

Saya sudah menyiapkan skenario yang terjadi bila si mbak penjaga loket iseng bertanya, “Satu tiket untuk dua film, mas?” Ya, mbak, saya mahasiswa lagi skripsi tentang representasi film Indonesia kontemporer. Itu jawaban yang terbaik yang bisa saya dapatkan.

Tapi, ternyata tidak ada masalah. Dua orang yang antri di depan saya juga nonton sendirian. Saya cuma agak rikuh saat membeli tiket ada anak-anak sekolahan yang nimbrung sekenanya mengintip layar komputer. Pengen tahu film apa saja yang akan saya tonton, kali…

Menu movie marathon edisi ini adalah film-film Indonesia. Film pertama yang saya tonton Pintu Terlarang. Di sebuah forum, Pintu Terlarang mendapat review yang oke. Saya tidak boleh ketinggalan, apalagi saya punya dosa saat membiarkan Kala lewat begitu saja [Apalagi kemunculannya yang hanya dalam hitungan hari di layar lebar nasional].

Namun, persis semalam sebelumnya saya menonton Lars and the Real Girl. Ehm, dua film berbeda semangat dengan jiwa yang sama. Terus terang saya lebih menikmati Lars and the Real Girl ketimbang Pintu Terlarang. Mood saya terganggu. Tapi, jangan ragu untuk menyaksikan Pintu Terlarang karena teka-teki yang dimunculkannya membuat rasa penasaran hingga akhir film.

Pintu Terlarang adalah ungkapan ketidakmampuan institusi sosial yang ada saat ini [mungkin mas Joko Anwar sebagai sutradaranya lebih ingin menyoroti pemerintah] untuk menata masyarakatnya. Ups, spoiler alert!

Film kedua adalah Perempuan Berkalung Sorban. Saya tak banyak berekspektasi untuk karya Hanung Bramantyo setelah film laris Ayat-Ayat Cinta. Ternyata dua film tersebut sangat berbeda. Ternyata pula, Hanung bisa berkarya lebih baik jika tidak kewalahan meladeni tuntutan produser.

Barangkali Perempuan Berkalung Sorban akan membuat Hanung disayangi setiap perempuan Indonesia. Penguras air mata kaum hawa sejati di bulan pertama 2009 ini. Selain berupaya menepis rasa iba terhadap Revalina S. Temat yang tak kunjung menderita nyaris sepanjang film, Perempuan Berkalung Sorban bisa bercerita realita di balik tembok pesantren. Dan, terutama tentang pertentangan nilai-nilai Islam dan modernisme.

Dua film ini mengakhiri hari saya, yang terlebih dahulu diawali dengan 10 jam terlelap tidur. Sementara saya menulis ini, saya masih menanti kapan The Curious Case of Benjamin Button tayang di layar lebar kita. Pagi tadi, informasi yang pertama saya dapatkan adalah keberhasilannya meraih nominasi Oscar terbanyak, 13 buah!

Kalau tidak segera tayang, saya ambil jalan pintas ke Ratu Plaza saja! Mudah-mudahan ada orang jaringan bioskop yang membaca blog ini.

Filed under: mengalami , , , , , , , ,

Lama-Lama Saya Jadi Insomnia…

Hujan turun sebentar tadi pagi. Sejuk. Seandainya pagi sepanjang hari, saya akan menghabiskannya dengan tidur nyaman di atas tempat tidur.

Kurang tidur belakangan ini. Jam biologis sedikit kacau karena jadwal pekerjaan yang sering membutuhkan kehadiran saya di tengah malam buta. Kalaupun tidak sedang tugas, saya menghabiskan malam dengan browsing internet atau nonton dvd. Lama-lama saya jadi manusia laptop… dan insomnia. Jadi jangan heran kalau nanti status Yahoo Messenger saya menjadi “Behold the Nocturnal”.

Kelelahan seperti penyakit yang mengintip. Saat kondisi tubuh menurun, kuman penyakit gampang masuk. Kemarin saya berambisi nonton ke bioskop, tapi menyerah karena ternyata kondisi badan tidak mendukung. Setelah diobati dengan tongseng kambing pedas yang disantap selagi hangat, plus teh tawar yang tak kalah hangatnya, kondisi badan terbantu. Syukurlah.

Tapi, saya masih merencanakan untuk movie marathon. Red Cliff-Perempuan Berkalung Sorban-Pintu Terlarang. Hm, teasing… Kira-kira apa ya komentar penjaga loketnya kali ini. “Mas udah gila, ya?”

Atau mbak-mbak anggun berseragam batik merah padam itu akan akan keluar meja loket untuk sekadar menghampiri saya. Meletakkan tangannya di atas bahu saya dan berkata, “Yang tabah ya, mas…”

Sial! Dinamika seorang single, ahem, insomnia…

Filed under: mengalami , , , , ,

The Year of the Slumdogs!

Seisi ruangan Beverly Hilton sontak membahana ketika Mickey Rourke berjalan menuju panggung. Tak pernah dibayangkannya bisa mendapat penghargaan bergengsi macam Golden Globe. Di tangga, Rourke sempat terpeleset dan dengan model pakaian serta rambutnya, Rourke lebih terlihat seorang rocker daripada penerima salah satu penghargaan yang paling ingin dimiliki insan film.

And he thanked all his dogs. “Sometimes when a man’s alone his dogs are all he’s got,” ujar Rourke tanpa ragu.

Rourke mendapat penghargaan untuk aktor terbaik di kategori drama melalui The Wretsler. Karya Darren Aronofsky itu metafora dari perjalanan karirnya. The Wrestler bercerita tentang seorang pegulat senior yang mendapat kesempatan terakhir untuk memulihkan kejayaannya. Rourke dikenal sebagai figur yang berani mengatakan tidak kepada industri sebesar Hollywood. Seperti hidup dalam dunianya sendiri, Rourke menolak tawaran membintangi film-film calon box office. Sempat terjebak krisis finansial, Rourke membintangi film-film semiporno. Rourke bahkan sempat menjadi petinju profesional.

“Seperti di dunia olahraga, butuh 30 tahun sekali untuk melahirkan pemain hebat. Darren adalah salah satunya,” puji Rourke.

Panggung di malam 11 Januari itu tak hanya milik Rourke semata. Hadirin tercenung, antara bingung dan sedih, saat Golden Globe dianugerahkan kepada mendiang Heath Ledger. Aktingnya di The Dark Knight tak terbantahkan lagi jadi yang terbaik — meski saingannya di nominasi serupa seperti Robert Downey Jr. bukan main-main. Akting psikotik Ledger nan prima sebagai Joker dijamin takkan terlupakan sepanjang masa.

“Kepergian Heath adalah kehilangan besar bagi industri film,” ujar Christopher Nolan, sutradara The Dark Knight, yang menerima penghargaan.

Ketika penghargaan serupa diberikan untuk Colin Farrell, Golden Globe 2009 sontak menjadi ajang bagi kaum pemberontak, urakan, mereka yang progresif. The year for the bad boysThe year of the slumdogs!

Slumdog?

Yeah, inilah bintang pagelaran Golden Globe tahun ini, Slumdog Millionaire. Film ber-setting kuis Who Wants To Be Millionaire? di India ini menjadi yang tersukses dengan memboyong empat penghargaan untuk score, screenplay, sutradara, dan film drama.

Lagi-lagi film berkisah tentang kaum progresif. Jamal Malik, seorang yatim piatu di Mumbai, mengikuti kuis cara cepat jadi jutawan tersebut dan keluar dengan 10 juta Rupee di tangan. Kontan saja Jamal dicurigai menempuh jalan curang untuk mendapatkannya. Ditangkap dan diinterogasi polisi, Jamal pun memaparkan metode kemenangannya. Hebatnya pula, Slumdog Millionaire dibintangi aktor/aktris yang belum dikenal Hollywood.

Danny Boyle memenangkan Golden Globe untuk film ini. Ingat semangat Boyle dalam The Beach atau Trainspotting? Boyle mungkin selalu berjiwa muda dalam setiap filmnya dan Slumdog Millionaire dianggap karya terbaiknya sepanjang karir.

Golden Globe dianggap ajang yang paling dekat untuk memprediksi pemenang Oscar. Nominasi Oscar sendiri baru diumumkan 22 Januari mendatang dan acara penghargaan digelar sebulan setelahnya, 22 Februari. Berbeda dengan Oscar yang cenderung konservatif dan konvensional, Golden Globe bersikap lebih berani. Tapi, tak jarang pemenang Golden Globe menjadi kandidat serius peraih Oscar.

Pada 1999, aktris pemenang Golden Globe Hillary Swank, bukan siapa-siapa saat itu, dinobatkan sebagai peraih Oscar untuk perannya sebagai androgini di Boys Don’t Cry. Swank berhasil menyingkirkan nominator favorit Annette Benning melalui American Beauty.

Secara tradisional, film seperti The Curious Case of Benjamin Button, Changeling, Revolutionary Road, atau bahkan Frost/Nixon lebih dapat meraih hati juri Oscar. Begitupun aktor/aktris yang membintangi film-film tersebut. Brangelina, anyone? Atau Frank Langella. Leonardo di Caprio. Kate Winslett. Cate Blanchett. Ron Howard. Sam Mendes.

Suka tidak suka, kejutan jarang terjadi di Oscar. Sebagian bilang, Oscar selalu terlambat. Ketika Moulin Rouge! dipuja-puji, Oscar baru memberikan penghargaan kepada film musikal lainnya setahun kemudian untuk Chicago. Ketika Denzel Washington mempesona dalam The Hurricane, Oscar memberikannya untuk peran dalam Training Day. Dan ketika seorang Alejandro Gonzalez Inarritu sudah mencuri perhatian sejak 2000 melalui Amores Perros, Oscar baru menghargainya melalui Babel tujuh tahun kemudian – dengan mengacuhkan 21 Grams pula.

Hingga nominasi Oscar diketahui pekan depan, biarkanlah slumdogs tersebut merayakan kemenangannya saat ini!

Filed under: opini , , , , , , , , , , ,

Film Layak Tunggu 2009!

Appaloosa

Berapa banyak manusia Indonesia yang menggemari genre western? Kalau ukurannya perilisan film yang dilakukan sebuah distributor utama negeri ini, tak banyak. Itulah kenapa Seraphim Falls hanya menghuni layar bioskop tak lebih dari seminggu — terlepas dari ceritanya yang memang sok filosofis. Contoh paling digdaya adalah 3:10 To Yuma yang dirilis di sini beberapa bulan setelah rilis di sana — ketika semua orang sudah memiliki DVD bajakannya. Saya ragu apa film ini bisa ditayangkan di Indonesia, terlebih karena jadwal edar di sana sudah sejak Oktober silam. Terpaksa saya menunggu sebulan lagi untuk mencarinya ke Ratu Plaza kalau begitu…

Coba simak sinopsis cerita Appaloosa: dua teman diminta seorang polisi kota kecil yang menderita karena berada di bawah tekanan seorang pemilik ranch berpengaruh. Klasik! Appaloosa diramaikan Jeremy Irons, Ed Harris (juga bertindak sebagai sutradara), dan Viggo Mortensen. Tapi, seperti sebagian fans lain, kenapa harus ada Renee Zellweger?!?

Gran Torino

Yep, it’s all because of opa Clint Eastwood. Tadinya saya tak begitu gemar dengan Eastwood. Kira-kira begini, Dirty Harry bisa bikin film macam apa sih?!? Tapi keapikan Mystic River mengubahnya — meski Million Dollar Baby juga tak terlalu masuk dalam benak saya. Gran Torino berkisah tentang pensiunan Perang Korea yang sudah lanjut usia dalam melawan prasangka rasialnya selama ini. Memang tidak ada kata terlambat untuk segala sesuatu dan cerita tentang seputar prasangka antarmanusia selalu membuat saya tertarik. Jangan lupakan juga karya Eastwood yang lain, Changeling — yang diyakini akan memberikan Oscar ke tangan Angelina Jolie.

Watchmen

Kalau The Dark Knight menjadi “Heat”, Watchmen adalah “Citizen of Kane” for superhero movie. Mungkin saya lebih menyukai film superhero yang dibawakan dengan tone gelap, ketimbang warna-warni megah seperti Spiderman, Iron Man (still like this movie, though) atau… Fantastic Four (gubrak!). Menarik juga melihat Wacthmen bertempur di tengah gempuran Marvel Film yang berambisi menyatukan pahlawan-pahlawannya dalam The Avengers dalam waktu dekat.

Public Enemies

Cukup tiga hal untuk membuatnya menjadi film yang paling saya tunggu tahun ini: Johnny Depp. Christian Bale. Michael Mann. Dan, disempurnakan satu nama lagi: Marion Cotillard! Enuff said!!!

Selain itu, pesona Wall-E masih menyisakan ketertarikan saya terhadap karya Pixar berikutnya. Tapi 2009 ini, saya kok ragu terhadap Up? Memang masih menganimasikan manusia, tapi premis ceritanya sekilas membuatnya lebih baik dibuat dalam versi live-action. Setelah ditinggal istrinya, yang memendam keinginan mengunjungi gunung di sekitar, karena kanker, seorang kakek berusia 78 tahun memutuskan terbang dengan menggunakan balon udara untuk memenuhi impiannya. Dalam perjalanan, sang kakek ditemani cucunya yang berusia 70 tahun lebih muda. Apakah butuh sebuah karya animasi untuk memanusiakan manusia? Saya ragu…Boleh juga kita sebut Defiance. Kapasitas Edward Zwick sebagai pencipta berbagai epik menarik (Glory, Legend of the Falls, Last Samurai, dan terakhir Blood Diamond) tak perlu diragukan lagi. Defiance bercerita tentang upaya penyelamatan tiga bersaudara Yahudi dari kekejaman Nazi di belantara Belarusia. Dalam sebuah teks, konon tiga bersaudara Bielski ini menyelamatkan lebih banyak jiwa ketimbang Oskar Schindler (Liam Neesen, Schindler’s List).

And, yeah, you must mention too about The Curious Case of Benjamin Button. Dalam sebuah majalah film terkemuka, karya David Fincher ini disebut takkan serunyam karya-karya terdahulunya (Fight Club, Seven). Lebih ramah, dan bercerita soal… romans. OMG. Filosofi ceritanya adalah melawan anggapan orang yang tentu sering kita dengar, “Mumpung masih muda, kenapa nggak?!?” Nah, Curious Case melawan premis ini dengan mengisahkan Benjamin Button yang perkembangan tubuhnya berjalan terbalik, dari tua ke muda. Apa yang terjadi kalau begitu? Sebagai pendorong utama untuk menontonnya, konon Curious Case akan menjadi kandidat kuat peraih Oscar tahun ini.

Not expecting much likes of Transformer 2 (Megan Fox dikecualikan), Wolverine, G.I Joe, Angel and Demon, Prince of Persia, Terminator Salvation — all those pop-corns, but still won’t miss some of that for sure.

Atau, sebut pula Valkyrie — jadwal edar yang terus mundur menebalkan sebuah pertanyaan, kenapa pihak distributor di sana tidak percaya diri dengan film ini? Akankah Bryan Singer flop?

Inglorious Basterds — I still enjoy Robert Rodriguez more than QT.

Terakhir, very unexpected movie of 2009: Harry Potter (Harry WHO?!?)…

But better expect the unexpected, guys!

Filed under: opini , , , , , , ,

almanak

Januari 2009
M S S R K J S
« Des   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

paling laku

  • Tidak ada

kumpulan

tentang saya…