Awalnya seperti yang saya lakukan dengan “10 Momen yang Tak Boleh Dilupakan di Lapangan Hijau 2008″, saya ingin menyusun daftar 10 besar film termegah 2008 ini. Tapi, selain karena saya ingin menyusun daftar ini karena saya benar-benar menyukainya, bukan karena tinjauan pihak lain, ada kesulitan menyusun hingga ke nomor 10.
Misalnya, There Will Be Blood. Jarang sekali Daniel Day-Lewis mau ambil bagian dalam sebuah proyek film. Catat, ini film keduanya setelah Gangs of New York, 2002 silam! Alur film ini berat, dragging, dari awal hingga akhir. Saya akui saya tidak menontonnya dengan baik. Tapi, setelah menonton saya baru menyadari film ini adalah sebuah mahakarya tersendiri dengan kualitas akting Day-Lewis yang mumpuni. Agak tidak adil saya memasukkannya dalam daftar, tapi saya tidak tuntas menontonnya.
Atau Iron Man. Saya menyukai film ini, meski hanya bertahan beberapa bulan sebelum The Dark Knight rilis. Iron Man film yang baik dan enak ditonton. Adaptasi yang tidak mengecewakan. Tapi, The Dark Knight — dan Heath Ledger — mengantar saya ke satu khazanah lebih tinggi. Saya harus memilih salah satu di antara dua judul ini, dan jadilah itu The Dark Knight. Iron Man, probably, is the best superhero movie of the year — because The Dark Knight is NOT a superhero movie.
Saya ingin pula memasukkan Gone Baby Gone. Meski sudah rilis sejak akhir 2007, secara teknis saya baru menyaksikannya 2008 ini. Setelah mempertimbangkan, akhirnya saya terpaksa menggusur film ini dari daftar.
Ada sederetan film lain yang belum saya tonton, seperti The Diving Bell & The Butterfly. Apalagi waktu akhir tahun seperti ini merupakan musim rilis film-film yang ingin mencuri nominasi Oscar tahun depan. Sebut saja Changeling, The Wrestler, The Curious Case of Benjamin Button, Waltz With Bashir, Revolutionary Road, atau Che. Judul-judul tersebut harus saya lewatkan.
Ah, saya jadi berpanjang lebar. Ayo, simak saja daftarnya!
4. Tropic Thunder;
Tidak semua orang menyukai selera humor Ben Stiller. Apalagi setelah Heartbreak Kid yang melempem itu. Stiller sering tampil sebagai protagonis yang terlalu yakin dapat menangani masalah yang dihadapinya, namun tak urung tertimpa kemalangan dari sikapnya itu. Slapstick adalah salah satu senjata andalan Stiller — terutama bila bekerja sama dengan Farelly Brothers.
Di genre komedi, reputasi Stiller mulai digerus sohibnya sendiri, Adam Sandler — yang juga tidak terlampau sukses 2008 ini dengan Don’t Mess With Zohan. Apalagi oleh gerombolan Judd Apatow yang masih merajai . Bahkan Kevin Smith pun “meminjam” Seth Rogen — bintang Knocked Up sekaligus penulis Superbad — untuk kembali bersuara dengan Zack And Mirri Make A Porno. Tapi, melalui Tropic Thunder, Stiller sukses menjadi raja genre komedi 2008!
Agak sulit dipercaya Tropic Thunder adalah buah arahan Stiller sendiri. Agak sulit dipercaya pula jika perhatian penonton nyaris tersedot penuh oleh figur Robert Downey Jr. sehingga baru tersadar saat menonton ada performa prima aktor kawakan lain, Tom Cruise, yang layak disanding sebagai “best scene stealer of the year“.
Tropic Thunder diarahkan Stiller sebagai parodi terhadap Hollywood sendiri. Saat menontonnya, saya tidak bisa memastikan kapan “film” ini dimulai, karena film ini bercerita tentang para pemain film yang mencoba bermain film. Film terus bergulir dengan skrip yang berbobot, yang sayang rasanya jika subtitle DVD kita harus dipindah set ke bahasa Indonesia.
Bobot itulah yang harus membuat Tropic Thunder masuk dalam daftar ini. Selain kadar komedi yang di atas rata-rata, penggambaran karakter benar-benar mendekati nyata sehingga penonton akan penasaran mengetahui setiap rinci tentang “Kurt Lazarus” atau “Len Grossman”. They should begin searching the web or simply stay tune on E!: True Hollywood Story.
3. Laskar Pelangi;
Hampir, atau malah bisa dikatakan tidak ada film Indonesia lain yang bisa mendekati kualitas Laskar Pelangi tahun ini.
Terpisah dari novel laris karya Andrea Hirata — jujur, memang agak sulit menceritakan film tanpa menyertakan novelnya — film garapan Riri Riza ini sangat menggugah. Pertama, dari keinginannya mengetuk hati penonton ada dunia lain yang tidak pernah menyerah dengan keadaan serbaminus. Kedua, hampir persis seperti poin pertama, Laskar Pelangi juga memberitahu masih banyak tema yang dapat diangkat ke atas layar lebar nasional. Dan, saudara-saudara, Indonesia tidak hanya Jawa.
Mau bilang apa lagi saya soal Laskar Pelangi…?
2. Wall-E;
Film animasi yang layak bertarung di nominasi film terbaik Oscar tahun depan.
Wall-E mengantarkan penonton ke tingkat selanjutnya; ketika Bumi tak bisa lagi dipakai sebagai tempat kehidupan dan ketika robot sudah mampu mengambil alih hakikat emosi manusia.
Wall-E, satu-satunya robot pembersih yang tersisa di Bumi, kesepian. Survival of the fittest; hidupnya selamat karena berhasil mengatasi segala macam kesulitan. Sedangkan majikannya, umat manusia, memilih hidup di ruang angkasa dengan Axiom, pesawat raksasa ala kapal Nabi Nuh, untuk suatu saat nanti kembali ke Bumi, jika kondisi sudah memungkinkan. Setelah lebih dari tujuh abad, Wall-E mendapatkan sosok teman pada Eve, robot yang ditugaskan Axiom untuk mencari tanda kehidupan di Bumi. Keinginan Wall-E untuk membunuh rasa kesepian ternyata berdampak lebih besar — jauh dari yang bisa dibayangkan olehnya.
Wall-E tidak banyak membutuhkan dialog untuk menyampaikan pesannya. Tidak banyak film yang mampu bicara banyak dan menarik minat penonton dengan mengandalkan bahasa gambar. You may say ignorance is a bless, but everyone won’t stop dreaming of a friend. Just like the robots, like Wall-E. And just like the Earth itself.
Wall-E for Peace Nobel, anyone?
1. The Dark Knight;
Seri Batman yang kedua dari Christopher Nolan ini akan banyak dikenang karena Heath Ledger. Pertama, karena kecelakaan yang merenggut nyawanya awal tahun ini. Dan kedua, tentu karena penampilan psikotiknya sebagai Joker.
Who’s the dark knight? Batman melihat Harvey Dent sebagai sosok yang dapat dipercaya untuk memerangi kejahatan, bukan seorang vigilante seperti dirinya. Tapi, ternyata keyakinan Dent dapat digoyahkan Joker dan menjadi tokoh yang abu-abu. “Hanya hukum probabilitas yang lebih pasti,” ujar Dent dalam sebuah scene yang paling dikenang.
Twist cerita yang asyik dan belum tentu dapat ditemukan di banyak film superhero lainnya. Banyak yang menganggap The Dark Knight adalah crime movie, seperti Heat seri kedua; tidak salah. Tidak ada yang dapat menyaingi keasyikan The Dark Knight sepanjang 2008 ini.
Sayang, saya hanya sempat menontonnya sekali di layar lebar.
Filed under: opini , film, film terbaik 2008, laskar pelangi, the dark knight, tropic thunder, wall e
anjangsana