Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Bukan yang Terakhir, Mudah-Mudahan

Di antara kepungan film nasional lain yang sedang ramai-ramainya bertemakan horor dan komedi jorok, Pencarian Terakhir menawarkan sesuatu yang berbeda. Film ini bertema petualangan, persisnya tentang kegemaran mendaki gunung. Memang bukan barang baru, tapi masih diabaikan. Entah kenapa menjual film dengan tema selain horor dan komedi jorok sekarang ini sama seperti dulu saat ada yang menjual air putih dalam kemasan. Banyak sisi cerita yang bisa diangkat ke dalam film-film nasional, tapi orang-orang memilih berkacamata kuda.

Saya tidak mengatakan Pencarian Terakhir adalah sebuah film sempurna atau malah sebuah adiluhung yang menghembuskan angin baru perfilman Indonesia. Tapi, tema yang jarang dikupas itu membuat saya merasa patut merayakannya dengan menyisihkan sebagian isi kantong untuk datang menonton ke bioskop. Demi perayaan itu pula saya memilih bersikap permisif untuk beberapa pertanyaan yang tersisa usai menontonnya.

Pencarian Terakhir bercerita tentang upaya Sita (Richa Novisha) untuk mencari adiknya yang menghilang saat mendaki Gunung Sarangan. Bersama tim SAR, Sita dibantu Bagus (Yama Carlos) dan Ujo (Alex Abbad), serta Tito (Lukman Sardi) yang pernah selamat saat hilang di gunung yang sama. Masih ada bumbu misteri dalam film. Tapi, ini relatif bisa dipahami. Kalau kamu mendaki gunung, banyak hal yang tak bisa dijelaskan logika. Wajar juga kalau sub-plot ini digunakan untuk memberi warna pada film karya Affandi Abdul Rahman ini.

Namun, kesan saya yang muncul saat film diselesaikan dengan akhir bahagia, mereka ternyata bukanlah pendaki gunung kawakan. Atau dalam kata lain, seperti pecinta alam yang tanggung. Padahal, Sita, Bagus, dan Ujo bekerja di bisnis fasilitas pelatihan outbond. Mungkin ini akibat film tidak terperinci. Tidak ditunjukkan potongan gambar saat para karakter utamanya mengikat tali dengan simpul-simpul tertentu atau bahkan memasang tenda, misalnya. Remeh, tapi lumayan bisa membangun theatre of mind penonton.

Pikiran saya juga mengganjal terhadap hubungan antara Tito dengan Sita yang tak pernah jelas dalam film. Sepertinya hubungan mereka lebih dari sekadar teman, tapi hingga akhir film itu masih praduga saya. Bahaya membiarkan penonton keluar bioskop dengan rasa penasaran seperti ini.

Lebih mengganjal lagi saat mengetahui ternyata Tito tidak pernah menceritakan traumanya kepada teman-teman dekatnya itu. Saat kehilangan arah waktu mendaki lima tahun sebelum alur film, untuk mencari pertolongan, Tito meninggalkan teman yang bernama Norman sendirian. Tito selamat, tapi Norman menghilang. Atau mungkin teman-temannya tak begitu peduli terhadap trauma itu. Film tidak fokus kepada trauma Tito, padahal justru hal itu bisa menjadi alasan kisah ini difilmkan.

Para pemain dapat menghayati karakter masing-masing. Richa Novisha makin dewasa; Yama Carlos dan Alex Abbad sangat cair; rambut gondrong Lukman Sardi membuatnya sulit dibedakan dengan Agus Kuncoro.

Dan, satu hal yang pasti, saya tetap tidak mau berjalan keluar bioskop dengan semua ganjalan itu, sehingga saya merekomendasikan kepada teman-teman untuk menontonnya ketimbang menghabiskan uang untuk film-film horor dan komedi jorok. Berangkat dari keberanian Pencarian Terakhir, mudah-mudahan kian banyak tema baru yang lahir demi perfilman Indonesia.

*Resensi film Pencarian Terakhir (Vandea Production, 2008).

Filed under: resensi , , , , , , , , ,

AC Milan, The Dream Team yang (Nyaris) Tak Terkalahkan

Mari kembali ke awal 1990-an.

Berkat prestasi menjulang AC Milan pada kurun waktu itu, setelah keterpurukan skandal Totonero, sorotan penuh sepakbola dunia mengarah ke Milanello.

Trio Belanda masih berada pada periode keemasannya. Ruud Gullit, Frank Rijkaard, dan Marco van Basten. Tiga pemain Oranje yang selalu diandalkan pelatih Arrigo Sacchi, dan tak tergantikan. Saat Sacchi meninggalkan posnya untuk menjadi arsitek timnas Italia pada 1991, pelatih tak bereputasi Fabio Capello muncul sebagai penerusnya.

Status kebintangan itu ternyata mengakibatkan kepongahan bagi skuad Rossoneri. Sebuah bumerang. Saat berupaya mempertahankan gelar raja Eropa pada Liga Champions 1991, para pemain bintang ini bertingkah.

Pada pertandingan perempat-final Liga Champions, Milan berhadapan dengan klub tak diunggulkan asal Prancis, Olympique Marseille. Klub kota pelabuhan itu dimiliki rekan Berlusconi, Bernard Tapie, yang juga berambisi merajai Eropa. Franz Beckenbauer, pelatih juara dunia 1990, direkrut menjadi arsitek tim. Para pemain andalannya seperti Carlos Mozer, Chris Waddle, Abedi Pele, Dragan Stojkovic, Basile Boli, dan kapten Jean-Pierre Papin.

Hasil di atas lapangan berbicara. Leg pertama di San Siro, kedua tim bermain imbang 1-1. Di stadion Velodrome, Milan sadar harus mendulang gol jika ingin lolos ke babak selanjutnya. Hingga dua menit sebelum pertandingan berakhir, Rossoneri tak kunjung mencetak gol. Entah kebetulan entah tidak, lampu di satu sisi stadion mati. Para pemain Milan protes dan emoh melanjutkan pertandingan. Wasit menolak dan meminta pertandingan diteruskan. Instruksi itu diabaikan para bintang Milan dan mereka memilih meninggalkan lapangan. Buntutnya, UEFA menganggap Milan kalah WO dan memberinya sanksi larangan bermain di Eropa selama setahun.

Bagaimanapun, Capello mengubah Milan menjadi tim yang tak terkalahkan selama 58 pertandingan antara 19 Mei 1991 hingga 21 Maret 1993. Milan pun tak butuh waktu lama untuk kembali ke kompetisi antarklub terbaik Eropa itu. Musim 1992-93, mereka kembali masih dengan status sebagai juara Serie A. Kekuatan tim tak jauh berubah, masih diperkuat serangkaian pemain berkualitas — asing dan domestik. Sebutan “The Dream Team” disematkan media untuk mereka.

Istilah tersebut sesungguhnya lebih dulu dipakai untuk menyebut tim bola basket Amerika Serikat menjelang Olimpiade Barcelona 1992. Sejak IOC menyetujui cabang bola basket dimainkan oleh pemain profesional — demi menyedot penonton — siapa lagi favorit penggondol medali emas kalau bukan AS, yang diperkuat jebolan NBA antara lain Michael Jordan, Earvin “Magic” Johnson, Larry Bird, Charles Barkley, Karl Malone, Scottie Pippen, David Robinson, Patrick Ewing, dan lain-lain. Kekuatan tim yang hanya pernah dapat dibayangkan di awang-awang.

Pers sepakbola gatal untuk menggunakan terminologi serupa. Dari sekian banyak klub kaya Eropa lain, dipilihlah Milan. Tak salah. Selain tampil tak terkalahkan, kala itu Milan diperkuat enam pemain asing sekaligus. Tak ada bandingannya di Eropa. Mohon maklum, sepakbola belum seperti sekarang ini. Jumlah pemain asing dibatasi maksimal tiga orang di atas lapangan, dan hanya klub kaya sajalah yang mau menghambur-hamburkan uangnya untuk memainkan tiga orang di lapangan dan mendiamkan tiga yang lain di bangku cadangan.

Trio Belanda masih memperkuat tim. Jean-Pierre Papin, Zvonimir Boban, dan Dejan Savicevic melengkapi slot yang tersisa. Milan juga mencetak rekor transfer termahal dunia saat itu dengan merekrut Gianluigi Lentini dari Torino senilai £13 juta.

Wajar kalau Capello dibebankan target untuk kembali menempatkan Milan ke tampuk yang sesungguhnya — raja Eropa. Mohon maklum lagi, selain masih ada dua kompetisi antarklub Eropa lain saat itu, Piala Winners dan Piala UEFA, Liga Champions hanya menyertakan juara kompetisi domestik. Target yang sepadan dengan materi tim.

Tanpa banyak kesulitan, Milan melaju mulus ke final Liga Champions dengan rekor kemenangan 100 persen. Dalam 10 pertandingan, Milan mencetak 23 gol dan hanya kebobolan sekali.

Siapa yang sanggup menghadang laju Rossoneri? Ya, lagi-lagi Marseille. Dilatih pelatih kawakan Raymond Goethals; Didier Deschamps, Alen Boksic, Rudi Voeller, Franc Sauzee, Jocelyn Angloma, dkk. lagi-lagi menjadi batu sandungan Rossoneri. Sundulan Basile Boli ke gawang Sebastiano Rossi di stadion Olimpiade, Muenchen, memupus ambisi itu. Milan, “The Dream Team”, runtuh.

Kelak Van Basten tidak pernah lagi turun ke lapangan hijau sejak final Liga Champions 1993. Pemain yang dijuluki fans Milan “San Marco” itu pensiun setahun setelahnya. Kelak pula gelar juara Marseille dicabut, tapi tidak diberikan kepada runner up, karena terbukti melakukan pengaturan pertandingan.

Awal musim 1993-94, skuad Milan dirombak besar-besaran. Capello dicibir, publik meragukan kapasitasnya mengulang sukses. Capello bergeming. Dua pemain favorit Sacchi, Gullit dan Rijkaard, dibuang. Gullit, yang vokal, dipinjamkan ke Sampdoria dan Rijkaard mudik ke Ajax Amsterdam. Selain Papin, Florin Raducioiu, dan Brian Laudrup, Capello lebih memercayakan Boban, Savicevic, dan pemain yang baru diboyong dari Marseille, Marcel Desailly, dalam skuadnya. Tapi, Milan sukses mempertahankan scudetto sekaligus mencetak rekor tiga musim berturut-turut menjuarai Serie A. Tinggal satu lagi tugas Capello, gelar Liga Champions!

Sempat tertatih-tatih dan tak terlalu meyakinkan, Milan mampu menekuk Paris St Germain — dengan George Weah dan David Ginola — yang lebih difavoritkan di semifinal. Lawan mereka di final Barcelona, yang dilatih Johan Cruyff dan diperkuat sederetan pemain hebat macam Ronald Koeman, Hristo Stoichkov, Romario, Miguel Angel Nadal, Josep Guardiola, dan Andoni Zubizaretta. Sebuah jelmaan “Dream Team” yang baru. Sialnya pula, Capello tak dapat memainkan duet pertahanan Alessandro Costacurta dan Franco Baresi di partai puncak karena cedera dan hukuman akumulasi kartu.

Athena pun menjadi saksi keruntuhan “Dream Team” yang lain lagi. Fans Barca yang mendominasi bangku stadion terbungkam oleh keakuratan strategi Capello. Setiap kali Ronald Koeman naik menyerang, setiap itu pula para pemain Milan memanfaatkan celah yang ditinggalkan. Daniele Massaro mencetak dua gol; Savicevic mencetak gol dari sudut mustahil; dan Desailly menuntaskannya. Milan menang besar 4-0. Pemain cadangan abadi macam Filippo Galli dan Stefano Nava pun turut merasakan indahnya menaklukkan Eropa pada sebuah malam gemilang di Athena.

Punah sudah era “Dream Team”. Setelahnya, Dekrit Bosman diberlakukan sehingga klub-klub bebas menggunakan pemain asal Uni Eropa dalam skuadnya. Pembatasan pemain asing dihapus. Seiring dengan itu, restrukturisasi liga domestik Inggris menjadi Liga Primer mulai menampakkan hasil. Modal membanjir dan membuat klub-klub Inggris kaya mendadak. Chelsea membangun timnya dari kualitas para pemain asing, begitu juga Inter Milan di Italia.

Seorang pria ambisius bernama Florentino Perez menghidupkan kembali tim fantasi versinya sendiri bersama Real Madrid pada pergantian abad. Tapi di tengah situasi sepakbola modern yang makin mengandalkan kekuatan modal, bagi mereka yang pernah menggilai masa lalu sepakbola, takkan pernah ada lagi “The Dream Team” yang sesungguhnya…

Filed under: opini , , , , , , , , ,

Ayodhya

Dia selalu merasa ada keterkaitan antara jarak, waktu, dan cinta.

***

Gadis tujuh belas tahun itu dengan gamang memasuki sebuah suite hotel berbintang lima di Jakarta. Di depan, ibunya masuk dengan langkah-langkah pasti. Sejenak, ibunya menoleh ke belakang dan mengajaknya untuk menghapus keragu-raguan yang masih membuat kakinya terasa berat.

Setelah tujuh belas tahun, baru kali ini gadis itu merasa benci kepada ibunya. Mungkin benci bukan kata yang tepat, melainkan takjub sekaligus heran. Darimana datangnya keberanian sang ibu untuk mengajaknya ke sini?

Hampir tujuh belas tahun gadis itu tak pernah lagi merasa kebencian yang teramat sangat. Mungkin saat ini dia sudah melupakannya, tapi lantas teringat gara-gara suite ini. Boneka kelinci merah muda. Boneka itu yang menenangkan kebenciannya saat itu. Matanya dulu berkaca-kaca. Ibunya sibuk bicara lewat ponselnya. Suaranya sesekali mengeras dan membentak lawan bicaranya. Ibu bertengkar lagi dengan ayah.

Selesai menelepon, ibu menatapnya. “Dya, kita pergi,” sahut ibu. Dan air mata berurai dari balik kaca mata hitam ibu.

Di mana boneka kelinci itu sekarang? Ayodhya seperti ingin membawanya ikut serta ke dalam suite ini. Dia tak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Boneka kelinci merah muda itu pasti memahami kegalauannya. Tapi, dia sudah entah ke mana. Mungkin sudah pulang ke negeri boneka. Seperti mereka berdua dulu, Ayodhya dan ibunya, kembali ke Jakarta untuk memulai hidup baru. Dan, tak pernah lagi melihat ayahnya.

Ibu menghampiri dan memeluk seorang pria paruh baya di ruang tamu suite. Rambutnya mulai beruban, kulitnya kuning langsat seperti kulit Ayodhya, dan matanya adalah mata Ayodhya. Mereka bertegur sapa dengan hangat dengan bahasa asing yang tak dikenalnya. Bahasa Thai. Pria itu tercenung ketika beradu pandang dengan dirinya. Kegamangan yang membekukan tubuh Ayodhya.

“Dya,” bujuk ibunya penuh kehangatan, “ayahmu menyesal dan ingin minta maaf kepadamu.”

Ayodhya tak pernah tahu harus menjawab apa. Pikirannya masih mencari-cari boneka kelinci merah muda itu.

***

Di antara jarak, waktu, dan cinta, dia ternyata menemukan kata keempat: maaf.

Filed under: cerita , , ,

Mission Accomplished!

La Paz, Bolivia.

Di negara kaya minyak yang dipimpin rezim sosialis itu James Bond niscaya mendapat semua jawaban yang diinginkan dan dicari-carinya. Baik secara profesional, maupun personal. Kehadirannya tidak diinginkan di Bolivia, MI6 mencarinya karena menghilang melawan instruksi organisasi intelijen Inggris itu dan negara. Hanya satu tujuan Bond, menciduk Dominic Greene — salah satu figur di balik sebuah organisasi rahasia yang dapat mengungkapkan rahasia kematian Vesper Lynd.

Bond memang belum dapat melupakan Lynd. Hubungan mereka tidak lagi sekadar dalam pekerjaan, tapi juga asmara. Pada pertemuan terakhir mereka, Bond tak juga dapat meyakinkan diri, apakah Lynd sekadar memanfaatkan dirinya atau benar-benar mencintainya. Rahasia itu ada di Bolivia.

M betul-betul kewalahan mengendalikan Bond. Serampangan, kasar, sering bertindak di luar jalur, dan kadang terlalu gegabah membuat keputusan. M selalu menasihati Bond agar melupakan masalah pribadinya dan fokus terhadap pekerjaannya. Paling gampang, jangan bunuh musuhmu kalau dia bisa memberikan informasi intelijen yang sangat berharga.

Quantum of Solace adalah peralihan karakter Bond dalam Casino Royale menjadi Bond dalam film-filmnya terdahulu: flamboyan, doyan sorotan, dan gemar Vodka Martini. Itu kalau film selanjutnya Bond memang diarahkan seperti itu. Untuk ukuran film Bond, Quantum lebih menjadi film biasa tentang dunia intelijen, alih-alih “film Bond” itu sendiri. Belum ada karakter Q di sini dan terlalu banyak adegan aksi untuk durasi film yang satu setengah jam saja.

Dalam Quantum, Bond diperkenalkan dengan sebuah organisasi rahasia bernama sama yang memiki jaringan dengan figur-figur berkuasa di dunia. Di Bolivia, dipimpin Dominic Greene, organisasi ini bekerja sama dengan seorang jenderal militer yang berhasrat melakukan kudeta terhadap rezim pemerintahan yang berkuasa. Imbalannya, sebidang gurun pasir luas. Bukan kandungan minyak yang mereka cari di gurun itu. Mereka tahu pasti komoditi lain yang sangat berguna bagi negara dataran tinggi seperti Bolivia. CIA, yang juga mengetahui rencana itu, malah berpangku tangan dan bersikap oportunis dengan memberikan keleluasaan bagi Greene untuk menjalankan niatnya. Imbalannya, jelas, kandungan minyak bumi untuk negara mereka tercinta.

Tempat manapun kamu bekerja, kamu selalu dituntut profesional. Tak terkecuali dalam organisasi intelijen. Di La Paz, Bolivia, dengan nalurinya Bond berupaya menghentikan rencana Greene sekaligus menyelesaikan misi pribadinya. Jawaban yang kelak didapatkan Bond akan meyakinkannya untuk melangkah di jalur nasib yang sudah ditentukan untuknya: menjadi seorang Bond. James Bond. Sang agen rahasia.

Filed under: resensi , , , ,

almanak

November 2008
M S S R K J S
« Okt   Des »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

paling laku

  • Tidak ada

kumpulan

tentang saya…