Masyarakat Indonesia sungguh terkenal dengan budaya yang luhur, pula ramah tamah. Saking ramahnya, bagi sebagian besar orang agak terasa mengganggu privasi — atau mungkin saya sendiri…?
Saya pernah berjanji akan langsung mengurungkan niat menonton di bioskop jika mbak penjaga loketnya sudah saking mengenal saya dan suatu hari akan nekad bertanya semacam, “Biasa kan, mas? Satu tiket?”
Seperti yang saya bilang tadi, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang sangat sosial. Aktivitas menonton pun dianggap merupakan aktivitas sosial, aktivitas anjang-sana, aktivitas interaktif. Padahal, hei, di dalam studio itu yang interaktif hanyalah film dengan penontonnya. Bukan sesama penonton. Itu salah satu alasan saya untuk tidak mau diganggu ketika mengkonsumsi film yang sangat layak ditonton. Tidak perlu ada teman. Selain repot mencocokkan jadwalnya, saya paling tidak mau tergantung orang lain. Lebih bebas sendiri. Ambil metro mini terdekat, turun di depan malnya, langsung ke loket, dan beli tiketnya! Tidak perlu tunggu-tunggu.
Ada dua bioskop yang sering saya sambangi demi niat benar-benar mengkonsumsi film-film layak tonton atau sekadar membunuh waktu. Hampir setiap ke sana, saya datang sendirian. Sebelumnya, saya pernah punya aturan yang saya sepakati dengan diri sendiri. Jangan pernah menonton sendiri untuk genre-genre berikut: animasi, komedi, dan commedy romance (com-rom).
Animasi. Bayangkan betapa anehnya dirimu yang menonton sendiri itu dikelilingi bocah-bocah yang sibuk dengan diri mereka masing-masing. Salah tempat? Yep! Lebih baik beli dvd-nya dan nonton sendiri di rumah. Demi Wall-E saya telah menggugurkan genre ini dari daftar.
Komedi. Sederhana. Kamu tentu tidak mau tertawa terbahak-bahak sendirian atau tertawa di tengah-tengah orang asing. Tidak, saya belum sampai ke tahap itu.
Com-Rom. Alasannya sama saja seperti di atas. Masih nekad menonton com-rom sendirian? Daripada gigit jari, mending mengalah pada jadwal teman-teman lain — itupun kalau memang berniat menonton film bergenre ini.
Tadi malam, saya mengunjungi salah satu bioskop langganan itu. Genre-nya aman, action. Langkah saya tidak seberat saat ingin membeli tiket Wall-E sebulan silam. Ringan dan pasti, saya menyongsong bibir loket.
“Max Payne jam 7, mbak…”
“Berapa orang?”
“Satu.”
Mbak penjaga loket mengutak-atik komputer layar yang menunjukkan posisi tempat duduk dalam studio. Relatif kosong. Saya menimbang-nimbang untuk memilih bangku.
“Satu orang ya, mas?” ucap mbaknya seperti tersadar — atau belum yakin mendengar dengan jelas jawaban saya sebelumnya.
“Iya.” Saya pun menunjuk posisi yang diinginkan.
“Max Payne. Jam 7. Satu orang ya, mas?”
Oh, my…
Jumat malam, tanggal 24. Tanggal gajian. Studio penuh terisi — mungkin untuk tiga studio dalam bioskop sepenuhnya terisi. Rata-rata penonton berseragam batik khas tiap Jumat. Saya memilih bangku H-9. Empat baris dari layar. Single. Sendirian. Puas?!?
Ada yang salah dengan itu…?
anjangsana