Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Raider of the Bukbers and the Morning’s Warteg

Yeah, it’s Ramadhan!

And, yeah, it’s special!

So special that I have to live it on myself, at the kos-kosan, alone waiting fasting-breaking time in the dusk and waking up myself into early breakfast, sahur, in the dawn.

Gotcha! Not that pethatic. Well, it happened to be these two days ago, when I spent most of the time by myself. But, oftenly I’m seeking to have bukbers, buka puasa bersama, only to let myself forgetting for a nick of time that after all I’ve to spent most of my time by myself.

Confused already?

Anyway, Ramadhan has became a festival nowadays. Read one of large national scale newspaper last Sunday, Ramadhan is not only one of religion tasks. It even already missing its cultural tradition slowly. Ahmad Tohari said that in the place he lived at, people used to make rooster’s cock-a-doodle-do, [cough] kukuruyuk, as a sign to start fasting — imsak — and evidence bats flying as a sign to break the fasting — berbuka. Nowadays, they simply watching television. Yeah, complete with all those sinetrons, quizzes, rough commedies…

Yeah, the world changes. But should it be changed for Ramadhan too?

I’ve got a plan to use the money I’d have from my office on every Lebaran comes, [cough] THR, and the plan is to spend it to things that I desire to have. I’m sure that’s not only me whom do feel it so. Are you gonna spend your THR on new shoes, clothes, or perhaps cellphones? Sure, you have right to use it. Your money anyway. But, it’s not the spirit of the Ramadhan. Oh my…

Ramadhan in modern world is a festival — is a commodification in a consumery world! Yeah, I’m one part of it.

But, let’s share a place to contemplate on ourselves… Let’s start transcending, do you feel grateful yet today? Do you happy? Are you satisfy with things happened in your life?

Arrrrgggghhhhh! Let’s stop it before I’m starting to be heard like a lonely grumpy young man.

Happy fasting, folks!

Filed under: celetuk , , , ,

Women, What Is It With Diamonds?

Yeah, what is it with those sparky little things?

We’ve seen already how they produce diamonds. Have you seen Blood Diamonds yet? Violence, and even blood, are the price for “the” most beautiful things in the world. But, it won’t stop the admiration.

Of course, I’m exaggerating, ladies. Just curious how the little thing could attract your eyes so much…

But, seriously, what is it with diamonds? How can you find the beauty from those little stones?

Well, I’m just curious…

Filed under: celetuk , ,

Mencintai Bumi

Saya punya dua penyesalan saat menonton Wall-E. Pertama, karena rilisnya terlambat di Indonesia. Dua bulan lebih untuk menunggu film produksi salah satu maestro film animasi Hollywood ini! Phewh! Film animasi lain, Kung Fu Panda, tidak mengalami penundaan rilis. Alasannya tidak saya ketahui. Penyesalan kedua, karena saya terlambat menontonnya. Baru sekira dua minggu berselang rilis baru hari ini saya menyempatkan waktu ke bioskop terdekat.

Dan, saya tidak menyesal memilih menonton Wall-E.

Pixar mempertahankan pendekatan yang selalu dipakainya dari tahun ke tahun. Sejak debut dengan Toy Story, berturut-turut Finding Nemo, The Incredibles, Cars (yang tak begitu sukses dua tahun lalu), dan puncaknya Ratatouille, mampu memesona penonton bioskop dengan pesan-pesan kekeluargaan.

Film-film Pixar sangat aman ditonton sekeluarga. Pesannya tidak sophisticated, cerita tidak terlalu berlebihan, dan sarat muatan pendidikan. Wall-E, tahun ini, membawa penonton naik kelas ke sekolah unggulan dengan kurikulum yang disempurnakan.

Delapan abad mendatang, bumi menjadi tempat sampah raksasa. Penghuninya sendiri menghabiskan hidup di sebuah kapal ruang angkasa raksasa, Axiom, lengkap dengan segala macam fasilitas penunjang kehidupan. Hidup demikian mudahnya, untuk minum, makan, bahkan mengembangkan payung untuk berjemur – semua disediakan dan dibantu robot-robot canggih. Manusia modern adalah manusia pemalas, bertubuh luar biasa tambun, selalu duduk tak bergerak, dan dangkal.

Untuk membersihkan planetnya, manusia menggunakan robot Wall-E (google saja untuk mengetahui singkatannya :p). Saking rusaknya lingkungan, bumi menjadi tandus. Tak ada lagi tanaman yang tumbuh, dan iklim menjadi serbaekstrim. Secara berkala, Axiom mengirimkan robot Eve (lagi-lagi, google saja buat yang penasaran singkatannya!) untuk menyelidiki serta menemukan jejak kehidupan di planey yang ditelantarkan itu. Kebetulan, Wall-E yang kesepian menyimpan tumbuhan yang dicari-cari Eve. Misi Eve selesai, tapi tidak demikian dengan Wall-E. Teman tidak mudah dicari, dan ide ini yang membawa Wall-E bertualang ke ruang angkasa, mendarat di Axiom yang supercanggih, serta mengubah kehidupan umat manusia.

Semua orang, bahkan robot, tidak bisa hidup sendirian. Itu pesan utamanya. Tapi tak kalah pentingnya untuk menjaga lingkungan, mencintai bumi – karena tujuan utama manusia hidup bukanlah “surviving”, melainkan “living”.

Wall-E berhasil menyampaikan dua pesan ini dengan sempurna. Karenanya, kursi film animasi terbaik tahun ini layak ditempatinya. Kita lihat saja bagaimana pendapat juri Academy Award tahun depan.

Rating: 4,5 dari 5 bintang.

*resensi film Wall-E (Pixar-Disney, 2008)

Filed under: resensi , , , , , ,

almanak

September 2008
M S S R K J S
« Agu   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

paling laku

  • Tidak ada

kumpulan

tentang saya…