Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Hidup Terus Berlanjut

Sengaja saya menggali agak ke belakang, setelah tergopoh-gopoh menjelajahi toko langganan di Ratu Plaza, saya memboyong 21 Grams untuk dinikimati di rumah demi memahami pesan di balik publikasi dan popularitas luar biasa dari Babel belakangan ini.

Kedua film di atas, serta Amores Perros, disutradarai oleh Alejandro Gonzalez Inarritu beserta kolaborator setianya, penulis Guillermo Arriaga. Babel adalah film terakhir yang saya tonton ketika Jiffest minggu lalu. Gawatnya, saya gagal menangkap pesan yang ingin disampaikan Inarritu. Gawatnya lagi, film ini disebut-sebut melengkapi trilogi karya sutradara asal Meksiko ini sekaligus ditahbiskan sebagai karya terbaiknya.

Lupakan dulu chemistry antara Brad Pitt dan Cate Blanchett, atau aksi gemilang Reiko Akuki sebagai gadis Jepang yang bisu-tuli di Babel. Menurut saya, justru melalui 21 Grams Inarritu mampu menyampaikan pesannya dengan sangat jelas. Film 21 Grams menggunakan teknik editing yang tidak menghiraukan ikatan ruang dan waktu. Hebatnya, dengan teknik ini penonton dibuat penasaran dan tetap setia duduk menonton mencari jawaban atas petunjuk yang diberikan Inarritu. Ibaratnya, 21 Grams adalah labirin raksasa. Satu potongan scene di dalamnya serupa sebuah kunci untuk membuka pintu yang menuntun penonton memasuki ruangan yang terhubung dengan ruangan lainnya. Masing-masing ruangan ini menghubungkan jalur antara pintu masuk dan keluar labirin. Wow!

Sulit memilih mana yang berperan lebih baik: Sean Penn, Naomi Watts, ataukah Benicio del Toro. Nama terakhirlah yang berhasil meraih Oscar, Penn dan Watts masuk nominasi Aktor dan Aktris Pendukung Terbaik. 21 Grams menceritakan tentang betapa berharganya hidup. Seperti yang diceritakan di akhir film, judul tersebut menunjukkan fenomena berkurangnya berat manusia sebesar bobot serupa ketika dijemput sang maut.

21 Grams bercerita tentang tiga karakter yang terhubung berkat jantung yang didonorkan mendiang suami Cristina [Watts] kepada Paul [Penn]. Paul, penderita gagal jantung akut, bertekad mencari tahu siapa sang donor yang menyelamatkan nyawanya. Pelan-pelan dia mendekati Cristina yang depresi dan mereka berdua pun saling jatuh hati. Cristina bertekad membalas dendam kepada John [del Toro] yang menabrak hingga tewas suami dan kedua anaknya.

Dengan komprehensif, Inarritu melengkapi cerita dengan latar belakang ketiga karakter tersebut. Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Seperti yang digambarkan dalam satu scene yang sulit dilupakan, John yang religius berbalik “menyalahkan” Tuhan atas kecelakaan tersebut. Memang yang ada hanya hidup. Di balik semua kejadian yang menimpa, manusia harus terus bertahan hidup. Film ditutup dengan narasi yang memukau, “Berapa bandingannya berat 21 gram itu? Seberat koin. Seberat seekor burung. Seberat sebatang cokelat”. Betapa berharganya sebuah kehidupan itu. Dan, kematian adalah bagian dari kehidupan. Bagi mereka yang hidup, hidup harus terus berlanjut.

Solid! Meski sungguh demikian terlambat, 21 Grams berhasil menjadi salah satu film terfavorit saya pribadi. Untuk dibandingkan dengan Babel, penyampaian pesan dalam 21 Grams lebih berhasil. Setelah ini, saya memang harus menemukan kembali makna dan pesan Babel. Sebagian sudah ada dalam kepala saya, tapi maaf buat semua popularitas tadi, 21 Grams masih lebih baik. Brilian!

* Review film 21 Grams (Alejandro Inarritu, 2003)

Filed under: Uncategorized

Mimpi

Saya ingin berbagi sebuah lagu yang selalu ingin saya dengar tiap kali bangun tidur. Terutama kalau didengar pagi-pagi [kapan ya saya bisa bangun pagi lagi?]. Intro lagu ini langsung menghentak; memancing detak adrenalin di dalam pembuluh darah yang sedang beku. Ditambah vokal Dolores O’Riordan yang melengking lagi menyayat, lengkap sudah sarapan motivasi yang selalu saya butuhkan untuk memulai hari.

Lagu ini bercerita tentang mimpi. Saya menemukannya sangat tak terlupakan dalam adegan pembuka film romantis You’ve Got Mail karya Nora Ephron. Lagu diperdengarkan ketika dua karakter utama yang dimainkan Tom Hanks dan Meg Ryan memulai hari mereka; bangun tidur, berbenah, dan keluar tempat tinggal masing-masing untuk berangkat kerja. Kedua karakter sempat berpapasan tapi mereka saat itu belum saling mengenal. Ketika bisnis toko buku raksasa milik Hanks makin menggurita, mereka tidak hanya saling kenal tapi juga terlibat konflik, dan ujungnya terlibat hubungan asmara.

Lagu dan film itu bercerita tentang mimpi. Hanks dan Ryan dipersatukan oleh mimpi mereka: meneruskan dan menyelamatkan hidup dengan melakukan pekerjaan yang mereka sukai, yaitu menjadi pemilik toko buku. Lebih dari itu, mereka saling jatuh cinta karena berangkat dari sebuah mimpi. Sebuah kemustahilan, bagi kaum pragmatis. Namun, kejujuranlah yang membuka semua kemungkinan. Dan, perubahan hidup tak terelakkan.

Ehm, baiklah. Kembali ke tujuan semula, saya ingin berbagi lirik lagu tersebut. Sayang situasi tidak memungkinkan saya memasukkan lengkap dengan versi audionya. Mungkin saya bisa menggunakan situs “M” [beberapa teman sudah memprovokasi saya], tapi saya masih terlalu malas dan sayang meninggalkan halaman situs ini…

===

“Dreams” – The Cranberries

Oh, my life is changing everyday,

In every possible way.
And oh, my dreams, it’s never quite as it seems,
Never quite as it seems.

I know I’ve felt like this before, but now I’m feeling it even more,
Because it came from you.
And then I open up and see the person falling here is me,
A different way to be.

I want more impossible to ignore,
Impossible to ignore.
And they’ll come true, impossible not to do,
Impossible not to do.

And now I tell you openly, you have my heart so don’t hurt me.
You’re what I couldn’t find.
A totally amazing mind, so understanding and so kind;
You’re everything to me.

Oh, my life,
Is changing every day,
In every possible way.

And oh, my dreams,
It’s never quite as it seems,
‘Cause you’re a dream to me,
Dream to me.

Filed under: Uncategorized

Jiffest 2006, Jiffest Pertama Saya

Berapa film yang kamu tonton Jiffest tahun ini? Delapan, sepuluh, tiga belas, atau tujuh belas? Saya cuma lima dan saya senang bisa menyerap banyak cerita baru untuk menambah wawasan perfilman dan menyajikan film-film “bagus” bagi saya.

Jujur, saya mengawali pengalaman pertama menonton Jiffest dengan pesimisme. Saya tidak yakin sempat menonton semua film yang tiketnya sudah saya pesan sejak dua minggu sebelum hari pembukaan. Nyatanya, saya berhasil. Kendala pekerjaan yang saya takutkan sebelumnya ternyata tidak terjadi.

Boleh jadi saya termasuk generasi Jiffest-ers yang beruntung karena tahun ini festival difokuskan ke dua tempat bergaya: Djakarta Theatre dan eX. Terima kasih untuk kelompok 21 Cineplex. Selain tempat pemutaran di pusat kebudayaan yang terpaksa tidak saya pilih karena semata-mata faktor lokasi.

Lima film yang saya tonton bervariasi. Breaking and Entering dan Russian Dolls yang beraroma Eropa; meski berbeda gaya penuturan, Breaking and Entering karya Anthony Minghella sederhana nan khidmat, sementara Russian Dolls karya Cedric Klapisch sangat kental rasa Perancis-nya. Dua film Asia Timur: A Stranger of Mine dan 3-Iron; membuktikan karya putra Asia tak kalah dari belahan dunia lain. Salut buat Kenji Uchida dan Kim Ki-duk. Satu lagi, sekaligus film penutup Jiffest bagi saya, Babel karya Alejandro Inarritu. Meski sang sutradara berkelas festival, tapi buat saya, ini representasi karya Hollywood. Sedikit jengah dengan besarnya perhatian untuk Babel, padahal – lagi-lagi menurut saya – ceritanya tak setangguh empat film lain yang saya tonton. Sampai hari ini, terus terang saja, saya masih mencari-cari letak kekuatan Babel. Formula yang dipakai Inarritu sayangnya sudah sering dipakai dan jamak buat sebuah film “bagus” untuk ukuran saat ini.

Lima film yang saya tonton memiliki jadwal tayang prime-time. Saya sebut begitu karena saya memang sengaja memilihnya pada hari libur: Sabtu-Minggu, kecuali 3-Iron yang tayang tengah minggu, hari Rabu. Studio selalu penuh sesak dengan banyak orang yang mengantri. Persis dan sebelum jadwal tayang film pilihan saya, ada jam tayang khusus film tanpa harga tiket masuk alias gratis. Mereka yang berminat harus mengantri sejam sebelum waktu pemutaran demi mendapat tiket. Tak beda, antrian untuk film dengan harga tiket masuk pun lumayan panjang. Apalagi karena penonton tak diberikan kesempatan memilih tempat duduk pada saat membeli tiket. Saya tidak tahu kesulitan atau masalah teknis yang dialami panitia sehingga tidak mampu memberlakukan sistem pemberian tempat duduk ketika penonton membeli tiket. Agaknya ini bisa menjadi perhatian panitia untuk perbaikan tahun depan.

Demi menyaksikan antusiasme pengunjung Jiffest 2006, saya membagi mereka ke dalam lima klasifikasi penonton:
Pertama; Mereka yang menonton Jiffest karena benar-benar cinta film, suka film, maniak film… Mereka bersyukur festival film yang menjadi barang langka di negeri ini paling tidak masih bisa berlangsung setahun sekali. Mereka berharap, Indonesia memiliki lebih banyak festival film dan bermimpi memiliki sebuah yang bisa menandingi Festival Film Seoul. Tidak usah jauh-jauh ke Cannes atau Sundance dulu…
Kedua; Mereka yang rela datang karena Jiffest adalah sebuah tren, sebuah gaya hidup yang patut diikuti. “Secara lagi ngetren gitu lho…,” tukas mereka. Ditambah dengan tulisan Kompas edisi Minggu, 17 Desember lalu, yang menyatakan penyelenggaraan Jiffest memang sengaja dibikin akrab dengan pasar. Pemilihan beberapa film di antaranya adalah sebagai bentuk kompromi terhadap pasar. Pemilihan Babel sebagai film pembuka barangkali tak lepas dari faktor ini. Tak terelakkan.
Ketiga; Mereka yang datang karena ikut-ikutan teman. Ketimbang tidak punya acara dan duduk manyun di rumah, mereka mengiyakan ajakan teman-temannya untuk memenuhi ruang tunggu studio. Masalah tidak dapat tiket urusan nanti, yang penting ramai.
Keempat; Mereka yang nonton karena gratis. Ini Indonesia, bung! Tidak ada yang tidak menyukai barang gratisan. Kapan lagi bisa mencicipi masuk ruangan bioskop senyaman Djakarta Theatre [HTM normal Rp 35 ribu] dan eX [Rp 60 ribu] tanpa harus mengeluarkan kocek dari dalam dompet. Modalnya hanya mengantri dan, voila, masuklah ke dalam bioskop. Jangan heran tidak berapa lama sebagian dari mereka sibuk mengobrol sendirian, cekikan tidak karuan, atau bahkan meninggalkan film di tengah cerita dengan mumet di kepala dan menganggap jalan-jalan di mal lebih bermakna ketimbang menyaksikan film entah-apa-maksudnya itu.
Kelima; Mereka yang datang dan menonton karena menggantikan janji [atau, ehm, kencan] yang batal. Mereka biasanya mendapat panggilan atau pesan pendek mendadak pada hari pemutaran yang kurang lebih berbunyi “Gw kelebihan tiket Jiffest, elo mau ntn brg gw gak?”. Beda tipis dengan kelompok keempat, kalau tidak punya acara lain, mereka dengan senang hati menjadi pahlawan penyelamat si empunya “tiket lebih”. Saya berpesan, perlu diwaspadai motivasi ajakan sang pahlawan di kemudian hari. Apakah mereka betul-betul tanpa pamrih?

Ini pengalaman Jiffest kali pertama buat saya. Sebagian mungkin menganggapnya cuma pamer keberhasilan dan kebanggaan mengikuti arus gaya hidup urban di ibukota. Sebagian lagi memandang saya benar-benar menyukai film lebih dari sekadar tontonan untuk menghibur – kalau ada yang beranggapan demikian saya berterima kasih banyak. Sebagian boleh menganggap saya tidak punya urusan lain sehingga melebih-lebihkan perihal Jiffest ini dan memakan banyak ruang dalam blog ini.

Dari kesemuanya, saya banyak berterima kasih pada seorang teman yang bersedia menemani saya untuk semua film yang saya tonton. Tak enak menjadikan dirinya pengganti janji yang batal terlaksana, tapi toh dia menanggapinya dengan senang hati. Phew, lega rasanya… Bagi saya, dialah pahlawan sebenarnya untuk Jiffest tahun ini.

Tahun depan, Jiffest [mungkin] datang lagi. Sepanjang masa penantian, saya hanya bisa menghibur diri dengan wacana-wacana film “bagus” melalui fasilitas keping DVD seharga tujuh ribuan yang biasanya saya dapatkan di Ratu Plaza atau di dekat rumah. Meski begitu, tak pelak, Hollywood lagi-lagi akan banyak memberikan warna untuk film yang akan saya tonton. Terima kasih untuk panitia Jiffest; sampai tahun depan!

Filed under: Uncategorized

Lingkaran yang Sempurna

Bagi mereka yang sependapat, film tidak hanya untuk sekadar dilihat dan didengar. Film adalah karya utuh pembauran dari banyak elemen: skenario, sinematografi, editing, dan pemasaran. Dari sudut pandang ini kilm karya Kenji Uchida, A Stranger of Mine, adalah sebuah karya yang mendekati kesempurnaan.

A Stranger of Mine bercerita tentang kisah sederhana perjuangan seorang laki-laki yang kesulitan mendapat cinta sejatinya. Itu hanya benang merahnya [maaf, spoiler ini tak terelakkan untuk ditulis]. Uchida menggunakan tiga sudut pandang utama: sang lelaki pecundang bernama Miyata, detektif teman Miyata bernama Kanda, dan bos yakuza Asai. Untuk menyambung tiga sudut pandang ini, Uchida menggunakan dua karakter perempuan: Maki dan Ayumi. Film dibuka dengan prolog ketika Maki dengan tegar membuat keputusan sulit, yaitu meninggalkan tunangannya dan pergi tanpa tujuan. Dia mencoba meyakinkan diri dapat hidup sendirian sampai akhirnya bertemu dengan Miyata dan Kanda di sebuah restoran. Dari sini kisah mengalir, sambung menyambung untuk menjadi cerita yang lengkap.

A Stranger of Mine sesungguhnya memang genre film yang menyambung potongan demi potongan kisah menjadi sebuah keutuhan. Penggila film tak lagi asing dengan gaya penceritaan ini sejak Quentin Tarantino sukses mengacak stereotipe ala Hollywood lewat Pulp Fiction satu dasawarsa silam. Uchida bukan Tarantino. Tapi hebatnya, Uchida paham memanfaatkan setiap aspek film untuk menanamkan gambar yang utuh di dalam kepala penonton. Cara bercerita Uchida menunjukkan kepiawaiannya menggunakan pelbagai elemen seperti sudut pandang cerita, mata kamera, mimik muka, dialog, musik, bahkan gerakan kaki!

Menonton A Stranger of Mine seperti menggambar sebuah kurva bulat yang tertutup rapat. Dalam bahasa sederhana, film ini sebuah lingkaran yang sempurna manakala Uchida berhasil membuat titik penutup bertemu dengan titik pembuka filmnya. Sulit mencari celahnya hanya dengan sekali menonton. Luar biasa!

* Review film “A Stranger of Mine” (Kenji Uchida, 2005)

Filed under: Uncategorized

Akhir Sebuah Sabtu

Sejak dua minggu lalu, saya memulai sebuah janji dengan akhir yang sudah saya duga. Meski begitu, saya butuh satu setengah jam – untunglah – untuk mengisi kembali kekosongan yang muncul dalam rongga dada begitu janji itu berbalas dengan kekecewaan.

Langit berpihak kepada saya sepanjang Sabtu ini – setidaknya di ibukota. Tak turun pula hujan yang saya khawatirkan ketika memulai janji itu. Namun nasib baik memang tak dapat berjalan baik pula tanpa kesungguhan dan keberuntungan. Dengan pagi yang agak gopoh, saya melewati pengalaman udara pertama saya di sebuah radio ibukota dengan relatif lancar. Saya akui saya gugup. Apalagi, saya membenci figur seorang komentator sepakbola yang seperti-tahu-segalanya-tapi-dengan- komentar-yang-membabi-buta-dan-berbusa-busa. Setelah mencicipi posisi sebagai komentator, saya akui saya sudah menanda tangani kontrak untuk bergabung dalam kelompok komentator sepakbola yang seperti-tahu-segalanya-tapi-dengan-komentar-yang-membabi-buta- dan-berbusa-busa. Sejam pun terasa lebih cepat dari biasanya. Benar kata teman saya, cuap-cuap itu zat adiktif nan berbahaya – mestinya BPPOM mulai mengawasi hal ini.

Setelahnya, saya hinggap di pameran buku nasional di bilangan Senayan hanya demi melewati satu persatu stand dengan melengos kiri ke kanan. Memang saya salah memilih hari, Sabtu siang untuk sebuah pameran buku niscaya diisi dengan pengunjung berlalu-lalang yang padat. Belum lagi mereka yang rela membawa serta anak-anaknya demi mencurahkan kasih sayang pada sang buah hati yang ingin membeli buku cerita sesuai keinginannya. Saya berkata kepada diri sendiri, “Saya ke sini untuk melihat buku atau melihat orang-orang sih?!” Tidak betah, saya beranjak ke agenda utama hari ini. Yap, sebuah festival film tahunan ibukota yang diselenggarakan di sebuah bioskop di bilangan Sarinah.

Dengan menumpang busway, tak butuh lama mencapai tempat itu. Istirahat sebentar dan menikmati ketoprak jalanan dengan sebotol teh [kaget juga dengan harga pengganjal perut ini Rp 5.500 saja], saya menanti kedatangan teman-teman di dalam bioskop. Paling tidak, saya takkan menjalani Sabtu ini sendirian saja. Plan B yang berjalan persis di ujung Plan A saya. Posisi kursi sebelah yang sedianya diperuntukkan baginya direposisi oleh seorang teman lama – sekaligus juru selamat saya. Usai film, saya bergabung dengan rombongan teman-teman menghabiskan petang. Kesana-kemari-tak-tentu-arah tak masalah, karena memang tujuan saya untuk selekasnya membunuh waktu.

Menjelang pukul 11 malam, saya tiba di rumah demi menghadapi tumpukan pekerjaan yang sengaja saya tunda kerjakan hari ini. Belum lagi saya sentuh mereka sampai detik ini. Besok dan seminggu ke depan, saya akan mulai berdarah-darah lagi; pekan ini juga tugas seorang pewarta harus paripurna. Saya menghidupkan komputer, meregangkan badan, menulis basa-basi tak perlu ini ke dalam blog, dan mungkin setelahnya akan berpikir menyelesaikan sebagian pekerjaan. Dan, dua menit lagi, Sabtu ini segera berakhir.

Tak usah sedih, sidang pembaca. Saya memang kecewa, tapi cukup sampai Sabtu ini saja.

Filed under: Uncategorized

almanak

Desember 2006
M S S R K J S
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

paling laku

  • Tidak ada

kumpulan

tentang saya…