Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Duapuluh Lima

Hidup tidak pernah menjadi ampas, Adinda
melainkan benih yang harus terus disiram

Pada akhirnya, semua yang menjadi
milik masa lalu adalah milik masa lalu
Mereka tidak bisa menjadi bagian hidup
sejak sekarang sampai nanti

Adalah semua hutang yang tidak pernah kubayar
duapuluh lima tahun ini
Pelan-pelan kulunasi satu persatu
tahun keduapuluh enam ini

Hidup harus terus belajar tanpa henti, Adinda
maka berhenti diam, ayo menjadi bagianku

*tribute to 25th year of a human-being hawe*

Filed under: Uncategorized

Jum’at Terakhir untuk Ramadhan

Jum’at yang genap keempat di bulan suci Ramadhan ini. Orang-orang di luar sana sudah sibuk sendiri-sendiri. Sudah beli baju baru? Pakai setelan apa untuk Idul Fitri nanti? Sudah ngepak barang buat mudik? Masak apa saja? … Ada sejuta pertanyaan setiap detik mulai hari ini.

Kenapa orang memilih mudik? Memilih pulang? Ada apa di kampung halaman? Mengapa mereka rela berjam-jam mengantre lewat jalan yang tidak pernah dipikirkan untuk diperbaiki? Mengapa mereka masih tetap mau pulang dari tahun ke tahun?

Ada yang bilang Lebaran hanya sebuah tradisi. Tidak lebih. Adalah festival liburan tahunan yang menyuguhkan perputaran rupiah luar biasa. Di mana ada keramaian, di situ uang berserak.

Pertanyaan saya tetap satu, mengapa orang pulang ke tempat yang dianggapnya rumah? Apakah mereka takut kesepian?

Pengalaman saya Lebaran tahun kemarin kebetulan seperti itu. Menghabiskan Hari Raya sendiri saja di rumah. Sementara seluruh keluarga pulang ke Jambi. Memang sangat tidak mengenakkan. Apalagi membayangkan mereka di sana bisa bertemu kehangatan sanak famili. Tidak enak tapi tetap saja berkesan. Kok berkesan? Biar saja kalau terdengar sedikit aneh. Hahahaha…..

Lebaran adalah hari penuh kemenangan atas fitrah seorang anak manusia. Tetapi, sekali lagi, mengapa orang-orang harus pulang?

Pertanyaan ini masih mengganggu pikiran saya.

Filed under: Uncategorized

Satu Bintang di Langit Kelam

Angkasa tanpa pesan
merengkuh semakin dalam
Berselimut debu waktu
kumenanti cemas

Kau datang dengan sederhana
Satu bintang dilangit kelam
Sinarmu rimba pesona
dan kutahu tlah tersesat

Kukejar kau takkan bertepi
Menggapaimu takkan bersambut
Sendiri membendung rasa ini
Sementara kau membeku

Khayalku terbuai jauh
Pelita kecilmu mengalir pelan
dan aku terbenam

Redup kilaumu tak mengarah
Jadilah diriku selatan
Namun tak kau sadari
hingga kini dan nanti

*Rida Sita Dewi / 199?

Filed under: Uncategorized

Review ‘Crash’: Membentur Stereotipe

Film menakjubkan ini dibuka dengan kalimat yang mengesankan. “Di kota sebesar Los Angeles, orang-orang sudah tidak pernah lagi bersentuhan. Mereka bahkan sengaja membenturkan tubuh kepada orang lain hanya untuk merasakan sentuhan.”

Tema film ini adalah benturan (crash). Tema ini klise. Berapa banyak film yang pernah menceritakan tentang pluralisme masyarakat? Namun dengan fokus pada masalah rasialisme, film ini dibungkus dengan sajian yang enak dinikmati. Menonton film ini, saya ingat apa yang pernah disampaikan Pram dalam Bumi Manusia, bahwa manusia tidak bisa hidup lepas dari prasangka. Hal yang paling mudah dilakukan seseorang dalam hidup bermasyarakat adalah berprasangka. Harus diakui, kita pasti memiliki prasangka terhadap kelompok etnis (konteks Indonesia: suku bangsa) tertentu.

Stereotipe ini tak terhindarkan, bahkan di negara semaju Amerika sekalipun. Malah yang ada, stereotipe selalu dilahirkan dan diwariskan dari waktu ke waktu. Misalnya, kelompok ras Afro-American dan Latin-American yang memiliki stereotipe miring, berandalan biangnya kriminal. Sekali lagi, meminjam pendapat Pram, manusia tidak boleh hidup tanpa prasangka.

Alur cerita Crush dibuat melingkar. Satu sama lain karakternya dibuat saling bersentuhan dan bersinggungan, konsisten pada judul. Setengah bagian pertama film, penonton dijejali dengan pengenalan beberapa karakter dalam film. Pasangan Brendan Fraser yang pengacara wilayah dan Sandra Bullock sang istrinya yang ‘alergi’ dengan orang Afro-American dan Latin. Pasangan Terence Howard yang seorang produser televisi dan istrinya yang berpendidikan Thandie Newton. Pasangan polisi senior Matt Dillon dan Ryan Philippe. Pasangan detektif Don Cheadle dan Jennifer Esposito. Pasangan kriminal yang Afro-American. Bapak anak keturunan Persia. Serta seorang Latin yang sangat mencintai anak perempuannya.

Setengah film terakhir menceritakan perubahan pandangan yang dialami masing-masing karakter. Contohnya, bagaimana mendendamnya Newton pada pelecehan Dillon ketika melakukan penggeledahan serampangan di pinggir jalan. Ironisnya, Dillon pula yang menyelamatkan Newton saat mengalami kecelakaan mobil di hari berikutnya. Perhatikan juga bagaimana pandangan positif polisi muda Philippe tentang kelompok minoritas yang berubah drastis di akhir cerita.

Akhir cerita Crush mengisahkan sebuah perubahan pandangan dari masing-masing karakter. Mereka yang buruk menyadari kelakuannya, dan menjadi berbaik hati. Sebaliknya mereka yang semula berpikiran positif, ternyata harus syok karena rupanya dunia tidak bisa dipandang demikian. Pada akhirnya, hidup jalan terus. Mereka berubah, tapi toh prasangka tetap saja akan hidup. Hidup takkan lagi pernah sama esok hari.

Ponten 8 dari skala 10 untuk Crush! Ini film drama terbaik yang pernah saya tonton sepanjang tahun ini. Highly recommended!

Filed under: Uncategorized

Bimbang dan Ragu

Bingung!

Dilanjutin apa nggak..
Nggak dilanjutin malah pengen diterusin.

Dilupain apa nggak..
Dilupa-lupain malah tambah inget.

Ditinggalin apa nggak..
Sudah sok tegar, tapi apa sudah yakin betul?

Kalau aja masa lalu nggak pernah ada.
Nggak mungkin kan?

Tauk, ah! Bingung!

Filed under: Uncategorized

almanak

Oktober 2005
M S S R K J S
« Sep   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

paling laku

  • Tidak ada

kumpulan

tentang saya…