Agustus 31, 2005 • 10:53 am
Membuat keputusan dalam hidup itu ibarat membeli tiket untuk sekali jalan. Kita memang sudah tahu tujuan kita, apa yang akan kita lakukan di sana, dan apa harapan kita di tempat tujuan. Tapi tidak pernah ada yang tahu apa yang akan terjadi. Tujuan itu sendiri adalah sebuah ketidak pastian. Sialnya, tiket sekali jalan adalah tiket sekali jalan. Sekali dipakai ia hangus seketika. Tiket yang sama tidak bisa digunakan dua kali. Apalagi, kita belum tentu mendapatkan tiket dengan tujuan kembali ke tempat semula di kesempatan berikutnya. Semua pilihan setelah pilihan sebelumnya akan menjadi serbaterbatas.
Dalam The Terminal, Viktor Navorski tidak pernah kembali pulang. Tiket yang digunakannya hanya mengantarkannya pada sebuah negeri asing yang penuh ketidak pastian baginya. Begitu sadar dirinya tidak bisa ke mana-mana akibat paspornya tidak berlaku lagi, Viktor Navorski memilih untuk menunggu. Menunggu dan menunggu saja. Berapa banyak orang yang menghabiskan waktu dalam hidupnya hanya untuk menunggu sesuatu yang tidak pasti? Viktor Navorski memilih menunggu dengan menyimpan harapan. Hanya harapan yang bisa menghangatkan kita pada kenyataan. Kita selalu memilih untuk berharap dalam kondisi apapun, walaupun kita tahu kenyataan bisa saja berkhianat.
Lalu, sampai kapan orang harus menunggu? Segala sesuatu tentu harus ada batasnya. Seorang teman pernah memberi nasehat, “Semua akan masih terus berjalan, sampai kau sendiri yang berhenti”. Berharap boleh jalan terus, tapi kita perlu tahu kapan harus berhenti berharap hal yang sama dan memikirkan jalan lain. Sebuah hal bisa terus kita kejar sampai kita terjebak menjadi obsesif sekalipun, peduli apa hasilnya. Tapi ketika kita tahu kita sudah harus berhenti di satu titik, logika harus maju paling depan. Kalau sudah begitu, saatnya sudah tiba untuk membuat keputusan lagi.
Kembali lagi soal tiket sekali jalan yang rupanya sudah terlanjur saya genggam di tangan. Saya tentu tidak bisa menggunakan tiket ini untuk kembali mundur. Pantang langkah bersurut ke belakang. Tiket yang satu terpakai sudah, dan satu tiket lagi sudah ada di depan hidung saya. Apakah sudah saatnya saya menggunakan tiket yang berikutnya, itulah pertanyaannya. Padahal tiket selanjutnya ini sudah menunggu sekian lama untuk digunakan. Ia merayu-rayu, “Gunakan saja diriku, ambil tempat dalam perjalanan, dan nikmati saja turbulensinya”.
Sebagai penutup, ada kutipan dari si bocah Santiago dalam Sang Alkemis yang berkata, “Tidak ada yang lebih diinginkan seorang laki-laki selain keinginan untuk kembali pulang setelah pergi jauh”. Dengan begitu kita bisa tetap berharap mudah-mudahan nanti mendapat pilihan tiket dengan tujuan tempat semula. Tiket untuk pulang. Walaupun tentu saja tiket itu, sekali lagi, hanya sekali jalan. Orang boleh ingin kembali pulang, namun kali ini rasa-rasanya saya lebih memilih terus pergi. Kelak kalau ada, saya ambil jalan memutar. Semoga…
Filed under: Uncategorized
Agustus 24, 2005 • 1:56 pm
Dapatkah aku mencintaimu
Tanpa alasan
Tanpa syarat
Tanpa kewajiban
Tanpa ketakutan
Tanpa harapan
Sebab mencintai hanya untuk mencintai
dan mencintaimu adalah mencintaimu
Filed under: Uncategorized
Agustus 13, 2005 • 7:43 am
Setelah dua orang pengamen dan seorang pengemis, penjual itu unjuk ke muka penumpang. Dari dalam bungkusan besar karung plastik yang dibawanya, ia mengeluarkan benda seperti kaki meja yang bulat lonjong. Benda itu terbuat dari plastik, bagian tengahnya lebih tebal dari ujungnya. Kedua ujungnya mengecil, salah satu ujung menumpul dan satu sisi lainnya ditempeli keping bundar seperti koin terbuat dari logam murahan.
Tak menahan rasa penasaran penumpang lebih lama lagi, penjual itu mulai berkoar.
“Bapak, Ibu, dan Saudara, dulu kalau Anda masuk angin dikerok dengan uang koin logam. Akibatnya sering kulit menjadi lecet akibat pinggiran koin yang bergerigi. Untuk itu di sini saya tawarkan alat yang membantu kerokan Anda, lebih mudah dan lebih praktis. Lihat saja, bundaran logam ini pinggirannya halus, jadi tidak akan membuat lecet kulit Anda. Pemakaiannya tinggal digosok saja ke punggung Anda. Selain itu, kegunaan lain alat ini seperti Anda lihat di ujung yang lain. Ujung yang tumpul ini bisa Anda gunakan sebagai alat refleksi selintas saat dalam perjalanan, misalnya. Tekan saja ujung tumpul ini di titik-titik refleksi tubuh Anda. Nah, sebagai kompensasinya, barang yang khusus di-IMPOR ini cukup Anda tukarkan seharga lima ribu rupiah saja. Mari, siapa yang mau? Bapak di belakang, mungkin?”
Aku terpaksa menahan geli di dalam hati.
Filed under: Uncategorized
Agustus 6, 2005 • 2:29 pm
Aku jadi ingat. Suatu ketika, di dalam sebuah bis menuju perjalanan pulang. Penumpang penuh sesak dan udara menjadi pengap. Aku duduk dengan nyamannya di dekat jendela yang terbuka lebar sambil terkantuk-kantuk dibuai angin sore. Bus berjalan dan berhenti. Berjalan dan berhenti lagi. Bergantian menjemput penumpang yang mencegat tak tentu di pinggir jalan. Sore ini persis waktunya gadis-gadis hijau pulang sekolah. Berseragam putih biru mereka berebutan naik bus. Tidak pernah kuduga sama sekali, kepadatan kerumunan orang yang berdiri seketika menyeruak dan memberi jalan pada sebuah pesona misterius. Pesona itu dimiliki hanya satu di antara gadis hijau itu. Ah, andai kutahu namamu. Lihat dirimu. Kecil mungil tak berdosa. Paras khas kota kembang ini. Siapa dikau, begitu hijaunya sanggup mengacaukan benakku. Keindahan duniawi dan kedamaian surgawi datang bersamaan menyapa inderaku. Aku ingat, Gadis! Ini kali kedua. Waktu kemarin lagi, persis sore ini, kau juga datang menerobos kerumunan menjajakan pesonamu. Ini sebuah permainan berbahaya, Gadis. Mungkin tidak sepatutnya kau yang hijau datang menggoda seperti itu. Apakah kau abai pada keindahanmu sendiri? Keindahan sekilas dapat meluluh lantakkan barikade yang paling kuat sekalipun. Sungguh polos benar dirimu. Dan aku berkata pada diriku sendiri, apabila telah tiba kali ketiga, ini bukanlah kebetulan lagi. Percayalah pada sumpahku, Gadis! Sampai kau siap esok nanti, aku akan benar-benar datang. Tunggu diriku.
Kemudian, waktu sampai pada hari ini. Lima atau enam tahun kemudian. Kesempatan ketiga itu tak pernah sempat terkabul. Lalu, haruskah aku bersyukur, Tuhan?
Filed under: Uncategorized
Aku adalah aku. Di sinilah aku berada saat ini. Bersama kumpulan jenisku. Di antara para bajingan! Kaum pemuja tubuh telanjang wanita. Keindahan yang hakiki terselubungi oleh nafsu. Mereka sekumpulan hewan yang mendesis-desis liar. Pandangan mata tak berhenti memakan hidup-hidup tubuh mangsanya. Aku ingat sebuah pembenaran awam, imajinasi lebih liar daripada kenyataan. Mereka sadar apa yang sedang mereka bayangkan. Sebuah sumpah serapah yang dipersiapkan untuk dipersembahkan bagi kaum ibunya. Seolah seorang wanita terlahir hanya untuk mendapat caci demi maki. Aku muak, lantas aku pergi. Aku bukan kumpulan itu! Di pinggir jalan sembari menanti kereta pulang, seorang gadis berdiri bertudung langit malam. Sendirian. Menoleh manja kepadaku, merengek minta ditemani. Parasnya kuntum yang sedang mekar. Pesonanya mengundang kekaguman. Duhai, indahnya! Aku tak tahan diri, segera kuhampiri. “Kau cantik sekali”, desisku. Hewan malam lari liar berlepasan dari kandangnya sudah.
Filed under: Uncategorized
anjangsana